Oleh Ian L. Betts

(Teks ini ditulis setelah penulis mengikuti Melbourne Writer Festival pada tahun 2006)

Selama beberapa jam waktu luang, Emha dan saya iseng mengunjungi salah satu toko CD di Melbourne. Di toko itu terdapat satu bagian di mana CD-CD didiskon. Saat saya menunjukkan Emha sebuah CD kompilasi dari lagu Cat Stevens, dia membelinya. Kiai Kanjeng sering memainkan karya Cat Steven berjudul ‘Wild World’ dan Emha antusias tentang Yusuf Islam secara umum, mungkin karena melihat Stevens memiliki semangat yang sama dengannya berkaitan dengan Islam dan musik.

Mungkin Anda tidak menyangka bahwa Emha menganggap Iggy Pop, veteran penyanyi punk Amerika, memiliki ‘semangat yang sama’ dengannya, namun jika Anda belajar sesuatu dari bekerja dengan Emha Ainun Nadjib, Anda akan menemukan bahwa ia akan selalu mengejutkan Anda. Saya telah menjadi penggemar fanatik dari Iggy Pop selama puluhan tahun. Toko CD di Melbourne itu memiliki beberapa DVD yang dijual dengan harga promosi. Salah satunya adalah DVD pertunjukan Iggy live yang direkam di Eropa pada Agustus 2005 berjudul “Iggy and The Stooges – Live at the Lokerse Festival”. The Stooges adalah band legendaris Iggy di tahun 1960-an. Mereka terkenal dengan reputasi hidupnya yang liar dan berlebihan. Iggy sering muncul setengah telanjang di atas panggung dan berlaku kasar. Konser-konsernya umumnya gila-gilaan. Apakah ini bisa cocok dengan karya dan pemikiran Emha Ainun Nadjib? Jika iya, bagaimana?

Saya tidak bisa menahan diri untuk menambahkan DVD ini masuk koleksi saya, meskipun saat itu saya tidak berharap bahwa Emha akan tertarik kepadanya. Kembali ke hotel, dengan sedikit waktu yang ada, saya menjelaskan kepada Emha latar belakang punk, akarnya dan perkembangannya. Tentang Iggy Pop dan kehidupannya, tentang Stooges dan musik mereka. Saya mengatakan bahwa menurut saya bukan hal mudah untuk mengakurkan suara musik Iggy Pop, nilai-nilai yang dianutnya dan kehidupan yang ia jalani dengan nilai-nilai Islam. Emha lalu meminta saya untuk memutar DVD itu pada DVD player di kamar hotel. Kami menyimak dan mendengarkan Iggy dan The Stooges formasi baru memainkan lagu-lagu lama mereka. Ada Loose, Down on the Street, 1969, Dirt, Real Cool Time, 1970, No Fun dan banyak lagi.

Emha menyukainya. Tidak hanya dia menyukainya; dalam sekejap ia mengapresiasi sound dan energi dari musik dan penampilan mereka. Sebelum itu saya pernah bercerita kepadanya tentang album berpengaruh The Stooges di tahun 1973, Raw Power, dan kami membahas bagaimana album itu bisa diterjemahkan, ditafsirkan dan diterapkan ke konteks Indonesia dan Islam. Raw Power menjadi frase umum Emha dalam bulan-bulan sesudah itu. Emha secara khusus sangat menyukai lagu yang menjadi penutup konser Live at the Lokerse Festival dan juga sering digunakan untuk menutup konser-konser Iggy, “I Wanna Be Your Dog”. Dari titik tersebut, gagasan hewani, keliaran dan raw power (kekuatan mentah) menjadi tema yang terus-menerus, provokatif dan kuat dalam musik The Stooges. Kami lalu balik ke toko CD dan membeli DVD lain Iggy Pop, kali ini untuk Emha, berjudul “Jesus, This Is Iggy” produksi Perancis, yang berisi kumpulan wawancara, pentas live, materi biografi, dan narasi oleh Grand Old Man of Punk itu sendiri, Iggy Pop .

