February 2010


Presiden Gonzales dari sebuah “republik pisang” di Amerika Latin sangat tidak populer. Pada suatu hari ia bertamasya keliling ibu kota, dengan berkendaraan kuda. Ketika akan menyeberang sebuah jembatan, kuda yang dinaikinya terkejut melihat derasnya arus sungai di bawah jembatan itu. Presiden Gonzales terjatuh dari kudanya ke dalam sungai itu, dan dihanyutkan arus deras tanpa dapat ditolong oleh para pengawalnya. Namun, setelah hanyut sangat jauh, ia ditolong oleh seorang pengail ikan yang pekerjannya setiap hari mengail di tempat itu. Dengan rasa terima kasih sangat besar, ia menyatakan kepada pengail miskin itu siapa dirinya, dan betapa besarnya jasa pengail itu kepada negara, dengan menolong dirinya. Ditanyakannya kepada pengail tersebut, apa hadiah yang diinginkannya sebagal imbalan atas jasa sedemikian besar itu. Dengan kelugasan orang kecil, pengail itu menjawab: “Satu saja, Paduka. Tolong jangan ceritakan kepada siapa pun bahwa sayalah yang menolong Paduka.”

Lelucon di atas memiliki unsur-unsur ‘humor yang mengena’. Unsur surprise terdapat pada akhir cerita, karena jawaban pengail itu benar-benar di luar dugaan. Juga ada unsur sindiran halus, yang mengajukan kritik atas hal-hal yang salah dalam kehidupan, tetapi tanpa rasa kemarahan atau kepahitan hati. Keduanya merupakan kondisi psikologis terlalu intens dan emosional, sehingga kehilangan obyektivitas sikap terhadap hal yang dikritik itu sendiri. Tidak lupa tertangkap dalam cerita di atas, rasionalitas yang merupakan tali pengikat seluruh cerita. Terakhir, situasi yang ditampilkan, yaitu akal orang kecil untuk menggunakan kearifan mereka sendiri, tertangkap dengan jelas.

Buku kumpulan lelucon tentang Rusia ini menampilkan cukup banyak lelucon yang memiliki kelengkapan unsur-unsur seperti lelucon di atas. Memang tidak seluruh lelucon yang ada di dalam buku kumpulan ini baik, tetapi jumlah yang benar-benar baik sudah lebih dari cukup untuk menikmatinya sebagai kumpulan lelucon. Kenyataan ini timbul dari kenyataan tingginya rasa humor orang Rusia. Rasa humor itu juga terlihat dalam cerita berikut. Lenin meninggal tahun 1924, dan Stalin menggantikannya sebagai penguasa Rusia. Mayat Lenin, yang disemayamkan di mausoleum di Kremlin, pada suatu hari dicoba untuk dihidupkan lagi oleh para dokter. Mereka berhasil dengan percobaan itu, dan mayat Lenin dengan sempoyongan meninggalkan mausoleum, menuju ke kantor Politbiro Partai Komunis. Dimintanya semua koran yang terbit sejak kematiannya, dikuncinya dirinya di kamar kerjanya, untuk menyimak ulang perkembangan Rusia sejak ditinggalkannya selama tiga tahun itu. Ia tidak mau diganggu, hanya meminta makanan diletakkan di muka pintu ruang itu. Selama tiga hari makanan masih diambilnya, dan piring bekas makanan masih dikeluarkannya dari dalam ruang. Setelah itu tidak ada piring kotor dikeluarkan, dan makanan yang disediakan tidak diambil. Setelah beberapa hari hal itu berlangsung, diputuskan untuk mendobrak pintu ruang itu, dan melihat apa yang terjadi, karena dikhawatirkan terjadi sesuatu atas dirinya. Ternyata, Lenin tidak berada di sana. Harian-harian lama yang dimintanya berceceran memenuhi lantai, dan di meja ditinggalkannya secarik kertas, berisikan pesan tertulis berikut: REVOLUSI TELAH GAGAL. SAYA AKAN KEMBALI KE JENEWA UNTUK MEMPERSIAPKAN REVOLUSI LAGI.

