June 2007


Peeping Tom - s/t

Mike Patton bikin proyek eksperimental? Gak aneh sama sekali. Orang ini memang rajanya proyek-proyek kolaborasi. Musisi metal hingga jazz pernah digamitnya bekerja sama. Mulai dari John Zorn, The Melvins, The Dillinger Escape Plan, Sepultura, hingga Merzbow. Puaskah ia? Tampaknya belum. Setidaknya itu yang tampak dari kemunculannya dengan proyeknya yang paling anyar, Peeping Tom.

Peeping Tom adalah sebuah proyek yang disebut Patton sebagai definisinya terhadap musik pop. Dalam website Ipecac (perusahaan rekaman miliknya, yang memproduseri album ini juga) ia berkata “aku tak pernah mendengarkan radio, tapi kalau aku dengar radio musik-musik seperti ini (Peeping Tom) lah yang aku ingin dengar.” Seperti apakah musik Peeping Tom? Agak susah dipastikan, yang pasti tak semata perpaduan antara hip-hop, rock, or pop. Ada juga trip-hop, elektronika, soul, ambient dan bossa nova. Campur-campur mirip karnaval. Khas Patton.

Anda barangkali akan susah cepat jatuh hati pada album ini, apalagi sekali dengar. Tapi barangkali di situlah terletak keistimewaannya. Melalui Mojo (kolaborasi dengan Rahzel dan Dan the Automator), Sucker (dengan Norah Jones), dan Caipirinha (dengan Bebel Gilberto) Anda bisa mulai menikmati album ini pelan-pelan. Putar lagi beberapa kali. Kalau Anda tak kunjung suka, apalagi malah bingung itu bukan salah saya!. Hehe.

Peeping Tom – Peeping Tom, Ipecac Recording 2006

Post Rock at Its Best

Banyak dari kita belum lahir saat Black Sabbath dan Led Zeppelin mendunia. Sebagian yang lain tidak sempat menyaksikan era Megadeth dan Slayer. Exodus atau Dark Angel. Kita melewatkan perkembangan musik metal. Tapi setidaknya sekarang kita punya Isis.

Dalam beberapa tahun Isis telah berkembang, dari sekadar band yang dianggap sebagai peniru Neurosis yang buruk menjadi band yang memiliki identitas sendiri bahkan kemudian malah sama berpengaruhnya dengan Neurosis. Mereka telah membawa metal menuju suatu formula yang sepenuhnya baru dan menginspirasi ratusan anak muda untuk mengikuti jejaknya. Beberapa waktu lalu Isis menelurkan album yang mungkin karya terbaik mereka sejauh ini, In the Absence of Truth.

Saat merilis Panopticon banyak yang bilang bahwa Isis telah sold out, kalau Anda sependapat dengan pendapat tersebut, album ini takkan menampakkan hal yang secara radikal berbeda. Namun hanya idiot yang tak mampu menangkap progresi yang mereka capai.

Yang pertama dan utama dari In the Absence of Truth: Isis adalah band yang selalu mampu membangkitkan imaji sebuah dunia lain, maka tak heran bila mereka seperti hilang kesadaran dalam trance progresif yang mereka ciptakan sendiri. Dalam In the Absence of Truth, Isis berada di antara dataran tak berpenghuni post-hardcore dari Neurosis, steroid shoegaze dari Jesu, dengan konotasi melodi yang dalam beberapa segi mengingatkan kita pada Opeth, namun masih kasat sound Amerika.

Dengan album ini Isis sungguh-sungguh melakukan usaha redefinisi mereka sendiri dengan menjelajah wilayah-wilayah yang tak pernah dijangkau band post-rock manapun. Nuansa sludge memang masih terdengar di sana-sini namun band ini lebih menitikberatkan pada melodi yang menghipnotis dan membangkitkan halusinasi. Sound mereka sejajar dengan grup-grup seperti Red Sparowes dan Battle of Mice.

Ini adalah sebuah musik yang mengapung dalam samudera ilusi bahagia; suatu perjalanan ruhani bukannya perjalanan ragawi. Ini adalah kepingan-kepingan mimpi, yang tidak sepenuhnya jahat maupun baik, seperti pecahan-pecahan kaca yang memantulkan sosok Anda kepada diri Anda sendiri.

In the Absence of Truth adalah album yang indah. Sungguh, album ini tidak seperti beberapa album Isis sebelumnya. Mungkin saja akan timbul dikotomi besar pada pendengar abum ini setelah peluncurannya tapi ini tetap musik yang akan menyenangkan, baik bagi pemadat maupun pemikir. In the Absence of Truth adalah sebuah soundtrack bagi pencarian diri.

Isis, In the Absence of Truth, Ipecac Recording 2006

Mike PattonApa yang terjadi kalau musisi rock paling berbakat, paling sibuk, dan paling kaya ide di planet ini memutuskan untuk membawa trip-hop ke abad 21? Barangkali jawabnya adalah Peeping Tom.

