November 2007


Kelurahan Kedinding Lor terletak di Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya. Di atas tanah kurang lebih 3 hektar berdiri Pondok Pesantren Al-Fithrah yang diasuh Kiai Ahmad Asrori, putra Kiai Utsman Al-Ishaqy. Nama Al-Ishaqy dinisbatkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena Kiai Utsman masih keturunan Sunan Giri. Semasa hidup, Kiai Utsman adalah mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dalam dunia Islam, tarekat Naqsyabandiyah dikenal sebagai tarekat yang penting dan memiliki penyebaran paling luas; cabang-cabangnya bisa ditemukan di banyak negeri antara Yugoslavia dan Mesir di belahan barat serta Indonesia dan Cina di belahan timur. Sepeninggal Kiai Utsman tahun 1984, atas penunjukan langsung Kiai Utsman, Kiai Ahmad Asrori meneruskan kedudukan mursyid ayahnya. Ketokohan Kiai Asrori berawal dari sini.

Tugas sebagai mursyid dalam usia yang masih muda ternyata bukan perkara mudah. Banyak pengikut Kiai Utsman yang menolak mengakui Kiai Asrori sebagai pengganti yang sah. Sebuah riwayat menceritakan bahwa para penolak itu, pada tanggal 16 Maret 1988 berangkat meninggalkan Surabaya menuju Kebumen untuk melakukan baiat kepada Kiai Sonhaji. Tidak diketahui dengan pasti bagaimana sikap Kiai Asrori terhadap aksi tersebut namun sejarah mencatat bahwa KiaiArori tak surut. Ia mendirikan pesantren Al-Fithrah di Kedinding Lor, sebuah pesantren dengan sistem klasikal, yang kurikulum pendidikannya menggabungkan pengetahuan umum dan pengajian kitab kuning. Ia juga menggagas Al-Khidmah, sebuah jamaah yang sebagian anggotanya adalah pengamal tarekat Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Jamaah ini menarik karena sifatnya yang inklusif, ia tidak memihak salah satu organisasi sosial manapun. Meski dihadiri tokoh-tokoh ormas politik dan pejabat negara, majelis-majelis yang diselenggarakan Al-Khidmah berlangsung dalam suasana murni keagamaan tanpa muatan-muatan politis yang membebani. Kiai Asrori seolah menyediakan Al-Khidmah sebagai ruang yang terbuka bagi siapa saja yang ingin menempuh perjalanan mendekat kepada Tuhan tanpa membedakan baju dan kulit luarnya. Pelan tapi pasti organisasi ini mendapatkan banyak pengikut. Saat ini diperkirakan jumlah mereka jutaan orang, tersebar luas di banyak provinsi di Indonesia, hingga Singapura dan Filipina. Dengan kesabaran dan perjuangannya yang luar biasa, Kiai Asrori terbukti mampu meneruskan kemursyidan yang ia dapat dari ayahnya. Bahkan lebih dari itu, ia berhasil mengembangkan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ke suatu posisi yang mungkin tak pernah ia bayangkan.

Kiai Asrori adalah pribadi yang istimewa. Pengetahuan agamanya dalam dan kharisma memancar dari sosoknya yang sederhana. Tutur katanya lembut namun seperti menerobos relung-relung di kedalaman hati pendengarnya. Menurut keluarga dekatnya, sewaktu muda Kiai Asrori telah menunjukkan keistimewaan-keistimewaan. Mondhoknya tak teratur. Ia belajar di Rejoso satu tahun, di Pare satu tahun, dan di Bendo satu tahun. Di Rejoso ia malah tidak aktif mengikuti kegiatan ngaji. Ketika hal itu dilaporkan kepada pimpinan pondok, Kiai Mustain Romli, ia seperti memaklumi, “biarkan saja, anak macan akhirnya jadi macan juga.” Meskipun belajarnya tidak tertib, yang sangat mengherankan, Kiai Asrori mampu membaca dan mengajarkan kitab Ihya’ Ulum al-Din karya Al-Ghazali dengan baik. Di kalangan pesantren, kepandaian luar biasa yang diperoleh seseorang tanpa melalui proses belajar yang wajar semacam itu sering disebut ilmu ladunni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT). Adakah Kiai Asrori mendapatkan ilmu laduni sepenuhnya adalah rahasia Tuhan, wallahu a’lam. Ayahnya sendiri juga kagum atas kepintaran anaknya. Suatu ketika Kiai Utsman pernah berkata “seandainya saya bukan ayahnya, saya mau kok ngaji kepadanya.” Barangkali itulah yang mendasari Kiai Utsman untuk menunjuk Kiai Asrori (bukan kepada anak-anaknya yang lain yang lebih tua) sebagai penerus kemursyidan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah padahal saat itu Kiai Asrori masih relatif muda, 30 tahun.

