Sang Musafir

 

Saya mengenal Mohamad Sobary sebagai esais dan penulis kolom yang oke. Ia rutin menjadi salah satu pengisi asal-usul Kompas Minggu, juga sering menulis artikel-artikel lepas yang menarik di media cetak yang ‘mikir’ seperti Tempo dan Editor (alm) hingga majalah yang ‘ringan’ seperti Jakarta-Jakarta dan Hai. Sebuah kumpulan esainya yang dibukukan, ‘Kang Sejo Melihat Tuhan,’ membuat saya terpesona karena kelucuannya dan juga, terutama, karena kejeliannya memotret kisah-kisah kehidupan bersahaja dan sosok-sosok rakyat kecil dan menggali kebijaksanaan dari mereka. Ketika mendengar Sobary meluncurkan novel ‘Sang Musafir’ bulan Agustus lalu kontan saya bertanya dalam hati, adakah novelnya itu semenarik tulisan-tulisan pendeknya selama ini? Pertanyaan saya itu terjawab usai saya merampungkan novel itu tadi malam.

Melihat strukturnya, Sang Musafir absah sebagai novel. Ia dibuka dengan mukadimah, disusul dengan 14 bab isi dan sebuah epilog. Menyimak keseluruhan isinya kita akan mendapati sbuah perjalanan hidup narator dari masa kanak-kanak saat ia tinggal di desa, beranjak dewasa dan merantau ke kota, hingga usia tua dan menetap di ibu kota. Membaca beberapa bab awal, pembaca mungkin akan segera menarik kesimpulan bahwa novel ini adalah semacam otobiografi dari penulisnya sendiri, yaitu Sobary, dan itu beralasan sebab peristiwa-peristiwa yang dimunculkan sepertinya adalah rekaman fakta perjalanan hidup Sobary sendiri.

Menuliskan kisah hidup sendiri dalam sebuah otobiografi jelas tak gampang, kalau tak berhati-hati, bisa saja penulis akan tergelincir menjadi narsis atau mengunggulkan diri sendiri. Rupanya Sobary sadar sepenuhnya akan hal itu dan sepanjang novel ia tampak mati-matian berusaha tidak sampai menjadi jumawa. Hal ini terlihat misalnya saat ia menceritakan keberhasilan sang tokoh utama menyelamatkan kantor berita milik pemerintah yang dipimpinnya dari ambang kebangkrutan. Kantor berita ini, seperti lembaga-lembaga pemerintah lainnya, secara administrasi bobrok dan menderita penyakit keuangan yang serius, namun perlahan mampu bangkit setelah gebrakan-gebrakan yang dilakukan nakhoda baru/sang tokoh.

Seperti dalam esai-esainya, dalam Sang Musafir Sobary kerap mengambil referensi pewayangan dan filosofi Jawa. Beruntung ia selalu meletakkan dua hal itu ke dalam konteks cerita sehingga pembaca yang asing dengan hal-hal tersebut tak akan menemui kesulitan pemahaman. Terjemahan Indonesia yang selalu disertakan pada kosakata bahasa Jawa juga sangat membantu.

Pembaca yang berharap akan menemukan penghiburan dalam novel ini mungkin akan sedikit kecewa. Saya juga agak heran dengan betapa minim humor dalam Sang Musafir, sesuatu yang biasa saya temukan bertebaran dalam kumpulan esainya. Namun bukan berarti novel ini jelek, tidak sama sekali. Pengalaman sang tokoh berjibaku membenahi kantor yang dipimpinnya bisa menjadi peta bagi pembaca untuk mengetahui berbagai aspek permasalahan lembaga birokrasi sekaligus upaya pembenahannya. Perjalanan rohani sang tokoh juga dapat menjadi cermin betapa perjalanan rohani manusia itu berliku-liku dan tak berkesudahan hingga manusia menghadap Sang Khalik.

Hingga hari ini, ibaratnya aku terus berjalan menuruti gerak nuraniku, untuk tahu aku ini sebenarnya seperti apa, dan kelak hasilnya akan tampil dalam sosok pribadi macam apa. Aku tukang potret yang sedang memotret diriku sendiri dan belum bisa menyerahkan hasilnya. Banyak hal yang belum terlalu jelas dalam hidup.

Satu paragraf yang saya kutip dari Bab 1 di atas kiranya dengan sangat baik menjelaskan keseluruhan novel ini, bahwasanya meski otobiografi ini telah selesai ditulis, apa yang tertuang dalam novel ini hanyalah beberapa keping dari pengalaman hidup sang penulis. Apabila diibaratkan Sobary membuat potret diri, novel ini adalah sekadar hasil sementara dari ikhtiarnya menangkap perjalanan hidupnya. Sementara itu potret/hasil jadinya belumlah ada karena, seperti yang ia akui, ia masih terus berproses, menjalani hidup yang seringkali belum terlalu jelas, dan belum sampai ke titik akhir.

Sang Musafir, Mohamad Sobary, Gramedia Pustaka Utama 2007.