Rasa humor dari sebuah masyarakat mencerminkan daya tahannya yang tinggi di hadapan semua kepahitan dan kesengsaraan. Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain. Kepahitan akibat kesengsaraan, diimbangi oleh pengetahuan nyata akan keharusan menerima kesengsaraan
tanpa patahnya semangat untuk hidup. Dengan demikian humor adalah sublimasi dari kearifan sebuah masyarakat.

Mengapakah kemampuan menertawakan diri sendiri menjadi demikian menentukan? Karena orang harus mengenal diri sendiri, sebelum mampu melihat yang aneh-aneh dalam perilaku diri sendiri itu. Lelucon berikut menunjukkan hal itu dengan nyata. Dua orang Irlandia berbincang tentang tanda apa yang ingin mereka pasang di kubur masing-rnasing setelah mati kelak. Kata Mulligan, ia ingin kuburnya nanti disiram wiski, pertanda kegemarannya yang memuncak kepada minuman keras. Dimintanya agar sang teman mau melakukan hal itu, kalau Mulligan mati lebih dahulu. Jawab temannya, “Aku bersedia, tetapi kau tidak keberatan bukan kalau wiskinya kulewatkan ginjalku dahulu?”

Watak kegemaran akan minuman keras memang sudah menjadi “ merk dagang” beberapa bangsa, termasuk bangsa Irlandia. Watak bangsa Yahudi adalah kekikiran. Citra ini memang tidak fair bagi orang Irlandia atau orang Yahudi, tetapi memang demikianlah yang sudah menjadi anggapan umum di seluruh dunia. Kisah berikut menunjukkan kekikiran orang Yahudi. Seorang Yahudi membuat minuman keras untuk dinikmati sendiri. Ketika temannya melihat hasil karya itu, dimintanya contoh sedikit, untuk dianalisa di laboratorium. Temyata, minuman itu mengandung bahaya, dapat membuat mata buta dan hanya dapat diatasi dengan operasi. Ketika disampaikan hal itu kepada si Yahudi itu, ditanyakannya berapa biaya pengobatan mata itu nantinya. Sewaktu diberi tahu biayanya dua puluh lima ribu rupiah, dijawabnya, “Biarlah kunikmati minuman itu, karena biaya membuatnya tiga puluh lima ribu rupiah. Kalau operasi juga, sudah menghemat sepuluh ribu rupiah.”

Bangsa lain yang terkenal kikir adalah orang Skot dan kepulauan Inggris. Suatu hari, seorang ibu mencari-cari orang yang menolong anaknya yang hampir tenggelam di danau sehari sebelumnya. Ketika sampai ke si penolong, orang itu menjawab agar tidak usah terlalu dipikirkan, karena sudah kewajiban manusia untuk menolong sesamanya. Jawab ibu tersebut, “Ya, tetapi topinya hilang sewaktu Anda menolong anak saya kemarin. Siapa yang harus bertanggung jawab atas kehilangan itu?”

Dari kemampuan mengenal kekurangan diri sendiri itu, lalu muncul pengertian juga akan keadaan orang lain. Seorang Skot pergi ke Laut Galilea di Israel. Oleh pemandu wisata ditawarkan untuk membawanya menyeberang dengan perahu, mengikuti garis lintas Yesus dahulu berjalan kaki di atas air. Ketika ditanyakannya biaya penyeberangan dengan perahu itu, sang pemandu wisata itu menjawab sepuluh dolar Amerika Serikat.
Gerutu orang Skot itu dalam hatinya, “Pantas Yesus memilih berjalan di atas air, biaya penyeberangannya dengan perahu semahal itu!”