Saat ini, dalam usianya yang menginjak senja, kondisi fisik Kiai Asrori melemah seiring sakit yang ia derita namun semangat perjuangannya tak kendur. Sakit tidak menjadi halangan baginya untuk menempuh perjalanan-perjalanan jauh demi menyapa kaumnya. Saya menyaksikan semangat pengabaian diri dalam sosok rendah hati itu. Dalam suatu kesempatan Ramadhan kemarin, Kiai Asrori datang ke acara Al-Khidmah di Malang di atas kursi roda. Ia mesti dipapah beberapa orang untuk sampai ke podium. Pemandangan yang memilukan. Setelah memimpin zikir ia memberikan tausiyah yang lebih terasa seperti wasiat. Ia berpesan dua hal, “sing wani ngalah karo wong, lan sing wani ngapik’i wong (agar berani mengalah kepada orang lain serta berani berbuat baik kepada orang lain).” Pesan yang singkat dan sederhana. Namun justru kesederhanaan semacam ini selalu menggetarkan karena makin jarang kita temukan dalam kehidupan kita dewasa ini.

Saya tiba-tiba merasa takut kehilangan.

KH Asrori Al-Ishaqy

 

album baru sigur ros

sigur ros meluncurkan album musik barunya, ‘hvarf-heim’ menyusul peluncuran film pertama mereka ‘heima’.

dibuat dengan semangat film dokumenter, ‘heima’ adalah kisah perjalanan band ini selama dua minggu melakukan pertunjukan gratis seantero islandia. banyak lokasi unik menjadi setting film itu; kota-kota tua, taman nasional, aula kecil, hingga tempat-tempat tak terjamah di ketinggian islandia yang terkenal buas. film ini juga merekam pertunjukan terbesar dalam karir sigur ros -juga dalam sejarah musik islandia- yakni saat mereka bermain di daerah asal mereka yaitu reykjavik.

‘heima’ adalah sebuah potret intim yang tak hanya merekam sigur ros dari jarak yang amat dekat namun juga memperlihatkan islandia sebagai suatu tempat yang terisolasi, ajaib, dan seperti tak tersentuh manusia.

sementara itu, album musikal ‘hvarf-heim’ adalah kumpulan lagu-lagu rarities dan beberapa lagu sigur ros dari album terdahulu dalam versi akustik.

cukup satu kata untuk menggambarkan album ini: fantastis. semenjak pertama mendapatkannya dari internet, saya tak berhenti mendengarkan album dua sisi ini. sisi pertama, ‘hvarf’ (yang kalau diindonesiakan kira-kira berarti ‘tempat berteduh’) menampilkan 5 lagu indah yang nyaman di telinga. ambil lagu-lagu terbaik dari album agaetis byrjun, ( ), dan takk, maka seindah itulah lagu-lagu rarities ini. meski tak paham dengan kata-kata yang diucapkan/digumamkan jonsi, vokalis sigur ros yang gay itu, nuansa magis dari lagu-lagu itu akan tetap sampai pada pendengar. (bukankah musik adalah bahasa universal?).

sedang dalam sisi ‘heim’ (berarti ‘rumah’ dalam bahasa indonesia), memperlihatkan bahwa kadang sebuah lagu bisa lebih bernyawa saat dibawakan secara live. keenam lagu di sini menunjukkan hal itu. simak ‘staralfur’ dan ‘von’ dan anda akan tergetar oleh nuansa galau dan suram yang menggayut sepanjang lagu. dan harus diakui, betapa mengagumkan penghayatan jonsi pada lagu-lagu itu.

afterall, ini adalah salah satu album terbaik sigur ros. bagi anda penyuka sigur ros namun sering pusing dengan beberapa lagu eksperimental mereka, album ini akan segera merebut telinga, dan hati anda.


