Musika


album baru sigur ros

sigur ros meluncurkan album musik barunya, ‘hvarf-heim’ menyusul peluncuran film pertama mereka ‘heima’.

dibuat dengan semangat film dokumenter, ‘heima’ adalah kisah perjalanan band ini selama dua minggu melakukan pertunjukan gratis seantero islandia. banyak lokasi unik menjadi setting film itu; kota-kota tua, taman nasional, aula kecil, hingga tempat-tempat tak terjamah di ketinggian islandia yang terkenal buas. film ini juga merekam pertunjukan terbesar dalam karir sigur ros -juga dalam sejarah musik islandia- yakni saat mereka bermain di daerah asal mereka yaitu reykjavik.

‘heima’ adalah sebuah potret intim yang tak hanya merekam sigur ros dari jarak yang amat dekat namun juga memperlihatkan islandia sebagai suatu tempat yang terisolasi, ajaib, dan seperti tak tersentuh manusia.

sementara itu, album musikal ‘hvarf-heim’ adalah kumpulan lagu-lagu rarities dan beberapa lagu sigur ros dari album terdahulu dalam versi akustik.

cukup satu kata untuk menggambarkan album ini: fantastis. semenjak pertama mendapatkannya dari internet, saya tak berhenti mendengarkan album dua sisi ini. sisi pertama, ‘hvarf’ (yang kalau diindonesiakan kira-kira berarti ‘tempat berteduh’) menampilkan 5 lagu indah yang nyaman di telinga. ambil lagu-lagu terbaik dari album agaetis byrjun, ( ), dan takk, maka seindah itulah lagu-lagu rarities ini. meski tak paham dengan kata-kata yang diucapkan/digumamkan jonsi, vokalis sigur ros yang gay itu, nuansa magis dari lagu-lagu itu akan tetap sampai pada pendengar. (bukankah musik adalah bahasa universal?).

sedang dalam sisi ‘heim’ (berarti ‘rumah’ dalam bahasa indonesia), memperlihatkan bahwa kadang sebuah lagu bisa lebih bernyawa saat dibawakan secara live. keenam lagu di sini menunjukkan hal itu. simak ’staralfur’ dan ‘von’ dan anda akan tergetar oleh nuansa galau dan suram yang menggayut sepanjang lagu. dan harus diakui, betapa mengagumkan penghayatan jonsi pada lagu-lagu itu.

afterall, ini adalah salah satu album terbaik sigur ros. bagi anda penyuka sigur ros namun sering pusing dengan beberapa lagu eksperimental mereka, album ini akan segera merebut telinga, dan hati anda.


efek rumah kaca

selalu ada yang bernyanyi dan berelegi/ di balik awan hitam.

potongan lirik lagu ‘desember’ di atas kiranya cukup mampu menggambarkan kehadiran efek rumah kaca di panggung musik indonesia saat ini.
di tengah gelombang band-band baru dengan musik serba mendayu dan lirik cinta-cintaan yang klise, efek rumah kaca menyeruak membawa kesegaran.

adalah cholil, adrian dan akbar, 3 orang penghembus udara segar itu. mengusung musik indie-rock yang guitar-oriented, efek rumah kaca adalah gabungan antara musik yang sederhana dan lirik yang cerdas.
menyimak album mereka membuat saya serasa terbang ke suatu masa saat awal-awal mendengar album debut coldplay. saya seperti tersadar bahwa banyak wilayah yang belum terjelajahi dalam musik indonesia, dan kita beruntung: efek rumah kaca berhasil menguak sebuah sudut dalam wilayah itu.

dalam musik efek rumah kaca kita mungkin akan mendapati jejak-jejak musisi inggris seperti travis dan radiohead, juga jeff buckley, namun alih-alih meniru para pengilham besar itu, efek rumah kaca agaknya mampu menciptakan kekhasannya sendiri. tak ada lagu yang terlalu keras di album ini, hanya ‘cinta melulu’ dan ‘insomnia’ yang up-tempo. selebihnya adalah lagu-lagu pelan, seperti ‘debu-debu berterbangan’, ‘melancholia’, dan ‘desember’, yang semuanya terdengar nglangut dan menghantui. dalam lagu-lagu tersebut, vokal cholil yang merdu seperti menghipnotis.

eksplorasi tema dalam album debut ini harus diakui agak luar biasa, dan itu juga menjadi keistimewaan album ini. dimulai dengan ‘jalang’, tentang para pengklaim kesucian yang suka melemparkan stigma negatif kepada pihak yang berbeda dengan mereka, lalu ‘belanja terus sampai mati’ yang mengkritik konsumerisme manusia urban, ‘di udara’ yang menunjukkan perlawanan terhadap setiap upaya pembungkaman perjuangan kemanusiaan, hingga, yang menjadi favorit saya, ‘desember’. penulis lagu ini, seperti saya juga, (hehehe), menyukai saat-saat sehabis hujan. sebab ia berharap hujan itu akan meretas dan memulihkan luka.

sebuah debut yang menjanjikan. banyak lagu dalam album ini berpotensi menjadi hit, dan anda barangkali akan mempunyai favorit anda sendiri-sendiri. seumpama saya mati esok hari, saya tak akan lebih berbahagia selain terlebih dahulu memperdengarkan album ini pada anda dan orang-orang terdekat saya.

efek rumah kaca, s/t, pavilliun records, 2007

 

blacklight shines on

koil adalah sebuah paradoks dalam dunia musik indonesia. muncul di pertengahan 90an, melempar sedikit album dan single. melakukan sedikit sekali pertunjukan, namun pelan tapi pasti, mereka telah menempatkan diri dalam posisi yang terhormat di antara band-band lain di tanah air.

sempat terabaikan di awal karirnya, koil membuat publik terperangah saat meluncurkan megaloblast di tahun 2001. itu adalah sebuah album yang didominasi tema gelap dengan lagu-lagu bercita rasa industrial yang memikat. sebuah karya nyaris tanpa cela. segera saja album yang dicetak terbatas itu menjadi buruan banyak orang sampai-sampai kemudian muncul versi repackage-nya. sebuah hal yang tak lazim dalam dunia musik non-mainstream.

rentang waktu tahunan sesudah kemunculan megaloblast adalah masa-masa penuh ketidakpastian, setidaknya bagi bagi penggemar. berita-berita pembuatan album baru koil tersebar simpang siur di milis dan media-media. gosip-gosip bergulir dari mulut ke mulut tak jelas benar mana yang nyata mana yang hampa. otong, sang juru suara, satu-satunya personel yang daripadanya orang bisa berharap mendapatkan sedikit berita, malah memperburuk keadaan dengan kegemarannya melontarkan pernyataan-pernyataan yang terkesan main-main dan kontroversial. ah, koil, ke mana dirimu. jangan kau mati dulu lah, fren. kami masih perlu diselamatkan. mungkin begitu doa banyak orang. diam-diam.

dan ternyata siapa sangka, diam-diam juga, koil tengah menyiapkan semacam pemberontakan. awal bulan november ini mereka secara resmi meluncurkan album baru bertajuk blacklight shines on.
jangan bandingkan blacklight dengan megaloblast. itu hal yang sia-sia. mereka telah sangat berubah. dan proses, saudara-saudara, saya duga telah membuat koil berkembang dari band independen biasa menjadi band anarkis.

