once i dreamt of having tea in the dusk with
the one i love.
now i need no one but you for that.
love, you’re all i need for life.
May 14, 2008
once i dreamt of having tea in the dusk with
the one i love.
now i need no one but you for that.
love, you’re all i need for life.
April 21, 2008

delapan alasan kenapa kapitalis menjual deodoran kepada anda:
1. aroma tubuh manusia itu erotis dan sensual. kapitalis tidak menyukai hal ini karena mereka impoten dan menentang segala manifestasi sensualitas & seksualitas. seseorang yang memiliki kesadaran seksual akan dianggap berbahaya bagi kapitalis beserta sistemnya yang aseksual.
2. aroma tubuh akan mengingatkan kita bahwa kita semua adalah binatang. kapitalis tidak ingin kita ingat akan hal itu. karena binatang adalah mahluk yang kotor. binatang memakan makanan langsung dari tanah, bukannya mengeluarkannya terlebih dulu dari bungkus plastik. binatang tak memakai jas dan dasi, juga tidak merapikan rambutnya. binatang tidak datang bekerja tepat waktu.
3. aroma tubuh manusia itu unik. setiap orang memiliki aroma tubuhnya masing-masing. kapitalis tidak menyukai individualitas. ada jutaan tubuh manusia sementara hanya ada beberapa aroma wewangian deodoran. kapitalis menyukai hal ini.
4. beberapa deodoran ternyata berbahaya bagi kesehatan. kapitalis malah senang dengan hal ini karena mereka dasarnya selalu mencari2 penyakit baru untuk disembuhkan. kapitalis gembira bisa menciptakan obat2an baru sebab obat2an itu bakal mendatangkan duit bagi mereka, juga penghargaan. mereka terus berupaya membuat penyakit2 baru karena dengan begitu mereka akan selalu bisa menciptakan lebih banyak lagi obat2 baru.
5.deodoran berarti pengeluaran bagi para pembeli. kapitalis bersuka cita akan hal ini.
6. deodoran akan menyembunyikan efek samping yang timbul dari tubuh anda setelah mengonsumsi produk kapitalis. memakan daging dan makanan2 yg mengandung bahan kimia membuat tubuh anda mengeluarkan bau yang tak sedap. memakai pantyhose juga menimbulkan bau yang tak sedap. kapitalis tak menginginkan anda lepas dari kedua hal tersebut.
7. pemakai deodoran adalah orang2 yang tak yakin dengan dirinya sendiri. kapitalis menyukai orang2 semacam itu karena orang macam ini tak akan membuat onar. orang2 yang sama juga membeli pengharum ruangan, pelembut rambut, make up, dan majalah2 yang memuat artikel tentang diet.
8. deodoran adalah benda yg tak penting. kapitalis bangga akan hal ini. mereka memenangkan penghargaan pemasaran atasnya.
April 7, 2008

gus dur adalah salah satu sosok paling kontroversial yg pernah dilahirkan negeri ini. pecintanya begitu banyak, barangkali sama banyaknya dengan yg tidak suka kepadanya. dan ia seolah tak pernah pusing dengan pendapat orang terhadapnya. suatu ketika cak nur bilang kalo gus dur adalah rahasia tuhan keempat setelah jodoh, rejeki, dan ajal.
kalo menyimak sepak terjangnya siapa yg tak bakal bingung. ia adalah musuh abadi soeharto tapi justru ia tak pernah berhenti menjalin silaturahmi dg penguasa orde baru itu. ia juga kerap berseteru dg amien rais tapi malah amien raislah yg pada tahun ‘99 membantunya menjadi presiden (utk kemudian melengserkannya kembali. hehe). belum lagi di pkb, partai yg ia dirikan. siapa hari2 ini yg tidak takjub dengan keputusannya memecati pengurus2 pusat pkb sembari membersihkan pengurus2 wilayah tepat ketika pilkada tengah bergulir di daerah2 sementara pemilu sudah di depan mata.