efek rumah kaca

selalu ada yang bernyanyi dan berelegi/ di balik awan hitam.

potongan lirik lagu ‘desember’ di atas kiranya cukup mampu menggambarkan kehadiran efek rumah kaca di panggung musik indonesia saat ini.
di tengah gelombang band-band baru dengan musik serba mendayu dan lirik cinta-cintaan yang klise, efek rumah kaca menyeruak membawa kesegaran.

adalah cholil, adrian dan akbar, 3 orang penghembus udara segar itu. mengusung musik indie-rock yang guitar-oriented, efek rumah kaca adalah gabungan antara musik yang sederhana dan lirik yang cerdas.
menyimak album mereka membuat saya serasa terbang ke suatu masa saat awal-awal mendengar album debut coldplay. saya seperti tersadar bahwa banyak wilayah yang belum terjelajahi dalam musik indonesia, dan kita beruntung: efek rumah kaca berhasil menguak sebuah sudut dalam wilayah itu.

dalam musik efek rumah kaca kita mungkin akan mendapati jejak-jejak musisi inggris seperti travis dan radiohead, juga jeff buckley, namun alih-alih meniru para pengilham besar itu, efek rumah kaca agaknya mampu menciptakan kekhasannya sendiri. tak ada lagu yang terlalu keras di album ini, hanya ‘cinta melulu’ dan ‘insomnia’ yang up-tempo. selebihnya adalah lagu-lagu pelan, seperti ‘debu-debu berterbangan’, ‘melancholia’, dan ‘desember’, yang semuanya terdengar nglangut dan menghantui. dalam lagu-lagu tersebut, vokal cholil yang merdu seperti menghipnotis.

eksplorasi tema dalam album debut ini harus diakui agak luar biasa, dan itu juga menjadi keistimewaan album ini. dimulai dengan ‘jalang’, tentang para pengklaim kesucian yang suka melemparkan stigma negatif kepada pihak yang berbeda dengan mereka, lalu ‘belanja terus sampai mati’ yang mengkritik konsumerisme manusia urban, ‘di udara’ yang menunjukkan perlawanan terhadap setiap upaya pembungkaman perjuangan kemanusiaan, hingga, yang menjadi favorit saya, ‘desember’. penulis lagu ini, seperti saya juga, (hehehe), menyukai saat-saat sehabis hujan. sebab ia berharap hujan itu akan meretas dan memulihkan luka.

sebuah debut yang menjanjikan. banyak lagu dalam album ini berpotensi menjadi hit, dan anda barangkali akan mempunyai favorit anda sendiri-sendiri. seumpama saya mati esok hari, saya tak akan lebih berbahagia selain terlebih dahulu memperdengarkan album ini pada anda dan orang-orang terdekat saya.

efek rumah kaca, s/t, pavilliun records, 2007

 

welcome.jpg

 

Suatu Minggu pagi, jam baru menunjukkan pukul enam. Sepagi itu biasanya orang-orang mungkin belum terlalu lama bangun. Lainnya mungkin baru bersiap hendak pergi berolah raga, atau berangkat ibadah ke gereja. Tapi ada suasana lain di kawasan sekitar Masjid Baitur Rahman Kepanjen. Di ibu kota kecamatan yang terletak sekitar 10 km dari pusat Kota Malang itu terlihat kesibukan yang menyita perhatian. Di berbagai sudut jalan terlihat ucapan selamat datang. Dari berbagai arah, kendaraan-kendaraan berdatangan, memuntahkan ribuan orang. Satu per satu manusia turun. Kemudian sama berjalan bergegas, berbondong-bondong menuju sebuah panggung megah dengan dekorasi menarik yang terletak di depan masjid.

Ya, panggung itu adalah pusat bagi perhelatan ritual bertajuk Haul Akbar & Maulidurrasul. Adalah Jamaah Al-Khidmah, sebuah perkumpulan yang sebagian besar anggotanya adalah para pengamal Tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah Al-Utsmaniyah, yang menjadi penyelenggara acara ini. Dalam acara yang diselenggarakan sekali dalam setahun itu, yakni menjelang bulan Sya’ban -bulan yang diyakini sebagai akhir perhitungan tahunan dari amal perbuatan seseorang dan awal bagi amalan tahun berikutnya- mereka berkumpul dan berzikir secara berjamaah, serta mendengarkan tausiyah yang disampaikan oleh beberapa pembicara.