kalo anda mengidentikkan kata ini dengan tindak kekerasan saya maklum, tapi mari kita belajar bahwa anarkisme juga berarti ketidakpercayaan bahwa institusi besar apapun bentuknya dapat mengurus apalagi menyejahterakan orang per orang. anarkisme menentang segala bentuk hirarki dalam perkara ekonomi, sosial, juga politik. ia lebih percaya bahwa kehidupan yang lebih baik dapat diupayakan apabila kita mau mengorganisir diri dan bekerja sama.

anarkisme yang pertama, koil tidak sudi menyerahkan blacklight kepada label manapun! mereka seperti menolak tunduk terhadap kelaziman industri musik indonesia. di kala band-band lain mati-matian berjuang menembus label rekaman untuk dipasarkan, koil memilih menyenangkan banyak orang dengan membagi-bagi lagu-lagu baru mereka gratis melalui internet. (versi utuh rekaman blacklight kemudian menjadi bonus majalah rolling stone bulan november). bagi kita yang mengaku diri normal ini, langkah mereka agak di luar akal sehat. proses rekaman dan sebagainya kita tahu membutuhkan biaya yang tak sedikit. apakah mereka benar-benar tak membutuhkan uang lagi? tapi saya kira bukan ‘uang’ kata kuncinya, namun ‘bersenang-senang’. dan koil mungkin paham bahwa ‘kesenangan’ atau ‘kepuasan’ tak selalu dapat diukur dengan ‘uang’. sampai tahap ini saya kira band ini sudah mencapai tahap hakikat dan telah tercerahkan.

anarkisme selanjutnya terbaca jelas dalam lirik lagu.
dalam track pembuka, ‘kenyataan dalam dunia fantasi’ otong dengan lantang berkata “aku bukan bagian dari kebanggaan yang membuat kita tak berpenghasilan.” sebuah pernyataan politis yang menyindir institusi negara yang gemar mendoktrinkan kecintaan kepada tanah air namun abai pada rakyatnya dan membiarkan mereka miskin dan susah mendapatkan uang. dalam bait terakhir lagu ini otong menggempur total mitos bernama nasionalisme itu. ia mencerca, “nasionalisme menuntun bangsa kami menuju kehancuran”. sebuah pernyataan sikap yang lugas tak kenal takut. entah setan mana yang berhasil menyabetnya sehingga menjadi sedemikian inspiratif dan berani.

tema anarkisme kembali muncul dalam track ‘nyanyikan lagu perang.’ di lagu yang potensial menjadi anthem ini, otong mentertawakan orang-orang malas, yang terus “menunggu, sampai beruban’ sembari ‘menyanyikan keluhan.’ baginya, sebagai rakyat jelata dan bukan penguasa, kita sebenarnya ‘pintar, dengan otak bersinar’ dan ‘hanya perlu semangat untuk hidupi rakyat.’ sungguh, lagu ini adalah soundtrack penyemangat bagi hari-hari yang sering membosankan. saya tak pernah menemui lirik seoptimis ini dari band indonesia lain manapun.

dari segi musikal, blacklight adalah album yang solid. lagu satu dengan yang lain seperti memiliki perekat yang menyatukan mereka sehingga 9 nomor lagu (dan satu hidden track) itu padu dan saling menguatkan. agak susah bagi saya untuk menyebutkan nomor terbaik karena hampir semuanya memiliki keistimewaan sendiri-sendiri. namun kalau diminta menyebutkan nomor favorit, saya tak ragu untuk menyebut tiga lagu: nyanyikan lagu perang, semoga kau sembuh pt.2 dan aku lupa aku luka.

‘nyanyikan lagu perang’ sudah saya bahas sedikit di atas. instant-classic.

’semoga kau sembuh pt.2′ adalah nomor paling kuat dan paling indah. tekstur lagunya sederhana, up-beat, bahkan cukup enak untuk goyang. seperti interstate love song-nya stone temple pilots dg tempo yang lebih cepat dan bertenaga namun dengan balutan nuansa sedih dan haru. vokal otong terdengar seperti orang yang berdoa dengan tulus. koil dengan sangat baik membuktikan bahwa lagu yang menyentuh dan indah tidaklah harus mendayu-dayu dan cengeng. ini akan jadi salah satu lagu dengan durasi 7 menit lebih paling adiktif yang pernah anda dengar.

‘aku lupa aku luka’
lagu paling keras dalam album blacklight, mungkin juga dalam sejarah musik koil. sebuah anthem yang akan menjadi katarsis pelepas duka dan amarah.

satu lagu yang juga cukup istimewa adalah ‘hidden track’ di penghujung album. sebuah nomor berbahasa inggris dengan tempo pelan yang membawa nuansa murung nan menghantui. di tengah dentang-dentang organ dan bunyi lonceng gereja, otong bernyanyi seperti meratap. bonus tambahan yang membius.
secara keseluruhan saya dapat menyimpulkan, blacklight adalah karya terbaik koil hingga saat ini, melampaui megaloblast yang terkenal itu. koil telah kembali, dengan album yang melebihi ekspektasi siapapun. otong, sang pencemooh, harus diakui adalah penulis lirik yang bagus, dan donny, sang gitaris, juga adalah penulis lagu yang hebat. kredit juga buat personel lain (ibrahim, legoh, adam) yang telah bekerja keras melahirkan karya yang akan bersinar lama ini.

album ini seharusnya bisa melepaskan cap industrial yang sekian lama terlanjur melekat dalam band ini. karena sesungguhnya koil adalah band rock. sebuah band rock yang memikat, bukan karena kesempurnaan mereka, tapi karena dengan mereka kita tak malu berlaku sebagai rakyat biasa, bekerja, mencari uang, dan sedikit bersenang-senang.

Terrorizer

25 TAHUN DALAM BADAI DEATH METAL

Pengantar:

Semua orang dalam situs ini tahu benar bahwa saya adalah fans berat death metal, dan kenyataan itu cukup membuat saya merasa bangga. Saya ingin membicarakan perihal death metal dan banyak keajaiban sekitar hal itu yang saya saksikan. Meskipun death metal hampir tidak dikenal oleh dunia luas (kalangan mainstream), ini adalah sebuah genre besar yang memiliki area yang luas untuk dijelajahi. Bahkan masih terdapat wilayah-wilayah dalam death metal yang belum diselidiki hingga saat ini.

Secara musikal, death metal adalah aliran paling fleksibel di antara genre metal lainnya. Ia tidak hanya memiliki kadar brutalitas berlebih, namun juga absah dengan sifat-sifat teknikal, melodikal, dan kerumitan tertentu. Hal-hal kecil boleh masuk dan tetap menjadi death metal. Genre metal lainnya tidak bisa seperti itu. Death metal bisa diibaratkan seperti air. Bagi kalangan luar mungkin kelihatannya biasa namun death metal mempunyai sifat-sifat yang tidak dimiliki substansi lain. Pernahkah Anda menjumpai sebuah band progressive metal yang vokalnya growling terus-menerus? Pernahkan Anda menyaksikan sebuah band power metal dengan brutalitas tingkat ekstrim dalam musiknya? Tidak. Saya kira tidak.