Peeping Tom adalah proyek terbaru dari Mike Patton (pentolan Faith No More, Tomahawk, Mr. Bungle, & Lovage). Dalam band ini Patton menunjukkan pada kita bagaimana definisinya akan musik pop: elektrik, sensual dan variatif. Sederetan nama digamit berkolaborasi, Norah Jones (rasanya cuma Patton yang mampu membuat Jones bernyanyi dengan sensual seraya mendesahkan “”What makes you think you’re my only lover? The truth kinda hurts don’t it motherfucker?”), Odd Nosdam, Rahzel, Dan the Automator, Kid Koala, Amon Tobin dan Kool Keith (Prodigy). Berikut wawancara dengannya melalui email:

Sedang dengar apa sekarang? Band yang paling berpengaruh bagi Anda dan Peeping Tom?

Akhir-akhir ini saya sangat senang Sigur Rós, Burt Bachrach dan Gnarls Barkley.

Apa pendapat Anda tentang Mash-up saat ini? (Mash-up adalah genre musik yang mencampurkan dua lagu atau lebih menjadi satu. Kalau Anda pernah mendengar lagu Green Day “Boulevard of a Broken Dreams’ digabungkan dengan “Wonderwall” punya Oasis, nah, itu adalah contoh mash-up)

Seperti hal lain, ada yang bagus ada juga yang SANGAT buruk.


Mash-up telah mengenalkan saya pada jenis musik dan musisi-musisi baru yang mungkin tak akan pernah saya ketahui sebelumnya.
Apakah Anda pikir mash-up juga dapat memperluas pendengar musik Anda? Melebarkan basis fans?

Saya kira tidak. Sejujurnya menurut saya musik jenis ini tak akan bertahan terlalu lama. Tapi musik seperti itu menyenangkan.

Kalau begitu apakah mash-up membawa pengaruh buat Anda saat Anda membentuk Peeping Tom?

Tidak terlalu, apalagi kepala saya sendiri sudah seperti mash-up yang paten.

Apa yang berpengaruh pada Anda untuk Peeping Tom? Secara umum musik-musik apa yang berpengaruh terhadap Anda.

Saya tidak membatasi diri saya terhadap pengaruh-pengaruh. Segala sesuatu dalam hidup saya membawa pengaruh pada saya, mulai kopi pagi hari hingga tiap makanan yang saya santap. Susah dijelaskan. Danny Devito berpengaruh terhadap saya!

Apa pendapat Anda mengenai download musik, juga hak menjadikan CD yang telah dibeli seseorang menjadi MP3? Apakah menurut Anda seseorang sebaiknya diperbolehkan melakukan apa saja terhadap CD yang mereka beli? Ini adalah isu yang cukup ramai sekarang dan sebagai seorang artis sekaligus pemilik label, Anda mungkin memiliki sudut pandang yang menarik tentang hal ini.


Saya menyukai iPod dan MP3 player. Saya menyukai gadget. Kalau Anda mengeluarkan uang untuk mendapatkan CD musik, Anda juga memiliki kebebasan untuk mendengarkan musik dalam CD itu dalam bentuk apapun. Tapi Anda sebaiknya tidak mendistribusikan ulang musik itu meski Anda menginginkannya. Ini situasi yang sulit, meski jujur saja kenyataannya seluruh isu ini sangat jauuuuuh sekali dari jangkauan si artis, dan ini mengganggu saya.
Saya tidak peduli apa yang dipikirkan label atau “industri musik.”


Apakah Anda familiar dengan penanda sosial seperti del.ico.us atau TailRank. Bagaimana Anda akan memberi tag pada Peeping Tom?

Tidak, saya tidak familiar. Tapi saya mungkin tak tertarik untuk memberi Peeping Tom tag nama penyakit-penyakit yang bersliweran.

Setelah mendapat penjelasan singkat tentang penanda sosial, Mike kembali dengan tag-nya untuk Peeping Tom:
Seksi, platinum, Lakers, makanan, Devito, merunduk, zzzzzzzzzzzzzzzzzzzz

Di mana posisi Anda saat ini? Apa pengaruh tempat Anda saat ini bagi Peeping Tom?

Saya berada di mana? Di San Francisco, siap memulai tur. Sedang berbahagia lebih dari sebelum- sebelumnya.


Apa ada hal-hal lain dari Peeping Tom setelah album dan tur ini?

Ya, banyak lagi.

Anda dikenal sebagai rajanya proyek sampingan, proyek lain apa yang sedang Anda kerjakan sekarang? Atau ada proyek solo lain?

Banyak yang sedang saya kerjakan saat ini. Album baru Tomahawk. Rekaman orkestra bersama Eyvind Kang, beberapa musik untuk film, juga Lovage.

