bismillah31

Bismillah
aku melangkah

bismillah
benihlah
bismillah
tumbuhlah
bismillah
buahlah

bismillah
rata segala gunung
bismillah
timbun segala jurang
bismillah
tenang segala laut
bismillah
reda segala badai

bismillah
lunak segala baja
bismillah
jinak segala singa
bismillah
henti segala benci
bismillah
ke hulu segala rindu
bismillah
ke muara segala cinta

(diambil dari kumpulan puisi husni djamaluddin, “indonesia, masihkah engkau tanah airku?” terbitan pustaka jaya, 2004.)

sajak di atas mengingatkanku bahwa sedari kecil kita sering diajarkan untuk membaca kalimat suci itu (bismillah) sebelum melakukan sesuatu: ketika mau makan, waktu mau naik kendaraan, saat hendak bepergian dsb. barangkali dengan menyebut nama tuhan kita lantas ingat bahwa selalu ada ‘campur tangan’ Allah dalam setiap langkah kita. atau bisa juga dengan membaca bismillah, kita lalu membawa Sang Khalik dekat2 kita, mengiringi setiap jengkal langkah sehingga kegiatan kita senantiasa terbimbing dan selamat dari godaan setan.

bismillah kumelangkah, bismillah kita melangkah…
bismillahirrahmanirrahim…

i-feel-you

jalan kembali menuju cinta

aku hidup dengan bayang-bayang di kepalaku
aku tidur dengan awan di atas ranjangku
aku telah lama sendiri
terjebak di masa lalu, merasa tak mampu beranjak

kusembunyikan segala harap dan mimpiku
kalau-kalau aku memerlukannya kelak
kusisihkan waktuku
untuk membersihkan sebuah ruang kecil di sudut pikiranku

yg kuingin lakukan adalah menemukan jalan kembali menuju cinta
aku tak bisa mewujudkannya tanpa satu jalan kembali menuju cinta
oh oh oh

kupandang bintang tapi ia menolak bersinar
kucari-cari tapi pertanda tak dapat kutangkap
aku tahu ia ada di sana
di suatu tempat pasti ada sesuatu untuk jiwaku

kucari seseorang yang menerangiku dengan cahaya
bukan seseorang yg menginginkanku hanya utk menghabiskan malam
dengannya
beberapa arahan bisa kupakai
dan aku terbuka terhadap masukannya

yg kuingin lakukan adalah menemukan jalan kembali menuju cinta
aku tak bisa mewujudkannya tanpa satu jalan kembali menuju cinta
dan apabila kubuka hatiku kembali
aku berharap kau ada di sana bersamaku sampai akhir
oh, oh, oh, oh, oh

ada kalanya aku tak tahu apakah ini nyata
atau apakah seseorang merasakan yg aku rasa
aku butuh inspirasi
bukan sekadar negosiasi

yg kuingin lakukan adalah menemukan jalan kembali menuju cinta
aku tak bisa mewujudkannya tanpa satu jalan kembali menuju cinta
dan apabila kubuka hatiku untukmu
kuharap kau tunjukkan padaku apa yg mesti kulakukan
dan apabila kau bantu aku untuk memulainya lagi
kau tahu aku akan berada di sana untukmu hingga akhir nanti
oh, oh, oh, oh, oh

terjemahan bebas dari lagu “way back into Love” ciptaan Adam Schlesinger. Lagu ini muncul sebagai OST Music and Lyrics (2007).  Terima kasih kpd dikku yg mengenalkan lagu ini padaku. Kenapa ya lagu ini mengena, di hatiku, dan hatimu? : )

yang tak henti kusyukuri adalah perjumpaan denganmu
yang tak habis kunikmati adalah saat-saat bersamamu

ingin jadi manusia yang lebih baik.

ingin merasa cukup dengan pemberian Tuhan.

ingin bersyukur.

dan berbahagia.

mungkin boleh diibaratin kalo pernikahan adalah seperti sembahyang. kalo begitu maka tahapan yang dijalani pasangan sebelum menikah adalah antara lain menata niat hati, menyucikan diri, dan memenuhi syarat2nya. diupayakan dengan baik seraya selalu ingat bahwa hal pokok bagi mereka berdua adalah sembahyangnya.

aku dulu biasa ngelakuin apa-apa sendiri karena belum nemuin partner yang kurasa tepat untuk berbagi. tapi dalam hati aku selalu menyediakan tempat utk seseorang yang, aku yakin, akan dikirimkanNya padaku. sekarang aku yakin dialah orangnya, dan berdoa, semoga demikian adanya.

Surat kepada Bunda:
Tentang Calon Mantunya

Mamma yang tercinta,
akhirnya kutemukan juga jodohku
seseorang yang bagai kau:
sederhana dalam tingkah dan bicara
serta sangat menyayangiku.

Terpupuslah sudah masa-masa sepiku.
Hendaknya berhenti gemetar rusuh
hatimu yang baik itu
yang selalu mencintaiku.
Karena kapal yang berlayar
telah berlabuh dan ditambatkan.
Dan sepatu yang berat serta nakal
yang dulu biasa menempuh
jalan-jalan yang mengkhawatirkan
dalam hidup lelaki yang kasar dan sengsara,
kini telah aku lepaskan
dan berganti dengan sandal rumah
yang tenteram, jinak dan sederhana.