Karakteristik Death Metal

Sebelum saya masuk ke inti bahasan, saya ingin mengenalkan Anda sedikit mengenai genre ini. Secara sederhana, death metal adalah perpaduan antara suara growling yang dalam, gitar yang disetel rendah serta penuh distorsi, bass yang berat, dan drum yang intense dan menderu. Lirik lagu adalah penarik perhatian utama departemen kreatif. Temanya bisa beragam, dari darah dan gore, Setan, hingga horor dan filsafat. Struktur musiknya juga variatif, mulai yang simpel dan brutal, hingga yang intense dan teknikal. Growl vokal berbeda-beda, antara lain growl tinggi dan parau, serta growl rendah nan garang. Saking kayanya, orang bisa bilang bahwa death metal itu sekaya kerajaan binatang!

Sejarah Death Metal:

Sekarang kita beranjak ke sejarah death metal. Genre ini sendiri memiliki latar belakang yang luas dan warna-warni. Agak sukar bagi saya untuk menjelaskan semua sisi genre hebat ini dalam satu hari. Karena itu di sini saya akan berusaha menunjukkan hal-hal utama saja, dan peristiwa-peristiwa penting yang mewakili inovasi ke depan, dan topik-topik semacam ini. Sekarang silakan anda duduk dengan nyaman karena saya akan segera membawa anda ke suatu perjalanan menyelami death metal.

Death Metal Gelombang Pertama

Kurun Waktu:

(1983-1990)

Death metal dapat dirunut akarnya ke masa keemasan heavy metal di tahun 1980an. (Ingat bahwa gelombang pertama death metal berlangsung dari 1983-1990). Dari pengaruh hebat yang dibawa band-band thrash metal seperti Slayer dan Kreator, death metal mulai tumbuh semenjak sebagian kecil orang yang tersebar di Amerika mencomot sound thrash metal yang cepat dan agresif milik Slayer dan Kreator lalu menambahkannya dengan ramuan brutal berkadar ekstra. Tidak diketahui dengan pasti band mana yang menjadi penemu pertama death metal namun penelitian telah membawa kepada kita tiga nama kunci: Death dari Florida (Death aslinya bernama Mantas ketika ia pertama kali dibentuk), Possessed yang lahir di California, dan Master yang berbasis di Illinois; ketiga band ini sama-sama terbentuk tahun 1983.

Sound yang diperkenalkan tiga band ini adalah drum yang sangat cepat, menderu dan konsisten dengan blast-beat, riff secepat halilintar, dan vokal growl rendah dan parau yang dikombinasikan dengan teriakan tinggi yang memekakkan telinga. Isi liriknya sebagian besar membawa tema gore dan Setan. Beberapa event penting terjadi di tahun 80an. Death memulai terbentuknya scene death metal di Florida, nantinya hal ini berpengaruh terhadap berdirinya dua band inovatif lain di kota yang sama di era 80an yakni Morbid Angel dan Obituary. Possessed membantu menanamkan tema Satanisme sebagai tema lirik utama, serta berpengaruh terhadap berdirinya band-band death metal di California. Master membantu berdirinya scene death metal di North East (Illinois, New York, Pennsylvania, dsb).

Di samping tiga inovator tersebut (Death, Possessed, Master), ada beberapa band penting lain yang juga bermunculan di era 80an yang kelak akan menjadi band death metal yang sangat diperhitungkan. Band-band itu antara lain Morbid Angel, Obituary, Deicide, dan Cannibal Corpse. Kita akan membincarakan band-band itu nanti.

Ciri musik:

1. Growl yang rendah dan parau dan teriakan bernada tinggi.

2. Gitar yang disetel rendah, penuh distorsi.

3. Bass yang gelap dan garang.

4. Drum yang bertempo sangat cepat, blast-beat.

5. Secara keseluruhan, soundnya sangat dekat dengan sound genre ayahnya, yakni Thrash Metal.

Album penting:

1. Death: “Scream Bloody Gore”
2. Possessed: “Seven Churches”
3. Master: “Master”
4. Obituary: “Slowly We Rot”
5. Morbid Angel: “Altars Of Madness”

Death Metal Gelombang Kedua:

Kurun Waktu:

(1990-1999)

Masa kedua adalah sebuah era di mana death metal benar-benar mulai populer. Banyak hal terjadi di era ini; bermunculannya band-band penting, perubahan dalam sound, dan merebaknya kontroversi di sekitar aliran ini. Pada kenyataannya banyak sekali peristiwa penting terjadi di masa ini, saya akan mencoba memecahnya berdasarkan tahun. Jangan kaget apabila saya mengganti pokok pembicaraan terlalu tiba-tiba.

Pada tahun 1990, Death merilis “Spiritual Healing”, sebuah album dengan tema yang agak lain dibanding tema album death metal saat itu. Di album ini mereka lebih berfokus pada isu sosial dan filosofis, tidak lagi darah dan gore seperti dua album mereka sebelumnya. Deicide merilis album debutnya, “Deicide”. Album ini benar-benar mengangkat Satanisme ke tingkat yang sangat ekstrim. Satanisme yang sangat serius, bukan satanisme murahan yang pernah anda temukan dalam album-album Venom. Bisa jadi saya terlalu melebih-lebihkan saja karena saya fans Deicide. Yang jelas album ini sangat sukses di kalangan underground, karena musiknya yang catchy dan mengesankan. Di tahun yang sama Cannibal Corpse mengeluarkan album pertamanya, “Eaten Back To Life”. Album ini memperkenalkan sebuah gaya baru dalam growl yang disebut “The Cookie Monster” growl yang dibawa oleh vokalis mereka, Chris Barnes. Dalam growl gaya ini, suara yang dikeluarkan lebih kasar dan dalam, mirip dengan vokal sebuah tokoh dalam Sesame Street, the Cookie Monster. Dan karena gaya vokal ini mengeluarkan sound yang agresif dan jahat, kata-kata yang diucapkan vokalis menjadi lebih susah ditangkap. Kelak gaya vokal ini akan menjadi penanda utama/ atribut paling mudah dikenal orang saat mereka membicarakan death metal.

Sekarang kita masuk ke tahun 1991. Tahun ini menjadi saksi munculnya brutal death metal, yang dimainkan oleh dua inovator utama aliran ini, Suffocation dan Immolation. Genre ini dicirikan oleh growl yang rendah dan ultra-berat, dan penekanan ekstra pada bass, gitar dengan setelan rendah, dan penggunaan bass drum yang lebih intense. Genre ini, meski kelihatannya amat simpel, namun untuk memainkannya membutuhkan ketrampilan teknis dan penguasaan musik yang tinggi. Dua album brutal death metal yang dirilis di tahun ini adalah “Effigy Of The Forgotten” dari Suffocation dan “Dawn Of Possession” milik Immolation.

Tahun 1992 tercatat sebagai tahun di mana death metal mulai menunjukkan kesuksesan komersil. Dimulai dengan album masterpiece dari Obituary, “The End Complete”. Album ini terjual 250.000 kopi di seluruh dunia, termasuk salah satu album death metal paling laris sepanjang masa. Ada beberapa faktor yang berperan dalam kesuksesan album ini. Pertama adalah label. Obituary dikontrak oleh Roadrunner Records, sebuah label cukup besar yang menjadi rumah bagi band-band death metal terdahulu. Roadrunner memiliki modal untuk mencetak banyak kopi dan mampu mengedarkannya ke para distributor. Kedua adalah basis penggemar yang luas. Obituary telah memiliki basis fans yang hebat saat album mereka keluar. Ketiga adalah fakta bahwa di tahun yang sama, Obituary melakukan tur bersama band death metal terkenal lain, Cannibal Corpse. Album sukses lain yang keluar tahun tersebut adalah “Legion” dari Deicide. Album ini juga dirilis oleh Roadrunner Records dan terdistribusi secara luas ke seluruh belahan dunia.