tapi kalo baca buku biografi gus dur yg ditulis greg barton, atau testimoni wimar witoelar yg dituangkan dalam buku no regrets, kebingungan2 yg kerap muncul dari sosok gus dur mungkin akan diterima dengan kewajaran. mungkin ia memang seorang pendekar mabuk dengan jurus2nya yg kelihatan ngawur tapi sesungguhnya ia memperhitungkan benar langkah2 yang ia tempuh.
dan tanpa bermaksud mengungggulkan sosoknya, dengan segenap kekurangannya, gus dur masih figur yg asik, yg kesederhanaan dan kejujurannya bisa jadi panutan bagi banyak orang. semoga tuhan memberkatinya kesehatan.
April 7, 2008
di bawah alismu hujan berteduh
di hangat jiwamu hatiku berlabuh
March 17, 2008
apa yg kurasakan beberapa hari di kota itu bersamanya agak susah dilukiskan dengan kata2. mungkin karena sifatnya yg ruhani dan abstrak, lebih mudah dirasakan dan susah untuk dijelaskan. barangkali lebih mudahnya begini, aku berangkat dari kota tempatku tinggal dengan sebuah niat sederhana utk menemuinya -seseorang yg mengisi hati dan pikiranku beberapa bulan terakhir. ditambah keinginan utk mengafirmasi bilakah perasaanku memang benar adanya spt itu, dan, kalo iya apakah ia juga merasakan hal yang sama, aka resiprokal alias dua arah.
dan apa yg kualami semenjak berjumpa dengannya kali pertama adalah serangkaian peristiwa/pengalaman yg begitu kusyukuri. pertanyaanku sedikit demi sedikit terjawab. aku merasakan sebuah sentimen yg kuat, lebih dari sekadar ketertarikan. barangkali ini yg disebut kedekatan emosi dan rasa. barangkali ini yg orang namakan cinta. dan tak ada yg lebih menakjubkan selain mengetahui bahwa ia memiliki perasaan dan sentimen yg sama, dan mau menerima apa adanya diriku.
itulah yang kemudian memberiku keyakinan untuk memberanikan diri mengajaknya membuat komitmen. menempuh proses selanjutnya. langkah2 yang yg diperlukan untuk mewujudkan cita2 dan mimpi bersama.
terima kasih tuhan, terima kasih kekasih.
March 17, 2008
“Stay Hungry, Stay Foolish”
Steve Job’s Stanford Commencement Speech 2005
“Tetaplah Merasa Lapar, Selalulah Merasa Bodoh”
Hari ini akan saya ceritakan tiga kisah dalam hidup saya.
Cerita pertama saya.
Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi
belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada
seseorang untuk diadopsi. Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh
keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak
semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu
saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran karena ingin bayi
perempuan. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut
berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “kami
punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka
menjawab: “Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu
angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan
tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi.
Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya
berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.
Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya
saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford,
sehingga seluruh tabungan orang tua saya– yang hanya pegawai rendahan–
habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat
manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup
saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah
menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur
hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa
itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya
menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.
Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak
saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai.
Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos
sehingga menumpang tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya
mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk
membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu
malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya
menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti
rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga. Saya
beri Anda satu contoh:
Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal
kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan
petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya
tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti
kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf
serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan
kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita
rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui
sains. Sangat menakjubkan.
Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan
saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer
Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah
komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO
dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian
banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows
menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya
tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC
tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin
merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh
tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang.
Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke
depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi,
Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai
di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan
hidup, karma Anda, atau apapun istilah lainnya. Pendekatan ini
efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.
Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.
Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz
dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur
20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari
hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000
karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami–Macintosh– satu
tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat.
Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah,
itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang
yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan
bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun,
kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami
sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di
usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi
fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.
Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya
lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi
sebelumnya –saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David
Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya
menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari
Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali–
saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit
pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta.
Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal.
Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari
bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya.
Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai
pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya
pada periode paling kreatif dalam hidup saya.
Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT,
lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian
menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang
menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang
merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian
peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi
ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung
bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki
keluarga yang luar biasa.
Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari
Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya.
Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan
kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus
berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus
menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun
pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar
hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan
sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa
yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari.
Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah
menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya,
semakin lama- semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari
sampai ketemu. Jangan berhenti.
Cerita Ketiga Saya: Kematian
Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih
berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari
terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas
dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya
selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri:
“Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa
yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya selalu “tidak” dalam
beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah.
Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya
temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala
sesuatu–semua harapan eksternal, kebanggaan, takut, malu atau
gagal–tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang
hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang
saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan
kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada
alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.
Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya
menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya
memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para
dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang
tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan.
Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala
sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati.
Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit
segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang.
Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga
Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal.
Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis
tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan,
lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan
mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada
di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop,
para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas
yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi
dan sehat sampai sekarang.
Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus
begitu hingga beberapa dekade lagi. Setelah melalui pengalaman
tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa
menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna:
Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga
pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti
menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus
demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian
membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk
digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya,
namun memang begitu.
Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup
orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma–yaitu hidup bersandar
pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang
menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang
terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi
Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal
lainnya hanya nomor dua.
Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama “The
Whole Earth Catalog”, yang menjadi salah satu buku pintar generasi
saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang
tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya
sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an,
sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat
dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google
dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat
dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat.
Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth
Catalog”, dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi
terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di
sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di
pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang. Di
bawahnya ada kata-kata: “Stay Hungry. Stay Foolish.” (Tetaplah Lapar.
Selalu Merasa Bodoh). Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi
tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu
mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus
untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu.
Stay Hungry. Stay Foolish.
Terima kasih semuanya.
(Pidato Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Studio Animasi Pixar,
di acara pelepasan mahasiswa Stanford, 12 Juni 2005).
http://www.youtube. com/watch? v=D1R-jKKp3NA
ps:
Artikel inspiratif di atas tak sengaja saya dapatkan dari sebuah milis. Diposting oleh Akmal, seorang jurnalis majalah Tempo. Akmal ternyata juga mendapatkan artikel ini dari temannya. Haha. Istilah yang tepat untuk menamai hal semacam ini barangkali viral article ya (meminjam istilah viral video yg beberapa tahun terakhir ini lumayan populer).
January 4, 2008
menyusuri jalan-jalan basah
melihat penjual terompet menekuri
tanah menghela resah
diammu membara
kekalkan sisa harap
yang memudar
tinggal ricik,
air mata hujan
January 4, 2008
Bikin CD kompilasi sepintas kelihatannya mudah, tinggal comot lagu sana-sini terus dibakar, jadi deh. Namun sebetulnya untuk membuat CD kompilasi yang apik, yang kira-kira bisa bikin pendengarnya bersenang hati atau merasa nyaman, ada beberapa hal yang patut diperhatikan.
1. Pertimbangkan calon pendengar. CD itu niatnya dibuat untuk siapa? Apakah diri sendiri, teman, pacar, ataukah seseorang yang lain? Pastikan bahwa pendengar CD itu akan memberi apresiasi terhadap jenis musik yang kita pilihkan. Kita tak mungkin menghadiahi paman kita dengan kompilasi musik death metal terbaik sepuluh tahun terakhir, misalnya, percuma saja karena ia tak akan enjoy. Namun ia mungkin akan bungah menikmati sepilihan lagu jazz easy listening langka yang pernah ia gemari sewaktu ia muda.