Dalam episode itu tergambar rasa pengertian akan nasib sesama orang yang sering ditipu oleh para pemandu wisata. Apalagi kalau sama-sama liciknya, tentu akan lebih dalam rasa saling pengertian itu. Rasa itu dapat juga timbul bagi masyarakat sendiri, yang sering kalah di hadapan bangsa-bangsa lain. Kejadian berikut menggambarkan rasa ketidakberdayaan itu dengan tepat. Seorang sopir pada tahun enam puluhan membawa seorang turis Amerika berkeliling Jakarta. Di depan Toserba Sarinah, sang turis bertanya, berapa lama diperlukan waktu untuk mendirikan bangunan itu. Sopir itu menjawab empat tahun. Sang turis menyatakan hal itu terlalu lama dan memakan waktu, karena di Amerika Serikat hanya dua tahun. Sesampai di jalan lingkar di depan Hotel Indonesia, turis itu menanyakan berapa lama waktu mendirikan hotel tersebut. Sopir itu memendekkan waktunya dan menjawab dua tahun. Sang turis menyatakan di Amerika hanya diperlukan setahun. Ketika sampai di dekat kompleks stadion Senayan, turis itu menanyakan hal yang sama. Sopir taksi itu menjawab, tanpa memperlihatkan rasa bersalah sedikit pun, “Entahlah, Tuan, kemarin stadion itu belum ada di sini!”

Rasa pengertian itu juga muncul dari ketidakberdayaan menghadapi kenyataan. Seorang turis Amerika menyombongkan luasnya daratan negerinya, dengan menyatakan bahwa dari pantai barat di San Francisco ke New York di pantai timur, orang harus naik kereta api tiga hari lamanya. Seorang Malaysia yang mendengar itu rupanya salah mengerti dan menjawab, “Di negeri saya kereta api juga suka rusak berhari-hari seperti di negeri Anda.” Ketidakberdayaan orang Malaysia menghadapi sistem perkeretaapian di negerinya itu, rupanya, diproyeksikan kepada kenyataan lain di negeri orang. Seperti halnya anak kecil kita yang bertemu anak orang kulit putih di salah satu pasar. Anak Melayu itu berkata kepada ayahnya, “Pak, itu anak kecil-kecil kok sudah bisa berbahasa Inggris?” Bahwa hanya orang Melayu dewasa saja yang mampu berbahasa Inggris, diproyeksikan kepada anak orang asing itu oleh si anak Melayu.

Namun, humor juga mencatat hal-hal lucu ketika manusia berusaha menjadi makhluk komunikatif kepada orang lain. Seorang turis Arab mendapat tempat di meja makan yang sama sewaktu sarapan di sebuah hotel di Paris. Orang Prancis yang merasa harus menggalakkan pariwisata di negerinya itu menganggukkan kepala dan mengucapkan selamat pagi kepada turis asing itu, dengan mengatakan, “Bonjour, Monsieur.” Turis Arab itu mengira ditanya namanya, dan menjawab “Ana Abbas Hasan.” Dan mereka pun lalu bersarapan tanpa berucap apa pun. Pada siang harinya, hal yang sama terjadi ketika mereka akan makan siang. Namun, setelah menjawab dengan jawaban yang sama, turis Arab itu merasa ada sesuatu yang tidak beres. Masakan ada orang bertanya nama dua kali? Setelah makan siang, ia lalu pergi ke toko buku dan melihat pada kamus Prancis-Arab. Ternyata, ucapan “Bonjour” adalah salam bahagia untuk orang lain. Sewaktu mencari padanan jawabannya dalam bahasa Prancis, ia tidak menemukan kamus Arab-Prancis. Ia memutuskan untuk mendahului mengucapkan “Bonjour, Monsieur” ketika makan malamnya. Sewaktu hal itu dilakukannya malam harinya, ia terkejut setengah mati. Mengapa? Karena si orang Prancis meniawab dalam bahasa Arab, “Ana Abbas Hasan.” Sama-sama ingin komunikatif, tetapi tetap saja tidak komunikatif.

Humor juga merekam akibat perbuatan manusia dalam hidupnya, termasuk akibat atas dirinya sendiri. Seorang wartawan melihat seorang tua di pegunungan kuat sekali meneguk minuman keras. Ditanyakan apakah itu kegemarannya yang utama, orang tua itu menjawab, “Ya, saya minum paling sedikit dua botol vodka tiap hari, dan main cewek di mana-mana.” Sang wartawan kagum, bahwa orang tua renta dengan muka begitu keriput dan rambut begitu putih masih kuat melakukan hal itu. ”Berapa umur Bapak sekarang?” tanyanya dengan hormat. Orang itu menjawab, “Tiga puluh dua tahun.”