Album paling inovatif tahun tersebut adalah “Soul Of A New Machine” dari Fear Factory. Rilisan ini adalah album death metal pertama yang mengenalkan vokal yang bersih, suatu langkah yang dianggap tabu bertahun-tahun sebelumnya. Terobosan ini akan menjadi jalan bagi banyak band death metal untuk melakukan inovasi mencengangkan dalam aliran ini kemudian.

Melangkah ke tahun 1993. Peristiwa paling menonjol di tahun ini adalah rilis album “Covenant” milik Morbid Angel. Dianggap penting sebab ia adalah album death metal pertama yang dirilis oleh label besar, mencatatkan Morbid Angel menjadi band death metal pertama yang bergabung dengan label besar. Label yang mengontrak mereka adalah Giant Records. Meski tidak tampak seperti label besar namun Giant Records ditopang oleh Warner Brother Records, salah satu label rekaman terbesar di dunia.

Sekarang saatnya mengoper persneling. Di tahun 1994, Cannibal Corpse merilis “The Bleeding”, album rekaman terakhir mereka bersama vokalis Chris Barnes. Cryptopsy meluncurkan “None So Vile”, salah satu album death metal terbaik yang pernah dihasilkan sebuah band Kanada. Di tahun 1995, Suffocation mengeluarkan “Pierced From Within”, yang dengan cepat menjadi album death metal klasik.

Melompat ke tahun 1998, kita akan menemukan band pionir death metal dari Florida, Death, merilis album terakhir mereka “The Sound of Perseverance”. Album ini memperlihatkan puncak pencapaian band ini. Sound mereka bergeser dari death metal menjadi lebih progressive metal. Album ini merangkum teknik perkusi rumit dari sosok terkenal Richard Christy, performa bass luar biasa Scott Clendenin, dan permainan gitar yang kompleks dan dalam oleh duo Shannon Hamm dan Chuck Schuldiner. Ini adalah album yang benar-benar memberi definisi baru genre death metal. Sama pentingnya dengan “The Sound of Perseverance”, adalah “Gore Metal”, debut album milik Exhumed. Dianggap penting karena album ini juga merekam perkembangan genre. Gore Metal berakar dari death metal, namun memiliki sound melodik lebih banyak dan riff yang catchy. Yang terang, dalam album ini seringkali ada tiga vokalis yang berbeda, seperti Carcass di awal karirnya. Album ini segera menjadi inspirasi ribuan band lain untuk menirunya, dan memainkan jenis musik yang sama. Anyway, ini era yang ekspansif. Karena tak mungkin bagi saya untuk menjelaskan semua peristiwa yang terjadi di era ini pada halaman ini, saya akan berhenti di sini.

Ciri Musik:

1. Kemunculan brutal death metal

2. Berkembangnya progressive death metal

3. Membiaknya Gore Metal

Album Penting:
1. Death: “The Sound Of Perseverance”
2. Morbid Angel: “Covenant”
3. Deicide: “Legion”
4. Cannibal Corpse: “Eaten Back To Life”
5. Suffocation: “Pierced From Within”
6. Immolation: “Dawn Of Possession”
7. Exhumed: “Gore Metal”

Death Metal Gelombang Ketiga:

Kurun Waktu:

(2000-sekarang)

Ini adalah gelombang terkini dalam death metal. Di era ini kita bisa melihat bahwa death metal kembali memperoleh popularitasnya kembali di seluruh penjuru dunia (terlebih lagi Grunge sudah tamat, hahaha). Ide-ide baru tumbuh subur dari dalam bawah tanah. Band-band baru menjejakkan langkah mereka menuju kerajaan baru. Rilisan penting pertama di era ini adalah album Morbid Angel “Gateways to Annihilation” di tahun 2000. Album ini meneruskan pengaruh progressive death metal yang dibawa Death. Album lain yang dirilis di tahun yang sama adalah “Insineratehymn”, sebuah karya yang menancapkan kembali pengaruh Deicide.

Tragedi menimpa masyarakat death metal pada 2001 dengan kematian Chuck Schuldiner karena kanker otak. Komunitas death metal berduka karena kehilangan salah satu sosok pionir dan pemikir terbaiknya. Melangkah ke 2002, kita menyaksikan lebih ekspansifnya penyebaran gore metal, seiring rilisan kaya inovasi “Mondo Medicale” dari Impaled. Tak dapat dilepaskan dari pengaruh hebat Carcass, Impaled membangun genre gore metal dengan melodi dan kemampuan bermusik yang prima. Death metal terus berkembang di tahun 2003, saat Exhumed meluncurkan “Anatomy Is Destiny”. Dalam album ini riffs menjadi bagian wajib, skill juga makin mendapatkan fokus yang lebih besar, dan pengaruh band-band Swedish death metal makin kentara. Saat ini kita tengah hidup di era gelombang ketiga death metal dan keadaan senantiasa berubah. Kita belum tahu ke mana gelombang ini akan membawa kita, jadi kita tunggu saja.

Kesimpulan

Mendekati akhir dari laporan ini, kita mesti ingat bahwa death metal terus berkembang dalam tempo yang cepat, dan terus berubah seiring waktu. Lima tahun dari sekarang barangkali informasi dalam tulisan ini akan jadi usang! Apabila Anda menemukan kekeliruan dalam tulisan ini misalnya informasi yang tak lengkap atau ada peristiwa penting yang terlewatkan, itu semata-mata kelemahan saya dan mohon dimaafkan. Tapi saya tidak patut khawatir, sebab kita semua memiliki pemikiran yang berbeda-beda, dan niat saya menuliskan laporan ini bukanlah sebagai tugas namun untuk berbagi informasi bagi siapa saja yang ingin mengetahui sedikit tentang genre death metal dan agar yang saya tulis ini menjadi catatan di waktu mendatang.

Tulisan oleh Ethan “Insineratehymn” Mittel, staf think-tank di situs Metal Storm.

Alih bahasa oleh Ibnu.

Sick Of It AllLou Koller: Kami Hanya Sebuah Band Hardcore yang Persetan Pencitraan

Wawancara oleh Tim Den

Kalian memulai band di pertengahan ‘80an, tak diragukan lagi kalian adalah band NYHC dengan umur paling panjang dan terus survive sampai sekarang. Apakah hal ini gila menurut Anda?

Yeah, memang aneh sekali! Saat kami membentuk SOIA kami tak punya bayangan seberapa lama kami bisa bermain bersama. Kami mencintai hardcore dari dulu sampai sekarang, secara alami itulah yang memungkinkan kami terus bermain. Dalam perjalanan karir kami, ada masa ketika Rich (Capriano, eks bassis) dan Armand (Majidi, drummer) keluar, waktu itu Pete (Koller, gitaris, backup vocals) dan saya berpandangan satu sama lain lalu ia berkata , “Kita gembira melakukan hal ini, kita tak boleh berhenti.” Begitulah selalu yang terjadi pada kami: kami terus berada di sini karena kami mencintainya. Gorilla Biscuits bubar karena Walter ingin membentuk Quicksand yang memainkan jenis musik yang berbeda. Kami tak pernah berkeinginan memainkan musik lain. Kami mendengarkan beragam jenis musik namun hardcore-lah yang kami cintai dan kami mainkan.