Setelah kembali ke Indonesia, Emha segera mengumpulkan Kiai Kanjeng dan mengatakan kepada mereka tentang sound dan energi baru yang menarik dan baru ia temukan. Mereka lalu bersama-sama menonton DVD “Jesus, This Is Iggy”. Selanjutnya, Raw Power dalam dosis melimpah disuntikkan ke latihan-latihan dan pertunjukan-pertunjukan Kiai Kanjeng. Saya berangkat ke Yogyakarta untuk presentasi yang telah saya siapkan dalam bahasa Indonesia mengenai Iggy dan Stooges. Presentasi itu memperkenalkan kepada Kiai Kanjeng kehidupan dan karir Iggy: Era The Stooges, kerja bareng David Bowie, meninjau jatuh bangun dari karir Iggy yang panjang, mendengarkan nukilan-nukilan kisah hidupnya lalu melakukan diskusi panjang tentang itu semua. Tak lama kemudian, setelah saya kembali Jakarta, saya mulai menerima laporan berita tentang pertunjukan-pertunjukan Kiai Kanjeng bergaya punk liar. Sukar dipercaya. Hingga suatu malam, di Padhang mBulan, saya berada di sana dan menyaksikan sendiri Kiai Kanjeng ngerock ala Iggy dan Islamiyanto, sang vokalis, tidak perlu diminta sampai dua kali oleh Emha, untuk berdiri dan melakukan aksi bergaya Iggy-nya.

Sejak saat itu, esensi dari Raw Power menjadi komponen penting dari dialog-dialog dalam pertemuan Maiyah di seluruh Indonesia. Pada tanggal 17 September, setelah acara Mocopat Syafaat di Yogyakarta, dua minggu setelah Emha kembali ke Indonesia dari Melbourne, ada tulisan di website padhangmbulan.com berjudul “It’s Fuckin’ Punk” di mana Emha dikutip berpesan kepada para hadirin yang berkumpul untuk “lepaskan hewan dalam diri Anda – biarkan keliaran keluar!” Kiai Kanjeng juga menyajikan sebuah lagu bergaya punk dengan lirik menyerang korupsi.

Emha menjelaskan bahwa semangat dan energi kerja Iggy tidaklah bertentangan dengan nilai-nilai Islam; Raw Power, yang tampaknya liar dan tak dapat dijinakkan bukanlah sesuatu untuk dihindari; bahkan ia bisa dan harus memberikan energi atas apa yang kita kerjakan. Selama beberapa bulan kemudian, Emha terus mengacu pada konsep keliaran dan nilai-nilai intrinsiknya di banyak pertemuan dan acara. Unsur penting lain telah ditambahkan ke fusi campuran Kiai Kanjeng.

Emha saat ini sedang mendengarkan Lou Reed dan The Velvet Underground. Ke mana gerangan, saya bertanya-tanya, itu akan membawa kita …?

Catatan penerjemah:

Artikel ini saya ambil dari blog Silent Pilgrimage milik Ian l. Betts. Ian adalah penulis buku Jalan Sunyi Emha yang mengangkat perjalanan hidup Emha Ainun Nadjib. Mohon maaf apabila ada penerjemahan yang kurang sip. Ini latihan saya kembali setelah bertahun-tahun tidak lagi menggeluti bidang ini. hehe

cn000.png

putri-lingkungan-hidup-elfin-pertiwi-rappa

ada yang baca radar malang jawa pos edisi sabtu dan minggu kemarin gak? aku baru sadar kalo ada topik yg lagi hangat di harian itu beberapa hari terakhir: pemilihan putri lingkungan hijau!

pemilihan putri2an seperti ini lumayan sering diadakan dari yg skalanya besar seperti miss universe, miss indonesia, sampai yg skalanya lokal seperti kakang-mbakyu, cak&ning, atau guk&yuk dan jaka&rara. meski jelas2 tak lepas dari kepentingan (baca: eksploitasi) industri (pariwisata, televisi&media, perusahaan dll) tapi nyatanya sambutan dari para perempuan itu sangat dahsyat. mereka pasti cermat berhitung bahwa keikutsertaan mereka dalam ajang2 itu bisa menjadi semacam jalan pintas menuju kesuksesan (kalo menang).

kembali ke putri hijau tadi, alih2 menampilkan profil nominasi secara lengkap, penyelenggara hanya menampilkan wajah2 peserta di koran disertai umur dan pekerjaan saja. dari situ pembaca seperti saya akan gampang saja menentukan pilihan peserta terbaik. parameternya sederhana saja: wajah dan penampilan. kalo wajahnya cukup ayu, dan gaya dalam berfoto gak aneh2, misalnya meletakkan tangan dalam posisi silang di dada (sic!) atau merapatkan kedua tangan di bawah rahang (mungkin ia kedinginan waktu foto itu diambil) mungkin ia akan segera meraih hati saya. tapi penilaian saya itu juga bisa sangat menipu. apalagi kalo dikaitkan dengan embel2 putri lingkungan itu.