Di awal acara, beberapa pemuda dengan merdu membacakan manaqib ‘Abd Al-Qadir secara bergantian. Manaqib adalah sebuah cerita kehidupan dan keistimewaan Syaikh Abd Al-Qadir Jilani, sang penghulu para wali. Ribuan jamaah tua-muda berpakaian putih-putih terlihat tekun menyimak kitab manaqib yang mereka bawa. Sesekali mereka menggeser tempat duduknya merapat, memberi tempat kepada rombongan lain yang terus berdatangan. Saat manaqib selesai, semua mata tertuju ke pusat panggung. Tampak sebuah kursi roda didorong perlahan menuju tengah panggung. Sesosok lelaki sepuh tengah duduk di atas kursi roda itu: ialah KH Asrori Al-Ishaqy, pendiri Jamaah Al-Khidmah sekaligus mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Al-Utsmaniyah. Dalam keadaan sakit, kiai kharismatik itu masih menyempatkan diri menemui dan memimpin jamaahnya.

Zikir adalah inti acara akbar ini dan Kiai Asrori adalah figur yang paling ditunggu semua orang pagi itu. Dan sang kiai seolah paham, tanpa membuang waktu segera diambilnya mic dan mulai memimpin zikir.

Gelombang kalimat tauhid mengalun perlahan, seperti roda-roda mobil yang diseret pelan, dipandu oleh suara Kiai Asrori yang lembut nan menggetarkan. Jamaah mulai tenggelam dalam lautan suara. Pelan-pelan irama zikir bergerak, kian lama kian cepat, dan menjadi lebih menghentak-hentak. Mata-mata hadirin terlihat terpejam. Kepala-kepala bergerak ritmis ke kiri dan kanan bahu mengikuti irama zikir. Ketika irama zikir bergerak semakin cepat, bacaan itu seperti menghunjam-hunjam dada. Kalimat demi kalimat yang terlontar mulai agak sulit dicerna karena tercampur dengan tangis yang mulai pecah di mana-mana. Hawa terasa memanas dan makin memanas. Menit demi menit berlalu tanpa terasa. Waktu seperti tersungkur, tertinggal di belakang dan terabaikan. Dalam situasi yang agak sulit dilukiskan saat intensitas memuncak (barangkali orang menggambarkannya sebagai ekstase), Kiai Asrori memberikan isyarat penghenti zikir secara tiba-tiba. Lalu hening. Dan sebagai penutup, semacam pendinginan, beliau mengulang kalimat tauhid tadi sekali atau dua kali perlahan dengan irama mengalun, yang segera bersama-sama ditirukan oleh para hadirin yang belum lepas benar dari isak tangis itu.

Mengikuti acara itu memberikan kesan yang mendalam. Dalam kerumunan orang yang tak satupun saya kenal, saya tak merasa sepi, malah sebaliknya, seperti bertemu kawan seperjalanan yang toleran dan senasib. Ketulusan terpancar dari wajah-wajah mereka. Pengikut Jamaah Al-Khidmah sendiri terdiri dari berbagai lapisan sosial; dari para petani dan warga-warga miskin di pelosok-pelosok desa, pedagang, pegawai negeri & swasta, pejabat hingga ilmuwan perkotaan. Di Kepanjen, Kudus, dan Semarang, bukan pemandangan aneh melihat Jamaah Al-Khidmah datang dan pulang diangkut truk-truk dan pick-up carteran sementara jumlah mobil bagus yang memuat jamaah lain juga tak kalah banyaknya. Di Jakarta, sebagian jamaah berduyun-duyun datang dengan metromini. Betapapun pluralnya namun semua seperti dipersatukan oleh mata air zikir yang sejuk, dan damai. Dan muara semua itu adalah sosok sang guru, KH Asrori, yang tak kenal lelah memberikan latihan-latihan dan bimbingan ruhani dalam upaya pencerahan spiritual jamaah.