Beberapa band lain terperosok dalam drugs, penyakit, penjara, dsb… kenapa hal yang sama tidak terjadi pada kalian?

Kalau menghadapi masalah, kami berlari secepat-cepatnya! (tertawa). Tidak, seperti yang saya katakan tadi, concern kami adalah bermain musik. Saat tur selesai dan kami pulang ke rumah, kami melakukan pekerjaan normal. Kami menyimpan seluruh waktu dan uang kami untuk band, tidak seperti band lain yang mungkin mencoba drugs untuk memperoleh uang dengan cara cepat. Kami tak pernah membayangkan hardcore terdiri dari orang-orang gangster pembual dan jahat. Kami mencintai hardcore sedari kami masih belia dan musik adalah satu-satunya perhatian kami mulai saat itu.

Bisa cerita tentang masa muda kalian, kontak pertama kalian dengan hardcore dsb?

Pete dan saya tumbuh di Queens, di sebuah perkampungan kelas pekerja biasa. Itu bukan tempat di mana para penghuninya harus berjuang mati-matian untuk hidup setiap hari namun ya, ada saat di mana kami memang harus berjuang dan bertarung. Kami biasa nongkrong di lorong dekat lapangan di belakang gedung sekolah: di sanalah kami diperkenalkan dengan hardcore. Di tempat itulah anak-anak punk dan hardcore berkumpul sedang anak-anak hip hop nongkrong di lapangan basket dan anak stoner serta metalhead nongkrong di samping lapangan bermain. (tertawa) Dalam banyak hal semua bisa rukun satu dengan yang lain.

Pete dan saya punya dua kakak laki-laki yang punya scene sendiri, yang interes dengan Deep Purple dan band-band semacam itu (tertawa) Kakak yang persis lebih tua di atas saya-lah yang mengenalkan kami pada punk dan hardcore. Ia menyukai punk dan hardcore tapi tidak terlalu dalam. Sedang Pete dan saya langsung mencintainya sedari pertama. Dan di perkampungan kami, menjadi anak punk atau hardcore jelas akan mengundang masalah. Biasanya ada sekelompok anak, saya tidak tahu orang-orang menamai mereka apa tapi kami menyebutnya guidos –sekelompok anak berbadan kekar yang selalu mencoba mencari gara-gara dengan kami.

Sebentar… Anda lebih tua dari Pete?

Yeah. (tertawa) Saya tahu, semua orang mengira dia yang lebih tua daripada saya.

Tadi Anda menyebut bahwa Rich dan Armand sempat keluar sementara dari band… Saya mengikuti SOIA dalam masa-masa itu (saat We Stand Alone EP, ’91), tapi saya masih sering heran bahwa banyak sekali penggemar SOIA yang tidak mengetahui periode pergolakan itu. Apakah kalian mencoba merahasiakan hal tersebut? Apa yang sesungguhnya terjadi?

Yeah, uh… itu adalah periode paling memalukan dalam hidup kami. (tertawa) Tidak, serius, kami sedang dalam masa pertumbuhan waktu itu. Richie dan Armand menginginkan hidup yang lebih stabil, Pete dan saya meneruskan band. Lalu kami mengajak Eddie Coen untuk mengisi bass dan E.K. pada drum. Seingat saya E.K. main penuh saat kami tur bareng Sepultura.

Dan Sacred Reich serta Napalm Death! Saya ingat konser tahun 90’ itu!

Yeah!. Tapi secara musikal rasanya kami tidak klik dengan Eddie dan E.K. Eddie sangat ingin menjadi rockstar, ia mungkin mengira bahwa Sick Of It All adalah nama band yang telah mapan sehingga apa-apa mudah. Padahal tidak, kami masih band hardcore: kami masih harus mengurus peralatan kami sendiri. Jadi ketika Richie bilang ia ingin kembali ke band, kami langsung menyanggupi, “Bagus, kita baru memecat Eddie.” Dengan line-up itulah kami tur bersama Sepultura, tapi E.K. kamudian mempunyai banyak masalah pribadi yang harus ia selesaikan sehingga kami merekrut Max untuk sementara waktu. Max orang yang hebat, sangat menyenangkan, tapi ketika Armand memberi tanda untuk kembali ya kami bilang pada Max, “selamat tinggal Max!’ (tertawa)

Tapi Richie keluar untuk seterusnya setelah album Just Look Around

Yeah. Kami baru saja menyelesaikan tur Eropa yang amat meletihkan. Tur itulah yang membuat punggung Richie patah: kami tinggal di van selama dua bulan penuh di tengah musim dingin yang ganas. 53 show dalam 56 hari. Memang brutal. Saat kami pulang masing-masing dari kami mengantongi $1000 –jumlah yang besar saat itu- tapi uang sebanyak itu tidak cukup memuaskan. Richie merasa seperti “Aku kerja seperti itu hanya untuk uang cuma segini?” Ditambah lagi ia mendapat banyak tekanan dari pacarnya agar keluar dari band.

Namun ironisnya, tur Eropa yang kami jalani begitu Richie keluar malah mulai menghasilkan uang bagi kami. Setahun setelah itu saya berjumpa dengan pacar Richie, ia berkata “hebat, sekarang kalian sudah mulai dapat uang, ya! (tertawa)

Sebenarnya Richie juga tertarik untuk mengerjakan hal-hal lain dalam musik, jadi alasan ia keluar bukan melulu masalah finansial.

Yeah, bahkan kalau kita melihat sampul album Just Look Around kita bisa melihat jelas siapa personel band yang berbeda. Bukan berarti penampilan itu penting…

(Tertawa) Yeah, tapi saya tidak tahu mana anggota band paling cerdas dan mana yang paling bodoh, tapi sekeluar dari Sick Of It All ia langsung membentuk band dan selama sepuluh tahun membangun deal dengan label besar. Ia mendapat $30.000 dari label ini, dapat $100.000 lagi dari label ini, tanpa pernah merilis satu album pun. Fred Durst dari Limp Bizkit? Ia beri Richie $30.000 “Ini 30 ribu buat satu demo.” (tertawa) Band dia akhirnya keluar sekitar dua tahun lalu: Reach 454. Terdengar seperti Godsmack, tapi tak ada orang yang peduli. Mereka sudah terlambat 10 tahun! Walau begitu mereka tetap dapat banyak uang dari label besar!

Anda juga mengerjakan proyek sampingan Blood From The Soul bersama bassis Napalm Death, Shane Embury… tapi tidak seperti proyek sampingan Embury lainnya, kalian tidak pernah mengeluarkan album kedua. Kenapa?

Semenjak rekaman pertama Blood From The Soul keluar, emm.. 14 tahun silam, Shane telah tiga kali mengajak saya membuat album lagi. Pertama, empat tahun sesudah album pertama: ia mengirimi saya beberapa lagu dan berencana mengajak beberapa vokalis untuk masing-masing mengisi dua lagu. Musiknya lebih ke dancey, elektronik, dan eksperimental. Saat itu saya bilang, “oke, mari kita kerjakan, ini hal yang berbeda.” Tapi kemudian saya lama tidak mendengar kabar darinya. Beberapa tahun lalu dia mendekati saya lagi untuk hal yang sama dan saya berkata, “Uh, oke! Kasih tahu ya nanti! (tertawa) Tapi lalu saya sibuk menulis materi Death to Tyrants dan Napalm Death juga kembali sibuk.