saya jadi berpikir, kira2 dewan juri menentukan pemenangnya dengan cara apa, ya? kalo dg melihat performance dan cara jalan ini kan bukan ajang modelling. kalo dari ipk atau prestasi akademik, ini kan bukan ajang pemilihan mhs/pelajar berprestasi. aha, mungkin peserta terbaik adalah peserta yg selama penilaian terbukti paling ramah thd lingkungan. tidak suka buang tissue, bungkus permen atau botol aqua dari mobil. selalu jalan kaki ke mana2 karena berpikir jalan kaki itu sehat, tdk bikin polusi, dan bbm harus dihemat. atau yg tidak terlalu lama di kamar mandi dan menghabis2kan banyak air.

wah, diam2 saya sudah punya pemenang putri hijau sendiri. 🙂

 

malang, 2005

kds

 

Wah, kapan iku entuk kabar nek Radio KDS 8, radio legendaris ndik Malang pindah panggonan. Iki salah siji radio lawas sing sik bertahan sampek sak iki. Omong2 soal KDS 8 aku malih iling cerito jaman SMA. Biyen pas kelas 2 SMA aku pernah melok kuis ndik radio iki. Kuis tebak2 judul lagu nek gak salah, dino Minggu sore. Iseng2 ae melok kuis, mergo nganggur ndik omah ganok gawean. Hehe. Lha kok menang. Wuih rasane seneng ra karuan.

Menene pas sekolah aku niat njupuk hadiahe. Pas jam istirahat karepku langsung budhal, nggone yo gak sepiro adoh teko sekolah. Nek numpak angkot mek sekali wis iso tekan nggone. Lhadalah beberapa konco mergoki aku pas arep budhal. Akhire salah siji konco sing duwe montor nawani ngeterno. Tak iyani ae, aku malah seneng, entuk tumpakan gratisan. Haha. Akhire aku karo kanca2 sak montor berangkat.

Begitu teko ndik KDS 8 ndik daerah Jl. Langsep, Malang, aku langsung mlebu kantore. Aku njujuk nang resepsionise, mbak2 ngono. Awak wis deg2an ae mergo mbayangno bakal entuk hadiah duit. Wis tak niati pokoke nek hadiahe duit, arep tak gawe nraktir arek2 marung Mie Ayam Muji ndik cidek Splendid. Mari nyebutno keperluan karo nunjukno tanda pengenal, paketan hadiah dibungkus kertas kado langsung dikekno aku karo mbak-e. Begitu paket tak tompo langsung aku mlayu mbalik nang konco2 ndik montor. Gak kesuwen, bungkuse langsung tak suwek, kreeekk..

Begitu plastik kebukak, tibak’e perkiraanku keliru, hadiahe duduk duit. Hadiahe kaos siji, kaine tipis, tur ndik bagian dadane ono merk’e obat.Kanca2 langsung ngguyu ngakak kabeh ngerti wujud kaose. Wah, rasido traktiran malihan. Akhire golek warung, mangan bayar dewe2. 😀

dauur

 

 

Hari ini genap 100 hari sudah Cak Nun menyapa anak-cucunya dan JM melalui Daur. 100 ini gak main-main, Rek. Coba cari di mana kau bisa menemukan seseorang secara istiqomah menyuguhkan tulisan, setiap hari berturut-turut tanpa putus hingga hari ke-100 dan belum ada tanda-tanda untuk berhenti.