Setelah serangkaian zikir, ceramah dan doa-doa, sekitar pukul sebelas acara berakhir. Langsung pulangkah jamaah itu? Tidak, mereka belum diperkenankan meninggalkan tempat. Begitu acara ditutup, talam-talam makanan diedarkan ke segala penjuru. Ribuan jumlahnya. Juga gelas-gelas dan botol air mineral. Tak seorang pun boleh tak kebagian. Hadirin pun bersama-sama menikmati jamuan makan siang, sendiri, atau dalam lingkaran-lingkaran.

Siang itu saya melangkah pulang saat kumandang azan Zuhur mulai terdengar. Belum jauh kaki melangkah tapi rasanya saya sudah rindu kepingin bertemu jamaah itu lagi. Berada di antara mereka, saya seperti menemukan kembali kemanusiaan.

 

blacklight shines on

koil adalah sebuah paradoks dalam dunia musik indonesia. muncul di pertengahan 90an, melempar sedikit album dan single. melakukan sedikit sekali pertunjukan, namun pelan tapi pasti, mereka telah menempatkan diri dalam posisi yang terhormat di antara band-band lain di tanah air.

sempat terabaikan di awal karirnya, koil membuat publik terperangah saat meluncurkan megaloblast di tahun 2001. itu adalah sebuah album yang didominasi tema gelap dengan lagu-lagu bercita rasa industrial yang memikat. sebuah karya nyaris tanpa cela. segera saja album yang dicetak terbatas itu menjadi buruan banyak orang sampai-sampai kemudian muncul versi repackage-nya. sebuah hal yang tak lazim dalam dunia musik non-mainstream.

rentang waktu tahunan sesudah kemunculan megaloblast adalah masa-masa penuh ketidakpastian, setidaknya bagi bagi penggemar. berita-berita pembuatan album baru koil tersebar simpang siur di milis dan media-media. gosip-gosip bergulir dari mulut ke mulut tak jelas benar mana yang nyata mana yang hampa. otong, sang juru suara, satu-satunya personel yang daripadanya orang bisa berharap mendapatkan sedikit berita, malah memperburuk keadaan dengan kegemarannya melontarkan pernyataan-pernyataan yang terkesan main-main dan kontroversial. ah, koil, ke mana dirimu. jangan kau mati dulu lah, fren. kami masih perlu diselamatkan. mungkin begitu doa banyak orang. diam-diam.

dan ternyata siapa sangka, diam-diam juga, koil tengah menyiapkan semacam pemberontakan. awal bulan november ini mereka secara resmi meluncurkan album baru bertajuk blacklight shines on.
jangan bandingkan blacklight dengan megaloblast. itu hal yang sia-sia. mereka telah sangat berubah. dan proses, saudara-saudara, saya duga telah membuat koil berkembang dari band independen biasa menjadi band anarkis.

kalo anda mengidentikkan kata ini dengan tindak kekerasan saya maklum, tapi mari kita belajar bahwa anarkisme juga berarti ketidakpercayaan bahwa institusi besar apapun bentuknya dapat mengurus apalagi menyejahterakan orang per orang. anarkisme menentang segala bentuk hirarki dalam perkara ekonomi, sosial, juga politik. ia lebih percaya bahwa kehidupan yang lebih baik dapat diupayakan apabila kita mau mengorganisir diri dan bekerja sama.

anarkisme yang pertama, koil tidak sudi menyerahkan blacklight kepada label manapun! mereka seperti menolak tunduk terhadap kelaziman industri musik indonesia. di kala band-band lain mati-matian berjuang menembus label rekaman untuk dipasarkan, koil memilih menyenangkan banyak orang dengan membagi-bagi lagu-lagu baru mereka gratis melalui internet. (versi utuh rekaman blacklight kemudian menjadi bonus majalah rolling stone bulan november). bagi kita yang mengaku diri normal ini, langkah mereka agak di luar akal sehat. proses rekaman dan sebagainya kita tahu membutuhkan biaya yang tak sedikit. apakah mereka benar-benar tak membutuhkan uang lagi? tapi saya kira bukan ‘uang’ kata kuncinya, namun ‘bersenang-senang’. dan koil mungkin paham bahwa ‘kesenangan’ atau ‘kepuasan’ tak selalu dapat diukur dengan ‘uang’. sampai tahap ini saya kira band ini sudah mencapai tahap hakikat dan telah tercerahkan.