Di internet saya banyak mendapati Anda menyebut diri Anda sebagai seorang jenius. Benarkah? Atau itu cuma suara-suara di kepala Anda?

Mendekati jenius pun tidak.


Menurut Anda siapa musisi jenius yang saat ini masih hidup?

Willie Nelson, Ennio Morricone, Jerry Lee Lewis.

Apa track favorit Anda dari album Peeping Tom dan apa alasannya? Apa track yang bukan favorit Anda dari album Peeping Tom dan apa alasannya?

Tidak. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Semua lagu itu anak-anak saya!!

Um..pertayaan terakhir dari saya, bagaimana ceritaya Anda bisa membuat Norah Jones mengucapkan motherfucker? Dalam nada yang begitu sensual pula?

Anda ingin tahu kenyataannya? Well, rumor yang mengatakan bahwa Norah mau mengucapkan kata itu karena kalah dalam permainan truth or dare sesungguhnya tidak benar. Jawaban pertanyaan Anda simpel sekali.. karena saya meminta ia melakukannya. Ia orang yang hebat dan benar-benar artis yang sangat berbakat.

Dan begitulah, dengan dijawabnya pertanyaan terakhir saya oleh Mike, wawancara kami berakhir. Apabila Anda ingin mendengarkan beberapa lagu dari album debut Peeping Tom, Anda bisa mengunjungi alamat MySpace Peeping Tom di http://www.myspace.com/peepingtomispatton

Wawancara oleh A.L Harper, Assistant Music Editor di Blogcritics.com

sujiwo tejo.Jumat lalu saya menyaksikan pentas Mas Tejo di Festival Seni Surabaya dalam pentas bertajuk Indonesia, Jo!. Meleset dari perkiraan saya sebelumnya ternyata Tejo tidak menampilkan lagu2 dari album terdahulu (kecuali lagu Pada Suatu Ketika) justru membeber lagu-lagu terbaru yang akan muncul di album keempatnya nanti.

Dalam lagu2 barunya saya menangkap kritik yang lebih eksplisit dan refleksi Tejo terhadap keadaan bangsa yang dalam. Di lagu Fabel, Tejo bercerita tentang negeri yang menteri-menterinya terdiri atas sekumpulan binatang. Ada gajah sebagai menteri dalam negeri, ular sebagai jaksa agung, dan tikus sebagai Menteri Perindustrian. Meski bukan hal baru karena tema yang sama sudah pernah muncul antara lain di beberapa karya prosa, tapi tema itu saya kira sangat relevan dengan situasi bangsa saat ini dan Tejo menemukan momen yang tepat. Penyampaiannya juga jenaka menambah kelebihan lagu ini. Lagu lain berjudul Presiden Iya Iyo, serta Masih Ada Harapan.

Saya dua kali menonton pentas musik Tejo, pertama kali di Balai Unmer Malang sekitar tahun 1998 waktu dia promo album perdana, dan kedua di FSS ini. Ada perbedaan signifikan antara pentas Tejo dulu dan sekarang. Dahulu dia membawa serombongan acapella, bernyanyi dengan iringan gamelan dipadu instrumen modern. Nuansa musik daerahnya kental sekali. Tapi di FSS kemarin musik Tejo lebih condong ke jazz dengan instrumen tiup (saxophone) agak dominan. Penyebabnya barangkali karena akhir2 ini Tejo menggamit Bintang Indrianto yang populer sebagai bassis/musisi Jazz untuk menggarap musiknya.

Perkembangan musik Tejo tetap menarik saya kira, meski beberapa penggemar album Tejo lama bisa jadi akan mengernyitkan dahi mendengar lagu2 barunya. Dulu lagu2 Tejo tergolong easy listening, meski tak paham bahasa yg dipergunakan namun kebanyakan penyimak musik Tejo akan mudah ikut menyenandungkan lagu2 itu dalam keseharian. Sedang lagu2 dari album terakhir (dan album barunya nanti kira2) akan lebih sukar dicerna. Kita perlu mendengar album itu berulang2 untuk sampai pada maksud yang ingin ia sampaikan. Ditambah lagi pilihannya untuk mengusung musik jazz, genre yang lumayan tak populer untuk kebanyakan orang Indonesia.

Dalam dialog usai pentas Tejo mengaku bahwa aktivitas bermusik yang ia (dan grup musik pengiringnya) lakukan sama sekali bukan proyek cari uang. “Untuk membiayai pementasan aku seringkali melukis figur seseorang, seperti Ishadi S.K. misalnya, lantas setelah lukisan itu jadi aku sodorkan lukisan itu kepadanya, aku bilang ‘aku mau pentas ini lukisan terserah kau mau hargai berapa’ ,” katanya. Sebuah potret menarik di tengah arus industri musik modern yang berlimpah modal. Ternyata modal bukan halangan bagi Tejo untuk terus berproses, terus berkarya, dan tanpa henti menumbuhkan harapan.