Yang lebih menarik adalah jangan mengira ini cuma perkara kuantitas. Sama sekali bukan. Menurutku, tulisan sebanyak itu menunjukkan beberapa hal, antara lain kesungguhan, stamina dan daya tahan, dan terutama keotentikan sosok Cak Nun. Kita bisa coba baca Daur itu secara acak dari nomor mana saja, niscaya kita temukan gagasan-gagasan yang bernas dan aktual. Dalam Daur kita dapatkan renungan-renungan yang dalam tentang bangsa, umat Islam, (Jamaah) Maiyah dan banyak perihal kemanusiaan lain yang universal. Dalam Daur pula kita temui kisah-kisah penuh makna. Kadang cerita itu kocak dan mengundang senyum, amat mencerahkan. Seringpula kita berjumpa cerita yang penuh metafora, menantang kita untuk berfikir dan berharap menemukan pemahaman. (Kadang otak saya yang kemampuannya terbatas ini buntu dan tak mampu menemukan pemahaman atas berbagai metafora serta nama-nama di situ, akhirnya saya simpan ketidakpahaman itu dalam hati sembari diam-diam berharap suatu hari saya temukan jawabannya). Daur adalah kesegaran gagasan, kebaruan cara pandang (sangat khas Cak Nun) dan keliaran ide yang menggelitik dan inspiratif.

Daur adalah Cak Nun yang kembali hadir. Selama lebih dari satu dawarsa kita tak menjumpai tulisan beliau di koran, majalah, sosoknya bagai lenyap dari televisi nasional menyusul keputusan beliau untuk berpuasa dari media selama lebih dari satu dasawarsa terakhir. Tapi juga kurang tepat untuk menyebut Cak Nun telah kembali. Sejatinya ia selalu hadir, dan terus menerus hadir ke tengah kita, sendiri maupun bersama KiaiKanjeng. Daur adalah salah satu cara Cak Nun menyapa kita dalam perjalanannya “berkeliling semesta, menaburkan cinta di hutan, di sungai, dan di kota-kota.”

Dari pertama kali penayangannya di web caknun.com, Daur agak khusus sifatnya karena disebut jelas bahwa ia: diperuntukkan untuk anak cucu dan Jamaah Maiyah. Jamaah Maiyah mendapat keistimewaan dari Cak Nun, sampai beliau rela memberi mereka porsi perhatian agak banyak bahkan khusus. Tulisan-tulisan di Daur sangat pantas untuk masuk kolom-kolom dan halaman terbaik dari media massa terkemuka di negeri ini. Namun alih-alih mengirimkannya untuk masuk media massa, Cak Nun memilih untuk mensedekahkannya untuk Jamaah Maiyah.

Jamaah Maiyah patut tersanjung, dan wajib bersyukur mendapat keistimewaan begitu rupa. Namun pertanyaan berikutnya adalah sudahkah kita membaca Daur? Sudahkah kita mencoba, dengan segala keterbatasan kita masing-masing, mentadabburi berbagai hal yang Cak Nun ungkapkan, sibak, tanam dalam Daur?

 

Malang, 12 Mei 2016

1985a

Saya sering takjub dan tak henti terheran-heran menyaksikan sosok Emha Ainun Nadjib, atau lebih dikenal sebagai Cak Nun. Banyak hal besar dari kiprahnya bisa memancing rasa takjub saya selama ini, namun ternyata ketakjuban yang sama juga muncul dari hal sederhana, yakni setelah  membaca buku lama karya Cak Nun yang cukup tipis dan berukuran kecil dan terbit di tahun 1984 berjudul “Sastra yang Membebaskan: Sikap terhadap Struktur dan Anutan Seni Modern Indonesia”.

Menilik judulnya mungkin akan membikin kita mungsret atau sedikit berkecil hati. Judul yang terkesan susah dipahami. Bahasanya ilmiah dan kaku khas bahasa orang sekolahan. Namun perlu dicatat bahwa pemilihan judul ini bukannya tanpa alasan. Ia mewakili 11 tulisan Cak Nun dalam satu tema besar yang tersebar di media massa nasional, juga makalah diskusi di kampus-kampus besar di awal tahun 80an.

Di tahun 80an, Cak Nun telah dikenal masyarakat sebagai sastrawan ternama. Tulisan esai dan puisinya dimuat di Kompas, Horison, Buana Minggu dan sebagainya. Ia juga menjadi pionir dalam musikalisasi puisi bersama Kelompok Teater Dinasti. Bahkan boleh dibilang ia adalah pernyair terkuat dari Yogyakarta. Latar belakang ini penting diketahui saat kita menyimak tulisan-tulisannya yang terhimpun dalam buku di atas.