2. Pertimbangkan juga apakah kompilasi ini ingin dijadikan semacam media penyampai emosi atau pesan. Apabila iya, maka kita perlu lebih selektif memilih lagu supaya nantinya pesan kita sampai atau dapat dimengerti. Sebuah CD yang diberikan sebagai (tambahan) kado pernikahan mungkin berisi lagu-lagu yang mendukung kesan bahwa kita ikut senang atas peristiwa pernikahan tersebut. Sedang CD simpati untuk teman yang patah hati mungkin berisi sekumpulan lagu-lagu sedih milik The Cure, Sigur Ros, Pink Floyd, dll.
3. Fokus ke genre dan tema. Suatu kompilasi yang memuat beberapa genre sekaligus bisa menciptakan distraksi/mood yang tak enak bagi pendengarnya. Kesan asal comot akan mengemuka. Kompilasi cukup memiliki satu tema. Dengan dukungan lagu-lagu yang pas dengan tema tersebut, CD kompilasi akan berkesan solid.
4. Membuat playlist alternatif. Lagu-lagu yang ingin dimasukkan ke CD kita kumpulkan dalam satu folder tersendiri. Kita bisa leluasa memasukkan ke dalam folder itu lagu-lagu yang kita sukai, yang kedengarannya enak, yang mungkin disukai pendengar, atau yang kira-kira sesuai tema. Lalu kita mulai menentukan mana yang sebaiknya diambil untuk CD dan mana yang tidak. Dari sekian banyak lagu yang tersisa dan tak masuk playlist utama, bisa kita buatkan playlist alternatif. Kita tak pernah tahu, kadang playlist alternatif juga bisa menjadi kompilasi yang hebat.
5. Bermain-mainlah dengan urutan lagu. Membuat CD kompilasi juga adalah upaya menciptakan pengalaman mendengar yang mengasyikkan, bukannya membuat bosan dan rasa kesal. Upayakan agar beberapa lagu awal langsung mencuri hati pendengar. Setelahnya, kita
upayakan agar mood terus terjaga hingga akhir. Prinsipnya adalah membuat susunan lagu sedemikian rupa sehingga CD itu bagian awalnya bagus, bagian tengahnya prima, dan bagian akhir/penutupnya sempurna. Dan kita mesti ekstra telaten, karena yang demikian itu bukan
hal yang mudah.
6. Berikan kejutan di beberapa bagian. Anda bisa menyertakan rekaman suara (misalnya potongan kutipan suara dari film) pada jeda antar lagu. Ini akan membuat CD anda lebih memorable.
7. Periksa hasil akhir playlist beberapa kali. Apabila anda menemukan satu dua lagu memiliki titik lemah maka anda bisa langsung membuang lagu itu dan menggantinya dengan lagu lain. Dengarkan lagi apakah sudah seperti yang anda inginkan atau belum. Oh ya, bagian akhir
dalam kompilasi selalu amat penting. Lagu pamungkas ini bisa dibuat jadi godam yang menimbulkan hentakan yang keras pada pendengar, bisa juga menjadi bisik lirih pengantar hasrat kerinduan yang mendalam.
8. Bakar kompilasi itu, dan apabila anda cukup senang dengan hasilnya, anda bisa membuat satu kopi untuk diri anda sendiri. Apabila lain hari anda memerlukannya untuk keperluan yang sama dan anda terlalu malas untuk membuat CD kompilasi lagi maka anda cukup menggandakan CD tersebut.
9. Sebelum memberikan CD itu kepada orang yang anda kehendaki, jangan lupa membuat cover art yang bagus. Anda bisa memanfaatkan software seperti Microsoft Publisher, atau Nero Cover Designer yang telah menyediakan beberapa contoh desain cover. Tapi untuk memberikan sentuhan personal barangkali akan lebih baik lagi kalau cover itu desain karya anda sendiri.
10. Berikan judul yang cantik atau mengena untuk kompilasi itu. Sebagai inspirasi, ingat-ingat nama album musik dan buku-buku indah kesukaan anda. Juga jangan merasa malu untuk memberi judul sendiri semisal ‘Melodi Cinta dari Seorang Pemuda Bau buat Seorang Gadis Cantik yang Baik Hati.’