Mamma,
Burung dara jantan yang nakal
yang sejak dulu kaupiara
kini terbang dan telah menempuh jodohnya.
Ia telah meninggalkan kandang yang kaubuatkan
dan tiada akan pulang
buat selama-lamanya.

Ibuku,
Aku telah menemukan jodohku.
Janganlah kau cemburu.
Hendaknya hatimu yang baik itu mengerti:
pada waktunya, aku mesti kaulepaskan pergi.

Begitu kata alam. Begitu kau mengerti:
Bagai dulu bundamu melepas kau
kawin dengan ayahku. Dan bagai
bunda ayahku melepaskannya
untuk mengawinimu.
Tentu sangatlah berat.
Tetapi itu harus, Mamma!
Dan akhirnya tak akan begitu berat
apabila telah dimengerti
apabila telah disadari.

Hari Sabtu yang akan datang
aku akan membawanya kepadamu.
Ciumlah kedua pipinya
berilah tanda salib di dahinya
dan panggillah ia dengan kata: Anakku!

Bila malam telah datang
Kisahkan padanya
riwayat para leluhur kita
yang ternama dan perkasa.
Dan biarkan ia nanti
tidur di sampingmu.

Ia pun anakmu.
Sekali waktu nanti
ia akan melahirkan cucu-cucumu.
Mereka akan sehat-sehat dan lucu-lucu.
Dan kepada mereka
ibunya akan bercerita
riwayat yang baik tentang nenek mereka:
bunda-bapak mereka.

Ciuman abadi
dari anak lelakimu yang jauh.

Willy.

(WS Rendra dalam Empat Kumpulan Sajak, Pustaka Jaya, Cetakan Keenam, 1990)

Lagu

polos bola matanya
bergerai rambut panjangnya
diakah kekasih sang dewa
yang terjaga dari noda

pasti harum jiwanya
seperti bunga-bunga
pasti sahaja hatinya
suci dan mulia

di timur matahari bangkit
mendaki bukit demi bukit
dalam sukma ia pun terbit
menyembuhkanku dari sakit

Tuhan, bisakah kiranya
kelak kukecup keningnya
dan di telaga bening matanya
aku membasuh luka

(ean, surabaya 76)

SAJAK BUAT ISTRI YANG BUTA
DARI SUAMINYA YANG TULI

Maksud sajak ini sungguh sederhana.

Hanya ingin memberitahumu bahwa baju
yang kita kenakan saat duduk di pelaminan
warnanya hijau daun pisang muda, tetapi
yang membungkus kue-kue pengantin
adalah daun pisang tua. Memang keduanya
hijau, tetapi hijau yang berbeda, Sayang.

Di kepalamu ada bando berhias bunga,
kau merasakannya tetapi mungkin tidak
tahu bunga-bunga itu adalah melati putih.
Sementara di kepalaku bertengger sepasang
burung merpati, juga berwarna putih.

Aku selalu membayangkan, hari itu, kita
seperti sepasang pohon di musim semi.
Kau pohon penuh kembang. Aku pohon
yang ditempati burung merpati bersarang.

Aku lihat, orang-orang datang dan tersenyum.
Mereka berbincang sambil menyantap makanan.
Tapi aku tak dengar apa yang mereka bincangkan.
Maukah kau mengatakannya padaku, Sayang?

(Aan Mansyur, 2007)

puisi favorit saya beberapa waktu terakhir. sederhana namun memikat. dalam sajak-sajaknya yang kerapkali tampak bersahaja, aan berhasil mengungkapkan sisi2 yang tak biasa dari rasa cinta. siapa sempat terpikir untuk menulis sebuah ungkapan cinta seorang tuli, kepada pasangannya, yang kebetulan buta. saya tahu ketidaksempurnaan sepasang suami istri (yang satu tuli yang satu buta) barangkali tak perlu diartikan harafiah, namun pun bila kita mengartikannya dengan cara demikian , efek yang timbul dari pembacaan akan sama kuatnya. dari puisi yang cukup pendek ini saya pribadi sadar betapa penginderaan manusia (merasa, melihat, dan mendengar) adalah perkara keseharian, begitu sepelenya sehingga kerap terlupakan untuk dijumput dan dijadikan bahan sajak. tapi aan memikirkannya. ia peduli. ia menyadarkan kita bahwa cinta, meski habis2an dijarah, takkan habis digali. selama masih ada manusia, cinta tak akan mati.


menjadi tua bersamamu*

aku ingin membuatmu tersenyum saat dirimu bersedih
memapahmu saat sendimu terasa sakit
aku sangat ingin menjalani tua bersamamamu

aku akan memberimu obat saat perutmu nyeri
menyalakan api saat tungku perapian padam
ah, akan terasa menyenangkan sekali untuk menempuh masa tua denganmu

aku akan merindukanmu
mengecupmu
memberimu jaketku saat dirimu merasa kedinginan

membutuhkanmu
menyuapimu
bahkan membiarkanmu memegang remote control
sementara merelakanku membereskan cucian piring di dapur
merebahkanmu di ranjang saat kau terlalu banyak minum

aku bisa jadi lelaki yang menempuh hari tua denganmu
aku ingin menjalani hari tua bersamamu

* terjemahan bebas dari lagu grow old with you dari film the wedding singer

: terubozu

Next Page »