Proyek Blood From the Soul aslinya akan digarap bersama Mike Patton tapi dia mengundurkan diri.

Whoa, gila!? Kita mempunyai semua jenis pemain terbaik di sini. Kembali ke Sick Of It All: Kenapa kalian tidak lagi memainkan lagu-lagu dari album Just Look Around? Album itu dahsyat!

(Tertawa). Oh, man, semua orang menanyakan hal yang sama. Saya akan tunjuk jari ke Armand. Dia tidak suka memainkan lagu-lagu di album itu. Craig (Setari, bassis, backup vocal) menyukai “Never Measure Up,” tapi Armand tak mau memainkannya.

Mengapa? Sayaterguncang waktu album itu keluar!

Saat Armand mendengar album itu, ia selalu berkomentar “dengar lagu itu! Itu kan cuma bagian-bagian acak yang disatukan! Tidak masuk akal! Aku tak akan pernah menulis lagu seperti itu lagi sekarang!” (tertawa)

Tidak bisa! “We Want the Truth,” “We Stand Alone,” “The Shield”… semua lagu itu juara!

(Tertawa) Kami sudah mencoba memasukkan “We Stand Alone” ke dalam set list show kami. Ketika kami memainkannya, kadang crowd menjadi menggila, kadang-kadang juga penonton malah terbengong-bengong saja, tak mengerti lagu apa yang sedang kami mainkan. Di Eropa kami malah memotong verse kedua sebab beberapa orang bilang bagian itu terlalu panjang. Secara pribadi, saya kira –setidaknya secara lirik, verse pertama memang tidak se-masuk akal verse yang kedua. (tertawa)

Bagaimana dengan “Injustice System?” Saya kira kalian tidak berhenti memainkan lagu itu, tapi sepertinya saya sudah bertahun-tahun tidak mendengar lagu itu secara live…

Baru-baru ini kami sudah memainkan lagu itu lagi. Waktu menulis lagu itu, kami memang ingin membuatnya menjadi lagu yang penting; sebuah lagu yang akan kami mainkan setiap malam. Tapi setelah 10 tahun kami sudah merasa bosan. Kasus yang sama dengan “Clobbering Time.” Kami jenuh, tapi kalau kami tidak memainkannya orang-orang pada marah! (tertawa) Dan lagu itu panjangnya cuma 30 detik!

Banyak yang bersepakat Scratch the Surface adalah album paling penting SOIA. Apakah Anda sependapat?

Ya. Saya kira itu adalah album pertama di mana kami benar-benar sadar mesti terdengar seperti apa. Dua album pertama kami buat saat kami sangat muda dan masih mencari tahu bagaimana menulis lagu dan memainkannya, tapi dalam Scratch the Surface kami menemukan diri kami sendiri.

Saya ingat bagaimana pengaruh album itu terhadap SOIA, dari band lokal menjadi nasional. Semua orang terbawa pengaruh yang dibawanya. Secara tiba-tiba orang-orang berpakaian seperti kalian, ikut-ikutan menulis breakdowns seperti kalian, bahkan memegang mic dengan gaya seperti Anda… hebat sekali!

(Tertawa) Kami bekerja sangat keras untuk album itu. Jauh sebelumnya, Pete dan saya sudah menulis banyak materi. Selama musim panas itu kami latihan di sebuah studio di Chinatown. Kami nge-jam selama empat atau lima jam sehari tiap harinya. Kawan-kawan kami ada yang datang ke studio dan ikut mendengarkan, lalu memberi saran “kalian harus bermain lebih pelan!” sebab saat itu Biohazard dan band-band hardcore lain memang sama memainkan groove. Tapi kami juga mempunyai groove: hanya lagu-lagu kami memiliki bagian yang cepat. Basis Pete dan saya adalah old school punk dan hardcore: kami senang bermain musik yang cepat.

Alasan lain mengapa album itu agresif adalah karena saat itu ada orang-orang yang berkata pada kami “oh, mereka bergabung dengan label besar, mereka sudah sell out sekarang.” Kami ingin membuktikan pada mereka bahwa mereka keliru, justru kami menciptakan album kami yang paling gelap, paling berat, dan paling agresif. Saya pikir kami berhasil, itulah mengapa Scratch the Surface dipandang sebagai album kami yang paling menentukan.

Kalian berkembang menjadi amat besar, rasanya kalian sudah dekat dengan mainstream sehingga menjadi “the next big thing..” tapi hal itu tidak terjadi sebab mendadak pusat perhatian bergeser ke generasi yang lebih muda yang tumbuh dengan mendengar lagu-lagu kalian.

Kami tak pernah punya keinginan memburu “kesuksesan komersil,” jadi dalam kadar tertentu tak ada masalah dengan hal itu. Kami melakukan apa yang kami ingin lakukan –bekerja keras, naik ke panggung dan mengeluarkan 100% kemampuan kami setiap malam, -dan selalu berusaha menyingkirkan gagasan menjadi “besar” dari kepala kami. Tapi tentu saja, itu ada kaitannya dengan fakta bahwa kami hanyalah “hardcore kids” yang tak paham marketing. Anda tahu siapa band pembuka kami saat tur Scratch the Surface? Korn! Manajer mereka melakukan pendekatan, mengirimi kami demo, dan surat yang berbunyi “Tolong, ajak anak-anak ini manggung: aku ingin mereka paham seperti apa band live sejati itu.” Saya menyimak demo itu dan pikir saya mereka terdengar seperti Nine Inch Nails dan Sepultura. Bukan selera saya tapi apapun kami tetap mengajak mereka main di tur. Yang kami tidak ketahui adalah manajer mereka mengajari mereka semua kunci-kunci pemasaran. “Pakai baju pelari, hip hip sedang tren,” dsb. Setahun kemudian, saat Korn telah meledak, manajer mereka datang kepada kami lagi dan berkata, “Aku akan membunuh untuk bisa jadi manajer kalian, karena kalian adalah band favoritku sepanjang masa, tapi itu bukan hal yang baik, karena kalian pasti tak mau dengar sepatah katapun yang kuucapkan.” Dan ia memang benar. Kami tak pernah memikirkan sama sekali akan berpakaian atau tampil seperti apa. Sick Of It All hanya sebuah band hardcore yang persetan pencitraan.

Lihat itu H2O: Setelah diajak tur oleh sebuah band besar mereka lalu secara tiba-tiba tidak lagi menyerukan “NYHC” dan hanya memainkan pop punk di arena-arena itu. Itu sangat berpengaruh terhadap penggemar mereka. Penggemar lama berkata, “Oh, jadi kalian main pop punk sekarang? Fuck you!” sementara fans yang muda bilang, “kalian tak punya video di MTV? Minggir saja, kami ingin menonton The Used” atau apalah. Yang mereka alami ibarat senjata makan tuan.

Tapi di hardcore scene sekalipun, saat ini image punya porsi yang besar.