Salah satu tema menarik yang diangkat Cak Nun dalam tulisannya adalah polemik antara Sutan Takdir Alisyahbana di satu poros dengan Goenawan Mohamad di poros yang lain. Sutan Takdir berpijak pada sikap kesenian yang menuntut dirinya bertanggung jawab terhadap proses pengendalian kebudayaan manusia, dan karenanya menolak setiap kecenderungan eskapisme dari kebudayaan dan masyarakat seperti yang ditunjukkan oleh gejala keras individualisme seni modern. Sementara itu Goenawan berangkat dari ketidakpercayaan bahwa kesusasteraan bisa mempengaruhi masyarakat. Ia memilih sikap kesenian yang menitikberatkan pada ekspresi itu sendiri, lebih dari konsep atau ide di belakangnya. Kalau Takdir mengharuskan kesenian itu bertanggung jawab, Goenawan membatasi sistem forma kesenian dalam nilai dan disiplin seni itu sendiri, dan tanggung jawab sosial ‘dilimpahkan’ kepada perjuangan yang bukan kesenian, melainkan yang bersifat politik atau sosial.Bagi Cak Nun dua orang itu benar, mulia, dan sah, namun keduanya nampak kurang berusaha memahami kebenaran lain yang ada di luar diri mereka.

Cak Nun melangkah lebih jauh dengan berpandangan bahwa karya sastra yang terpencil dari masyarakatnya memang dikehendaki oleh sistem yang berlaku saat itu (bermula dari sistem dan struktur masyarakat kapitalis dan seterusnya). Menurutnya, seni model Goenawan dkk memang cenderung lebih mengamankan sistem yang ada. Aliran tersebut ‘menyelamatkan diri’ ke dalam disiplin nilai seni yang lebih tersendiri (untuk tidak menyebut eksklusif). Sebagai aliran ia sah dan tak salah, namun ia bermasalah saat ia menghembuskan suatu gelombang nilai yang menafikan lain-lain.

Dari tulisan lain yang berjudul “Batas Komitmen Sastra Kita terhadap Nasib Manusianya” kita bisa menyaksikan dengan jelas pandangan Cak Nun terhadap sastra dalam hidupnya, hal mana secara konsisten ia pegang teguh hingga sekarang.  Dalam era yang berkembang saat itu, menurut Cak Nun , sebagian sastrawan mendekati sastra secara intelektual, spesialistis, alias menempat sastra dalam ruang tersendiri, terpisah dari hal-hal lain.Mereka meletakkan diri dalam konstelasi kesusasteraan dunia. Dari situ mereka bertitik tolak dan berorientasi dalam berkarya. Cak Nun mengambil posisi yang berseberangan. Ia meletakkan sastra tidak sebagai titik tolak melainkan lebih sebagai salah satu pilihan ekspresi saja. Bingkai atau perspektif kegiatannya bukan perspektif kesusastraan belaka melainkan perspektif kehidupan yang menyeluruh. Artinya pergulatannya bukan pergulatan kesusasteraan, karena kesusasteraan hanya merupakan ungkapan reflektif darisuatu pergulatan yang lebih kompleks sifatnya. Dari pintu inilah menjadi jelas bagi kita dalam memandang kerangka sepak terjang kegiatan Cak Nun dari ia muda hingga saat ini. Ia sastrawan ternama, namun tidak hanya karena kotak sastra/kesastrawanannya ia bisa seperti tak pernah berhenti berkeliling ke segala penjuru negeri hingga lintas negara. Ia sastrawan besar namun pergulatan hidupnya menembus kotak kesusasteraan, bahkan melintasi batas strata sosial, pendidikan, agama, suku, ras dan sebagainya.

Penguasaan yang mumpuni terhadap sastra telah menjadi salah satu bekal yang sangat berguna bagi Cak Nun dalam pergulatan yang kongkrit terhadap masalah-masalah kehidupan di masyarakat. Ia dengan luwes bisa berbicara dalam forum yang audience-nya heterogen. Ia paham benar bagaimana mengawali komunikasi, bagaimana meningkatkan progresinya, bagaimana mengikat keadaan, bagaimana memeliharanya dan menggiring massa ke substansi yang ia inginkan. Inisiasinya untuk melibatkan Karawitan Dinasti pada 80an, dan kemudian Kiai Kanjeng sejak 1998 ke dalam acara-acara Cak Nun , terbukti sangat tepat dan efektif dalam melayani masyarakat.

