SAJAK BUAT ISTRI YANG BUTA
DARI SUAMINYA YANG TULI
Maksud sajak ini sungguh sederhana.
Hanya ingin memberitahumu bahwa baju
yang kita kenakan saat duduk di pelaminan
warnanya hijau daun pisang muda, tetapi
yang membungkus kue-kue pengantin
adalah daun pisang tua. Memang keduanya
hijau, tetapi hijau yang berbeda, Sayang.
Di kepalamu ada bando berhias bunga,
kau merasakannya tetapi mungkin tidak
tahu bunga-bunga itu adalah melati putih.
Sementara di kepalaku bertengger sepasang
burung merpati, juga berwarna putih.
Aku selalu membayangkan, hari itu, kita
seperti sepasang pohon di musim semi.
Kau pohon penuh kembang. Aku pohon
yang ditempati burung merpati bersarang.
Aku lihat, orang-orang datang dan tersenyum.
Mereka berbincang sambil menyantap makanan.
Tapi aku tak dengar apa yang mereka bincangkan.
Maukah kau mengatakannya padaku, Sayang?
(Aan Mansyur, 2007)
puisi favorit saya beberapa waktu terakhir. sederhana namun memikat. dalam sajak-sajaknya yang kerapkali tampak bersahaja, aan berhasil mengungkapkan sisi2 yang tak biasa dari rasa cinta. siapa sempat terpikir untuk menulis sebuah ungkapan cinta seorang tuli, kepada pasangannya, yang kebetulan buta. saya tahu ketidaksempurnaan sepasang suami istri (yang satu tuli yang satu buta) barangkali tak perlu diartikan harafiah, namun pun bila kita mengartikannya dengan cara demikian , efek yang timbul dari pembacaan akan sama kuatnya. dari puisi yang cukup pendek ini saya pribadi sadar betapa penginderaan manusia (merasa, melihat, dan mendengar) adalah perkara keseharian, begitu sepelenya sehingga kerap terlupakan untuk dijumput dan dijadikan bahan sajak. tapi aan memikirkannya. ia peduli. ia menyadarkan kita bahwa cinta, meski habis2an dijarah, takkan habis digali. selama masih ada manusia, cinta tak akan mati.

September 18, 2008 at 12:32 pm
ternyata.. pak ibnu… orang gak akan menyangka klo bapak.. puitis.. he he
“just kiding”, pizz