Pergerakan musik apapun akan seperti itu saat ia menjadi besar: ia akan menciptakan identitas yang agak menyimpang dari akarnya. Sekarang banyak band yang mencoba agar terlihat seperti Agnostic Front dan Cro-Mags, dengan tato atau apalah… tapi apa mereka tahu? Hidup yang dijalani Agnostic Front dan Cro-Mags memang mengharuskan mereka seperti itu. Mereka adalah orang-orang keras yang hidup di jalan, beberapa di rumah-bawah tanah. Tapi sekarang malah menjadi ‘gaya’ yang bisa ditiru orang-orang.

Saya suka band Terror tapi anak-anak kecil yang hilir mudik memakai kaus Terror? Dengar dulu Madball, tolol! (tertawa). Kamu pikir musik Terror itu datangnya dari mana? Kalau kita pergi ke Hot Topics, kaus-kaus dan poster Terror di mana-mana. Mana kaus Madball-nya? Tapi bukan berarti anak-anak Terror menyembunyikan ha itu: mereka semua menyatakan kecintaan mereka pada Madball. Ini kerjaan bagian marketing, yang memang di luar kendali band. Kalau Pete dan Craig tak ambil pusing dengan hal ini, mereka bilang “yeah, persetan, kita lakukan yang kita mau,” tapi kalau saya muak dan tetap susah menerimanya. (tertawa)

Bagaimana show peringatan 20 tahun band kalian?

Yeah, sudah berlangsung tanggal 19 September lalu di B.B. King’s New York. Tak dapat dipercaya, benar-benar konser yang luar biasa.

Kabarnya sebelum pertunjukan itu kalian menjanjikan akan memainkan lagu-lagu langka, dan memberi kejutan. Lagu apa memangnya?

Kami memainkan “The Deal”, lagu yang lama sekali tak kami mainkan, “World Full of Hate”… kami membuka konser dengan “Take the Night Off” dan “Good Lookin’ Out,” lalu disusul “Clobberin’ Time” dan “We Stand Alone.” Orang-orang menggila. Ada penonton umur 30,40an berjalan di atas kepala penonton lainnya. Gila.

Saya menonton pertunjukan kalian jauh lebih banyak dibanding saya nonton band lain dalam 15 tahun terakhir. Kalian selalu tampil hampir tanpa cela. Beberapa band lain, bahkan yang paling hebat sekalipun, perlu istirahat..sementara kalian tidak. Bagaimana kalian menjaga energi kalian sehingga bisa seperti itu?

Saya agak payah kalau sedang tidak tur. Waktu tur saya selalu menjaga kondisi dengan latihan dan lari-lari. Pete malah lebih bagus lagi, selama tur dan di luar tur ia selalu berlatih di gym. Saya merasa dekil ketika berada di rumah. (tertawa) Saya terlihat jauh lebih baik sewaktu tur!

Setelah 20 tahun bekerja begitu keras, bagaimana kalian menjaga mental, fisik, dan kreativitas kalian sehingga terus berada di sana?

 

Ada saatnya memang, masa-masa ketika kami merasa tak bisa melangkah lagi. Beberapa waktu lalu, dalam tur Eropa untuk album Life on the Ropes, saya merasa seperti “aku tak kuat lagi.” Tapi ketika anda mendengar crowd meneriakkan nama anda sebelum pertunjukan dimulai, energi dan kecintaan kami pada musik kembali mengalir pada kami begitu kami melangkah ke panggung. Tiba-tiba saja kekuatan itu muncul kembali. Ada seorang lelaki berumur 40an di antara kerumunan penonton terdepan dengan kaus dari tahun ’92 berteriak pada anda, ada seorang gadis 15 tahun di ujung yang lain menyaksikan pertunjukan anda untuk kali pertama. “Inilah yang kukerjakan: Di sinilah aku berada.”

Peeping Tom - s/t

Mike Patton bikin proyek eksperimental? Gak aneh sama sekali. Orang ini memang rajanya proyek-proyek kolaborasi. Musisi metal hingga jazz pernah digamitnya bekerja sama. Mulai dari John Zorn, The Melvins, The Dillinger Escape Plan, Sepultura, hingga Merzbow. Puaskah ia? Tampaknya belum. Setidaknya itu yang tampak dari kemunculannya dengan proyeknya yang paling anyar, Peeping Tom.

Peeping Tom adalah sebuah proyek yang disebut Patton sebagai definisinya terhadap musik pop. Dalam website Ipecac (perusahaan rekaman miliknya, yang memproduseri album ini juga) ia berkata “aku tak pernah mendengarkan radio, tapi kalau aku dengar radio musik-musik seperti ini (Peeping Tom) lah yang aku ingin dengar.” Seperti apakah musik Peeping Tom? Agak susah dipastikan, yang pasti tak semata perpaduan antara hip-hop, rock, or pop. Ada juga trip-hop, elektronika, soul, ambient dan bossa nova. Campur-campur mirip karnaval. Khas Patton.

Anda barangkali akan susah cepat jatuh hati pada album ini, apalagi sekali dengar. Tapi barangkali di situlah terletak keistimewaannya. Melalui Mojo (kolaborasi dengan Rahzel dan Dan the Automator), Sucker (dengan Norah Jones), dan Caipirinha (dengan Bebel Gilberto) Anda bisa mulai menikmati album ini pelan-pelan. Putar lagi beberapa kali. Kalau Anda tak kunjung suka, apalagi malah bingung itu bukan salah saya!. Hehe.

Peeping Tom – Peeping Tom, Ipecac Recording 2006

Post Rock at Its Best

Banyak dari kita belum lahir saat Black Sabbath dan Led Zeppelin mendunia. Sebagian yang lain tidak sempat menyaksikan era Megadeth dan Slayer. Exodus atau Dark Angel. Kita melewatkan perkembangan musik metal. Tapi setidaknya sekarang kita punya Isis.

Dalam beberapa tahun Isis telah berkembang, dari sekadar band yang dianggap sebagai peniru Neurosis yang buruk menjadi band yang memiliki identitas sendiri bahkan kemudian malah sama berpengaruhnya dengan Neurosis. Mereka telah membawa metal menuju suatu formula yang sepenuhnya baru dan menginspirasi ratusan anak muda untuk mengikuti jejaknya. Beberapa waktu lalu Isis menelurkan album yang mungkin karya terbaik mereka sejauh ini, In the Absence of Truth.

Saat merilis Panopticon banyak yang bilang bahwa Isis telah sold out, kalau Anda sependapat dengan pendapat tersebut, album ini takkan menampakkan hal yang secara radikal berbeda. Namun hanya idiot yang tak mampu menangkap progresi yang mereka capai.

Yang pertama dan utama dari In the Absence of Truth: Isis adalah band yang selalu mampu membangkitkan imaji sebuah dunia lain, maka tak heran bila mereka seperti hilang kesadaran dalam trance progresif yang mereka ciptakan sendiri. Dalam In the Absence of Truth, Isis berada di antara dataran tak berpenghuni post-hardcore dari Neurosis, steroid shoegaze dari Jesu, dengan konotasi melodi yang dalam beberapa segi mengingatkan kita pada Opeth, namun masih kasat sound Amerika.

Dengan album ini Isis sungguh-sungguh melakukan usaha redefinisi mereka sendiri dengan menjelajah wilayah-wilayah yang tak pernah dijangkau band post-rock manapun. Nuansa sludge memang masih terdengar di sana-sini namun band ini lebih menitikberatkan pada melodi yang menghipnotis dan membangkitkan halusinasi. Sound mereka sejajar dengan grup-grup seperti Red Sparowes dan Battle of Mice.