Catatan:
1. Untuk membuat CD yang baik, sebisanya anda menghindari satu artis muncul lebih dari sekali, meski dalam lagu yang berbeda. Masih begitu banyak lagu bagus milik penyanyi/kelompok lain yang bisa anda ambil. Keluasan wawasan musik anda juga akan terlihat dari lagu-lagu yang anda pilih.
2. Jaga mood anda selama proses pembuatan CD kompilasi ini. Apabila sewaktu anda tengah melakukan proses kreatif ini tiba-tiba bad mood muncul, tinggalkan dulu kegiatan ini. Anda bisa melanjutkannya saat mood itu tiba.
3. Anda tak perlu kuatir perkara hak cipta. Membuat CD kompilasi sendiri untuk dihadiahkan kepada orang lain bukanlah pelanggaran hak cipta. Kecuali kalau anda memperbanyak CD itu, menjualnya dan mengambil keuntungan darinya.
Okay, selamat mencoba.
December 24, 2007
Saya mengenal Mohamad Sobary sebagai esais dan penulis kolom yang oke. Ia rutin menjadi salah satu pengisi asal-usul Kompas Minggu, juga sering menulis artikel-artikel lepas yang menarik di media cetak yang ‘mikir’ seperti Tempo dan Editor (alm) hingga majalah yang ‘ringan’ seperti Jakarta-Jakarta dan Hai. Sebuah kumpulan esainya yang dibukukan, ‘Kang Sejo Melihat Tuhan,’ membuat saya terpesona karena kelucuannya dan juga, terutama, karena kejeliannya memotret kisah-kisah kehidupan bersahaja dan sosok-sosok rakyat kecil dan menggali kebijaksanaan dari mereka. Ketika mendengar Sobary meluncurkan novel ‘Sang Musafir’ bulan Agustus lalu kontan saya bertanya dalam hati, adakah novelnya itu semenarik tulisan-tulisan pendeknya selama ini? Pertanyaan saya itu terjawab usai saya merampungkan novel itu tadi malam.
Melihat strukturnya, Sang Musafir absah sebagai novel. Ia dibuka dengan mukadimah, disusul dengan 14 bab isi dan sebuah epilog. Menyimak keseluruhan isinya kita akan mendapati sbuah perjalanan hidup narator dari masa kanak-kanak saat ia tinggal di desa, beranjak dewasa dan merantau ke kota, hingga usia tua dan menetap di ibu kota. Membaca beberapa bab awal, pembaca mungkin akan segera menarik kesimpulan bahwa novel ini adalah semacam otobiografi dari penulisnya sendiri, yaitu Sobary, dan itu beralasan sebab peristiwa-peristiwa yang dimunculkan sepertinya adalah rekaman fakta perjalanan hidup Sobary sendiri.
Menuliskan kisah hidup sendiri dalam sebuah otobiografi jelas tak gampang, kalau tak berhati-hati, bisa saja penulis akan tergelincir menjadi narsis atau mengunggulkan diri sendiri. Rupanya Sobary sadar sepenuhnya akan hal itu dan sepanjang novel ia tampak mati-matian berusaha tidak sampai menjadi jumawa. Hal ini terlihat misalnya saat ia menceritakan keberhasilan sang tokoh utama menyelamatkan kantor berita milik pemerintah yang dipimpinnya dari ambang kebangkrutan. Kantor berita ini, seperti lembaga-lembaga pemerintah lainnya, secara administrasi bobrok dan menderita penyakit keuangan yang serius, namun perlahan mampu bangkit setelah gebrakan-gebrakan yang dilakukan nakhoda baru/sang tokoh.
Seperti dalam esai-esainya, dalam Sang Musafir Sobary kerap mengambil referensi pewayangan dan filosofi Jawa. Beruntung ia selalu meletakkan dua hal itu ke dalam konteks cerita sehingga pembaca yang asing dengan hal-hal tersebut tak akan menemui kesulitan pemahaman. Terjemahan Indonesia yang selalu disertakan pada kosakata bahasa Jawa juga sangat membantu.
