becoming che

 

saya selalu mengagumi para penerjemah. sedikit pengalaman saya menggeluti bidang ini memberikan saya keyakinan bahwa penerjemahan bukan tugas yang gampang. bukan hanya penerjemah dihadapkan pada tugas mengalihbahasakan sekaligus memindahkan gagasan penulis asing ke dalam bahasa kita, namun juga karena mereka dituntut kreatif dan mau menambah wawasan terus menerus akan hal-hal yang berkembang di luar dunianya.

hal itu saya rasakan ketika saya mendapat tawaran dari gagas media untuk menerjemahkan novel ‘wilt’ karya tom sharpe dan kemudian ‘becoming che’ karangan carlos ferrer.

dari editor saya dengar bahwa buku2 tom sharpe sedang lumayan populer di eropa, karena itu mereka coba tawarkan ke pembaca indonesia. novel ini bahkan telah
difilmkan di tahun 1989. tantangan sekaligus beban bagi penerjemah, pikir saya.

wilt dikerjakan oleh dua orang. pelajaran yang saya petik dari penerjemahan oleh dua orang (apalagi lebih) adalah: dua kepala berarti dua gagasan yang berbeda, pemilihan istilah yang berbeda, dan semangat yang berbeda. masalah semakin kompleks karena wilt banyak mempunyai banyak istilah-istilah slang kasar inggris dan kosakata kontemporer yang berkaitan dengan seks! untuk slang saya masih bisa membuka kamus atau bertanya pada teman pengajar bahasa tapi untuk yang terakhir saya benar2 hampir putus asa, apalagi tak ada moammar emka di dekat saya. hehe. untunglah ada wikipedia dan google. kepada dua penggagas situs itu rasanya ribuan terima kasih saya tak cukup.

setelah terjemahan wilt selesai, ada rentang yang cukup panjang sebelum buku itu terbit. saya kira editor memiliki tugas lebih berat karena ia tak cukup memeriksa dan mengoreksi seperlunya namun juga harus menyinkronkan hasil terjemahan dua orang itu.

pengalaman yang berbeda saya dapatkan saat mengerjakan becoming che. ini adalah catatan perjalanan che guevara keliling amerika latin yang kedua (che pertama keliling bersama alberto granado, sedang yg kedua dengan calica ferrer). secara umum saya tidak terlalu mengalami kesulitan mengerjakan terjemahan buku ini karena penulisnya, calica, menggunakan teknik bertutur yang mengalir lancar dan jarang menggunakan idiom yang asing. hanya ketika ia mengutip ucapan/tulisan2 asli dalam catatan harian che-lah dahi saya jadi berkerut. che menulis bagai sastrawan ulung! metaforanya yang bertebaran saat melukiskan gunung2 di venezuela, atau keindahan macchu picchu membuat saya sering kehabisan kata-kata dan berpikir lama untuk mendapatkan terjemahan terbaiknya. jadi inilah kesulitan penerjemah sastra, batin saya. ia tak hanya mesti memindahkan tulisan asing namun juga gagasan, serta yang paling penting, keindahan yang ada di sana.

dari editor saya mendapat pelajaran agar lebih berani memotong kalimat2 panjang dan agar menggunakan bahasa yang tak terlalu baku . dua hal ini saya kira masih sangat terbuka untuk diperdebatkan namun mengingat tiap redaksi penerbitan mempunyai kebijakan masing2, itu adalah sesuatu yang patut dihormati jadi saya serahkan sepenuhnya pada editor untuk membedahnya.