Ini adalah sebuah musik yang mengapung dalam samudera ilusi bahagia; suatu perjalanan ruhani bukannya perjalanan ragawi. Ini adalah kepingan-kepingan mimpi, yang tidak sepenuhnya jahat maupun baik, seperti pecahan-pecahan kaca yang memantulkan sosok Anda kepada diri Anda sendiri.

In the Absence of Truth adalah album yang indah. Sungguh, album ini tidak seperti beberapa album Isis sebelumnya. Mungkin saja akan timbul dikotomi besar pada pendengar abum ini setelah peluncurannya tapi ini tetap musik yang akan menyenangkan, baik bagi pemadat maupun pemikir. In the Absence of Truth adalah sebuah soundtrack bagi pencarian diri.

Isis, In the Absence of Truth, Ipecac Recording 2006

Mike PattonApa yang terjadi kalau musisi rock paling berbakat, paling sibuk, dan paling kaya ide di planet ini memutuskan untuk membawa trip-hop ke abad 21? Barangkali jawabnya adalah Peeping Tom.

Peeping Tom adalah proyek terbaru dari Mike Patton (pentolan Faith No More, Tomahawk, Mr. Bungle, & Lovage). Dalam band ini Patton menunjukkan pada kita bagaimana definisinya akan musik pop: elektrik, sensual dan variatif. Sederetan nama digamit berkolaborasi, Norah Jones (rasanya cuma Patton yang mampu membuat Jones bernyanyi dengan sensual seraya mendesahkan “”What makes you think you’re my only lover? The truth kinda hurts don’t it motherfucker?”), Odd Nosdam, Rahzel, Dan the Automator, Kid Koala, Amon Tobin dan Kool Keith (Prodigy). Berikut wawancara dengannya melalui email:

Sedang dengar apa sekarang? Band yang paling berpengaruh bagi Anda dan Peeping Tom?

Akhir-akhir ini saya sangat senang Sigur Rós, Burt Bachrach dan Gnarls Barkley.

Apa pendapat Anda tentang Mash-up saat ini? (Mash-up adalah genre musik yang mencampurkan dua lagu atau lebih menjadi satu. Kalau Anda pernah mendengar lagu Green Day “Boulevard of a Broken Dreams’ digabungkan dengan “Wonderwall” punya Oasis, nah, itu adalah contoh mash-up)

Seperti hal lain, ada yang bagus ada juga yang SANGAT buruk.


Mash-up telah mengenalkan saya pada jenis musik dan musisi-musisi baru yang mungkin tak akan pernah saya ketahui sebelumnya.
Apakah Anda pikir mash-up juga dapat memperluas pendengar musik Anda? Melebarkan basis fans?

Saya kira tidak. Sejujurnya menurut saya musik jenis ini tak akan bertahan terlalu lama. Tapi musik seperti itu menyenangkan.

Kalau begitu apakah mash-up membawa pengaruh buat Anda saat Anda membentuk Peeping Tom?

Tidak terlalu, apalagi kepala saya sendiri sudah seperti mash-up yang paten.

Apa yang berpengaruh pada Anda untuk Peeping Tom? Secara umum musik-musik apa yang berpengaruh terhadap Anda.

Saya tidak membatasi diri saya terhadap pengaruh-pengaruh. Segala sesuatu dalam hidup saya membawa pengaruh pada saya, mulai kopi pagi hari hingga tiap makanan yang saya santap. Susah dijelaskan. Danny Devito berpengaruh terhadap saya!

Apa pendapat Anda mengenai download musik, juga hak menjadikan CD yang telah dibeli seseorang menjadi MP3? Apakah menurut Anda seseorang sebaiknya diperbolehkan melakukan apa saja terhadap CD yang mereka beli? Ini adalah isu yang cukup ramai sekarang dan sebagai seorang artis sekaligus pemilik label, Anda mungkin memiliki sudut pandang yang menarik tentang hal ini.


Saya menyukai iPod dan MP3 player. Saya menyukai gadget. Kalau Anda mengeluarkan uang untuk mendapatkan CD musik, Anda juga memiliki kebebasan untuk mendengarkan musik dalam CD itu dalam bentuk apapun. Tapi Anda sebaiknya tidak mendistribusikan ulang musik itu meski Anda menginginkannya. Ini situasi yang sulit, meski jujur saja kenyataannya seluruh isu ini sangat jauuuuuh sekali dari jangkauan si artis, dan ini mengganggu saya.
Saya tidak peduli apa yang dipikirkan label atau “industri musik.”


Apakah Anda familiar dengan penanda sosial seperti del.ico.us atau TailRank. Bagaimana Anda akan memberi tag pada Peeping Tom?

Tidak, saya tidak familiar. Tapi saya mungkin tak tertarik untuk memberi Peeping Tom tag nama penyakit-penyakit yang bersliweran.

Setelah mendapat penjelasan singkat tentang penanda sosial, Mike kembali dengan tag-nya untuk Peeping Tom:
Seksi, platinum, Lakers, makanan, Devito, merunduk, zzzzzzzzzzzzzzzzzzzz

Di mana posisi Anda saat ini? Apa pengaruh tempat Anda saat ini bagi Peeping Tom?

Saya berada di mana? Di San Francisco, siap memulai tur. Sedang berbahagia lebih dari sebelum- sebelumnya.


Apa ada hal-hal lain dari Peeping Tom setelah album dan tur ini?

Ya, banyak lagi.

Anda dikenal sebagai rajanya proyek sampingan, proyek lain apa yang sedang Anda kerjakan sekarang? Atau ada proyek solo lain?

Banyak yang sedang saya kerjakan saat ini. Album baru Tomahawk. Rekaman orkestra bersama Eyvind Kang, beberapa musik untuk film, juga Lovage.

Di internet saya banyak mendapati Anda menyebut diri Anda sebagai seorang jenius. Benarkah? Atau itu cuma suara-suara di kepala Anda?

Mendekati jenius pun tidak.


Menurut Anda siapa musisi jenius yang saat ini masih hidup?

Willie Nelson, Ennio Morricone, Jerry Lee Lewis.

Apa track favorit Anda dari album Peeping Tom dan apa alasannya? Apa track yang bukan favorit Anda dari album Peeping Tom dan apa alasannya?

Tidak. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Semua lagu itu anak-anak saya!!

Um..pertayaan terakhir dari saya, bagaimana ceritaya Anda bisa membuat Norah Jones mengucapkan motherfucker? Dalam nada yang begitu sensual pula?

Anda ingin tahu kenyataannya? Well, rumor yang mengatakan bahwa Norah mau mengucapkan kata itu karena kalah dalam permainan truth or dare sesungguhnya tidak benar. Jawaban pertanyaan Anda simpel sekali.. karena saya meminta ia melakukannya. Ia orang yang hebat dan benar-benar artis yang sangat berbakat.

Dan begitulah, dengan dijawabnya pertanyaan terakhir saya oleh Mike, wawancara kami berakhir. Apabila Anda ingin mendengarkan beberapa lagu dari album debut Peeping Tom, Anda bisa mengunjungi alamat MySpace Peeping Tom di http://www.myspace.com/peepingtomispatton

Wawancara oleh A.L Harper, Assistant Music Editor di Blogcritics.com