Pembaca yang berharap akan menemukan penghiburan dalam novel ini mungkin akan sedikit kecewa. Saya juga agak heran dengan betapa minim humor dalam Sang Musafir, sesuatu yang biasa saya temukan bertebaran dalam kumpulan esainya. Namun bukan berarti novel ini jelek, tidak sama sekali. Pengalaman sang tokoh berjibaku membenahi kantor yang dipimpinnya bisa menjadi peta bagi pembaca untuk mengetahui berbagai aspek permasalahan lembaga birokrasi sekaligus upaya pembenahannya. Perjalanan rohani sang tokoh juga dapat menjadi cermin betapa perjalanan rohani manusia itu berliku-liku dan tak berkesudahan hingga manusia menghadap Sang Khalik.
Hingga hari ini, ibaratnya aku terus berjalan menuruti gerak nuraniku, untuk tahu aku ini sebenarnya seperti apa, dan kelak hasilnya akan tampil dalam sosok pribadi macam apa. Aku tukang potret yang sedang memotret diriku sendiri dan belum bisa menyerahkan hasilnya. Banyak hal yang belum terlalu jelas dalam hidup.
Satu paragraf yang saya kutip dari Bab 1 di atas kiranya dengan sangat baik menjelaskan keseluruhan novel ini, bahwasanya meski otobiografi ini telah selesai ditulis, apa yang tertuang dalam novel ini hanyalah beberapa keping dari pengalaman hidup sang penulis. Apabila diibaratkan Sobary membuat potret diri, novel ini adalah sekadar hasil sementara dari ikhtiarnya menangkap perjalanan hidupnya. Sementara itu potret/hasil jadinya belumlah ada karena, seperti yang ia akui, ia masih terus berproses, menjalani hidup yang seringkali belum terlalu jelas, dan belum sampai ke titik akhir.
Sang Musafir, Mohamad Sobary, Gramedia Pustaka Utama 2007.
November 26, 2007
Kelurahan Kedinding Lor terletak di Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya. Di atas tanah kurang lebih 3 hektar berdiri Pondok Pesantren Al-Fithrah yang diasuh Kiai Ahmad Asrori, putra Kiai Utsman Al-Ishaqy. Nama Al-Ishaqy dinisbatkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena Kiai Utsman masih keturunan Sunan Giri. Semasa hidup, Kiai Utsman adalah mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dalam dunia Islam, tarekat Naqsyabandiyah dikenal sebagai tarekat yang penting dan memiliki penyebaran paling luas; cabang-cabangnya bisa ditemukan di banyak negeri antara Yugoslavia dan Mesir di belahan barat serta Indonesia dan Cina di belahan timur. Sepeninggal Kiai Utsman tahun 1984, atas penunjukan langsung Kiai Utsman, Kiai Ahmad Asrori meneruskan kedudukan mursyid ayahnya. Ketokohan Kiai Asrori berawal dari sini.
Tugas sebagai mursyid dalam usia yang masih muda ternyata bukan perkara mudah. Banyak pengikut Kiai Utsman yang menolak mengakui Kiai Asrori sebagai pengganti yang sah. Sebuah riwayat menceritakan bahwa para penolak itu, pada tanggal 16 Maret 1988 berangkat meninggalkan Surabaya menuju Kebumen untuk melakukan baiat kepada Kiai Sonhaji. Tidak diketahui dengan pasti bagaimana sikap Kiai Asrori terhadap aksi tersebut namun sejarah mencatat bahwa Kiai Arori tak surut. Ia mendirikan pesantren Al-Fithrah di Kedinding Lor, sebuah pesantren dengan sistem klasikal, yang kurikulum pendidikannya menggabungkan pengetahuan umum dan pengajian kitab kuning. Ia juga menggagas Al-Khidmah, sebuah jamaah yang sebagian anggotanya adalah pengamal tarekat Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Jamaah ini menarik karena sifatnya yang inklusif, ia tidak memihak salah satu organisasi sosial manapun. Meski dihadiri tokoh-tokoh ormas politik dan pejabat negara, majelis-majelis yang diselenggarakan Al-Khidmah berlangsung dalam suasana murni keagamaan tanpa muatan-muatan politis yang membebani. Kiai Asrori seolah menyediakan Al-Khidmah sebagai ruang yang terbuka bagi siapa saja yang ingin menempuh perjalanan mendekat kepada Tuhan tanpa membedakan baju dan kulit luarnya. Pelan tapi pasti organisasi ini mendapatkan banyak pengikut. Saat ini diperkirakan jumlah mereka jutaan orang, tersebar luas di banyak provinsi di Indonesia, hingga Singapura dan Filipina. Dengan kesabaran dan perjuangannya yang luar biasa, Kiai Asrori terbukti mampu meneruskan kemursyidan yang ia dapat dari ayahnya. Bahkan lebih dari itu, ia berhasil mengembangkan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ke suatu posisi yang mungkin tak pernah ia bayangkan.