Pada tulisan terakhir di buku ini yang berjudul “Menghadirkan Puisi Di Mana-mana pun.. Sampai Sastra yang Membebaskan” kita akan menjumpai pernyataan Cak Nun yang lebih menyerupai sebuah kredo terhadap segala kegiatan yang ia lakukan. Ungkapan ini menakjubkan karena pernyataan yang ia tulis lebih dari 30 tahun yang lalu ini seperti merangkum dan menjadi benang merah atas semua aktivitas yang dilakukan Cak Nun dari muda hingga saat ini. “Aku mengerjakan keyakinanku tentang kewajiban manusia  untuk selalu memperbaiki seluruh segi dirinya. Aku menyatakan simpati dan cinta kasihku kepada mereka yang dimiskinkan jiwa raganya. Aku membuktikan tanggung jawabku terhadap mimpi-mimpi sendiri tentang kehidupan yang lebih hidup.”

 *

Judul: Sastra yang Membebaskan: Sikap terhadap Struktur dan Anutan Seni Modern Indonesia. Penulis: Emha Ainun Nadjib. Penerbit: PLP2M. Tahun terbit: 1984. Jumlah halaman: x, 136 halaman

 

 

mlg--

Foto masyarakat menyambangi lapak2 buku bekas ini sepertinya diambil di pusat kota Malang, selatan alun2, di tahun 80an.

Saat remaja dan bersekolah tak jauh dari daerah ini, sekitar 90an, pemandangan di atas sudah tak bisa saya saksikan lagi. Saat itu, lapak buku bekas di Malang terpusat di dua lokasi, yakni sekitar Jl. Majapahit yg bersebelahan dengan Pasar Burung, dan sekitar Jl. Sriwijaya, persis depan Stasiun Kota Baru. Buku-buku baru dan bekas mudah dijumpai di dua lokasi tesebut dengan harga yg bersahabat.

Sekitar 2003, Pemerintah Kota Malang menggusur lapak2 buku Majapahit dan Sriwijaya itu dengan alasan penataan taman kota. Lapak2 buku di Jl. Majapahit dipindah ke daerah Jl. Wilis, lokasi yang strategis karena cukup dekat dengan Jl. Ijen dan kompleks perguruan tinggi di Malang, sedangkan lapak2 di Jl. Sriwijaya dipindah menjauh dari perkotaan, yakni ke daerah Madyopuro, dan menempati kios2 di luar Velodrome (sarana olahraga sepeda).

Sama2 berpindah lokasi, nasib dua tempat lapak ini amat berbeda. Lapak Wilis, karena kemudahan akses dan jangkauan, tidak kekurangan pengunjung, bahkan amat ramai di waktu2 tertentu sesuai jadwal sekolah/kuliah. Tak jarang orang2 dari luar kota sekitar Jawa Timur datang berombongan ke Wilis dan memborong buku. Sedang lapak di sekitar Velodrome, agak mengenaskan nasibnya. Di hari2 biasa, pengunjungnya amat minim, bahkan bisa dihitung dengan jari. Mereka hanya sedikit ramai pengunjung di akhir pekan, itupun tertolong oleh keberadaan Pasar Minggu tepat di sekitar Velodrome yang rutin diadakan tiap Minggu pagi.

Menyaksikan kondisi perbukuan di Malang hingga saat ini, terlebih dengan fakta bahwa di bekas lahan lapak buku Jl. Sriwijaya kemudian malah dibangun pujasera, pemerintah memang tampaknya tidak cukup peduli akan kecerdasan warganya.

Viva Cuba! ini adalah kumpulan sajak oleh para penyair kiri yang tergabung di Lekra seperti Agam Wispi, Sitor Situmorang, Budiman Sudarsono, S. Anantaguna, A.R. Hadi, Hr. Bandaharo, Lelonokaryani, T. Iskandar, A.S., M.A. Simandjuntak, Amarzan Hamid, dll. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Bag. Kebudayaan Kedutaan Besar Kuba pada 1963.

Keseluruhan isinya adalah puisi2 mengenai Kuba dlm sudut pandang para penyair tsb: ada rasa kekaguman, puji2, ungkapan solidaritas dan persahabatan. Salah satu yang saya suka adalah puisi Agam Wispi berjudul “Tidak akan Pernah Kuba Menjerah”. Puisi sepanjang 7 halaman (!) ini begitu menggigit, garang, sekaligus indah.

Yang ingin mengunduh buku ini dalam bentuk pdf langsung saja klik ke tautan berikut ini. Salam..

Viva Cuba!