anarkisme selanjutnya terbaca jelas dalam lirik lagu.
dalam track pembuka, ‘kenyataan dalam dunia fantasi’ otong dengan lantang berkata “aku bukan bagian dari kebanggaan yang membuat kita tak berpenghasilan.” sebuah pernyataan politis yang menyindir institusi negara yang gemar mendoktrinkan kecintaan kepada tanah air namun abai pada rakyatnya dan membiarkan mereka miskin dan susah mendapatkan uang. dalam bait terakhir lagu ini otong menggempur total mitos bernama nasionalisme itu. ia mencerca, “nasionalisme menuntun bangsa kami menuju kehancuran”. sebuah pernyataan sikap yang lugas tak kenal takut. entah setan mana yang berhasil menyabetnya sehingga menjadi sedemikian inspiratif dan berani.

tema anarkisme kembali muncul dalam track ‘nyanyikan lagu perang.’ di lagu yang potensial menjadi anthem ini, otong mentertawakan orang-orang malas, yang terus “menunggu, sampai beruban’ sembari ‘menyanyikan keluhan.’ baginya, sebagai rakyat jelata dan bukan penguasa, kita sebenarnya ‘pintar, dengan otak bersinar’ dan ‘hanya perlu semangat untuk hidupi rakyat.’ sungguh, lagu ini adalah soundtrack penyemangat bagi hari-hari yang sering membosankan. saya tak pernah menemui lirik seoptimis ini dari band indonesia lain manapun.

dari segi musikal, blacklight adalah album yang solid. lagu satu dengan yang lain seperti memiliki perekat yang menyatukan mereka sehingga 9 nomor lagu (dan satu hidden track) itu padu dan saling menguatkan. agak susah bagi saya untuk menyebutkan nomor terbaik karena hampir semuanya memiliki keistimewaan sendiri-sendiri. namun kalau diminta menyebutkan nomor favorit, saya tak ragu untuk menyebut tiga lagu: nyanyikan lagu perang, semoga kau sembuh pt.2 dan aku lupa aku luka.

‘nyanyikan lagu perang’ sudah saya bahas sedikit di atas. instant-classic.

‘semoga kau sembuh pt.2’ adalah nomor paling kuat dan paling indah. tekstur lagunya sederhana, up-beat, bahkan cukup enak untuk goyang. seperti interstate love song-nya stone temple pilots dg tempo yang lebih cepat dan bertenaga namun dengan balutan nuansa sedih dan haru. vokal otong terdengar seperti orang yang berdoa dengan tulus. koil dengan sangat baik membuktikan bahwa lagu yang menyentuh dan indah tidaklah harus mendayu-dayu dan cengeng. ini akan jadi salah satu lagu dengan durasi 7 menit lebih paling adiktif yang pernah anda dengar.

‘aku lupa aku luka’
lagu paling keras dalam album blacklight, mungkin juga dalam sejarah musik koil. sebuah anthem yang akan menjadi katarsis pelepas duka dan amarah.

satu lagu yang juga cukup istimewa adalah ‘hidden track’ di penghujung album. sebuah nomor berbahasa inggris dengan tempo pelan yang membawa nuansa murung nan menghantui. di tengah dentang-dentang organ dan bunyi lonceng gereja, otong bernyanyi seperti meratap. bonus tambahan yang membius.
secara keseluruhan saya dapat menyimpulkan, blacklight adalah karya terbaik koil hingga saat ini, melampaui megaloblast yang terkenal itu. koil telah kembali, dengan album yang melebihi ekspektasi siapapun. otong, sang pencemooh, harus diakui adalah penulis lirik yang bagus, dan donny, sang gitaris, juga adalah penulis lagu yang hebat. kredit juga buat personel lain (ibrahim, legoh, adam) yang telah bekerja keras melahirkan karya yang akan bersinar lama ini.

album ini seharusnya bisa melepaskan cap industrial yang sekian lama terlanjur melekat dalam band ini. karena sesungguhnya koil adalah band rock. sebuah band rock yang memikat, bukan karena kesempurnaan mereka, tapi karena dengan mereka kita tak malu berlaku sebagai rakyat biasa, bekerja, mencari uang, dan sedikit bersenang-senang.