Kiai Asrori adalah pribadi yang istimewa. Pengetahuan agamanya dalam dan kharisma memancar dari sosoknya yang sederhana. Tutur katanya lembut namun seperti menerobos relung-relung di kedalaman hati pendengarnya. Menurut keluarga dekatnya, sewaktu muda Kiai Asrori telah menunjukkan keistimewaan-keistimewaan. Mondhoknya tak teratur. Ia belajar di Rejoso satu tahun, di Pare satu tahun, dan di Bendo satu tahun. Di Rejoso ia malah tidak aktif mengikuti kegiatan ngaji. Ketika hal itu dilaporkan kepada pimpinan pondok, Kiai Mustain Romli, ia seperti memaklumi, “biarkan saja, anak macan akhirnya jadi macan juga.” Meskipun belajarnya tidak tertib, yang sangat mengherankan, Kiai Asrori mampu membaca dan mengajarkan kitab Ihya’ Ulum al-Din karya Al-Ghazali dengan baik. Di kalangan pesantren, kepandaian luar biasa yang diperoleh seseorang tanpa melalui proses belajar yang wajar semacam itu sering disebut ilmu ladunni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT). Adakah Kiai Asrori mendapatkan ilmu laduni sepenuhnya adalah rahasia Tuhan, wallahu a’lam. Ayahnya sendiri juga kagum atas kepintaran anaknya. Suatu ketika Kiai Utsman pernah berkata “seandainya saya bukan ayahnya, saya mau kok ngaji kepadanya.” Barangkali itulah yang mendasari Kiai Utsman untuk menunjuk Kiai Asrori (bukan kepada anak-anaknya yang lain yang lebih tua) sebagai penerus kemursyidan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah padahal saat itu Kiai Asrori masih relatif muda, 30 tahun.
Saat ini, dalam usianya yang menginjak senja, kondisi fisik Kiai Asrori melemah seiring sakit yang ia derita namun semangat perjuangannya tak kendur. Sakit tidak menjadi halangan baginya untuk menempuh perjalanan-perjalanan jauh demi menyapa kaumnya. Saya menyaksikan semangat pengabaian diri dalam sosok rendah hati itu. Dalam suatu kesempatan Ramadhan kemarin, Kiai Asrori datang ke acara Al-Khidmah di Malang di atas kursi roda. Ia mesti dipapah beberapa orang untuk sampai ke podium. Pemandangan yang memilukan. Setelah memimpin zikir ia memberikan tausiyah yang lebih terasa seperti wasiat. Ia berpesan dua hal, “sing wani ngalah karo wong, lan sing wani ngapik’i wong (agar berani mengalah kepada orang lain serta berani berbuat baik kepada orang lain).” Pesan yang singkat dan sederhana. Namun justru kesederhanaan semacam ini selalu menggetarkan karena makin jarang kita temukan dalam kehidupan kita dewasa ini.
Saya tiba-tiba merasa takut kehilangan.
![]()