Humor merupakan senjata ampuh untuk memelihara kewarasan orientasi hidup sebuah masyarakat, dengan itu warga masyarakat dapat menjaga jarak dari keadaan yang dinilai tidak benar. Salah satu di antaranya adalah sikap penuh pretensi, yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan. Kecenderungan manusia untuk memperlihatkan kebodohan jika bersikap pretensius dapat dilihat pada lelucon Rusia yang tidak ada dalam buku ini. Ketika radio transistor dipakai umum di negeri-negeri Barat, seorang turis tampak membawa sebuah di suatu tempat di Moskow. Seorang Rusia mendekatinya bertanya, “Di sini juga banyak barang seperti Anda bawa ini. Apa namanya?” Pretensi selalu menampakkan wajah ketololan, apalagi kalau dilakukan dengan cara tolol pula.

Terkadang humor tentang sikap pretensius mengambil bentuk lelucon yang mengajukan kritik tajam. Bagi orang Malaysia yang jengkel dengan perusahaan penerbangan nasionalnya MAS bukan kependekan Malaysian Air System melainkan ‘Mana Ada System?’ Untuk orang Filipina, PAL bukanlah Philippine Air Lines, melainkan Plane Always Late. Dan GARUDA apakah kepanjangannya? Bagi sementara orang, ia adalah Good And Reliable, Under Dutch Administration (Bagus dan tepat, kalau diurus orang Belanda). Yang paling fatal adalah singkatan Penerbangan Mesir di zaman Nasser dahulu, UAA. Bagi kebanyakan orang, ia tidak berarti United Arab Airways, melainkan Use Another Airways (Gunakan Penerbangan Lain). Kritik lucu diarahkan kepada pretensi perusahaan- perusahaan penerbangan yang menampangkan ketepatan waktu dan baiknya pelayanan dalam iklan-iklan mereka, padahal dalam kenyataan tidakiah demikian. Seperti juga orang jengkel melihat perilaku pihak kepolisian, yang menggambarkan pasukan Sabhara sebagai elite yang penuh tanggung jawab, melayani masyarakat tanpa pandang bulu dan dengan cara yang adil. Karena kenyataannya banyak berbeda, ada orang yang memperpanjang istilah tersebut, hingga menjadi ‘Sabbharaha?’ Artinya dalam bahasa daerah Sunda: berapa? Rupanya, sudah diketahui orang ‘modus operandi’nya

Pretensi yang paling banyak terdapat adalah justru di bidang politik, karenanya tidak heran kalau kehidupan politik yang paling banyak dijadikan sasaran humor, seperti terlihat dalam buku ini. Kata seorang humoris terkenal di Amerika “Saya berhati-hati sekarang, tidak banyak menyatakan lelucon. Yang sudah-sudah kalau saya kemukakan sejumlah lelucon polilik kepada Presiden Reagan, ia akan mengangkat mereka pada jabatan penting dalam pemerintahan.”

Salah satu sasaran empuk adalah sifat egoistis para politisi. Lelucon berikut menggambarkan hal itu. Dalam perebutan calon presiden Amerika Serikat dan pihak Partai Demokrat, dalam tahun 1960, ada tiga orang calon kuat, yaitu Adlai Stevenson, Hubert Humphrey, dan Lyndon Johnson. Menurut kisah ini, ketiga mereka bertemu dalam sebuah pesta. Stevenson berkata kepada yang dua itu, “Saya tadi malam mimpi diberkati Tuhan. Rupanya, sayalah yang akan memenangkan pencalonan partai kita.” Humphrey menjawab, “Aneh, saya juga bermimpi yang sama, sehingga kans kita tampaknya sama.” Yang terhebat adalah Lyndon Johnson, yang mengatakan, “Lho, bagaimana mungkin? Saya kok tidak merasa memberkati kalian?” Lelucon yang menunjukkan besamya ego Lyndon Johnson sudah tentu diceritakan saingan terberat mereka, yang kemudian memenangkan jabatan kepresidenan, yaitu Mendiang John Fitzgerald Kennedy.

Tetapi untuk tidak terlalu menjatuhkan martabat kaum politisi, ada baiknya dikemukakan lelucon tentang kegoblokan orang dan profesi lain. Seorang pelatih bola marah karena anak asuhannya tidak naik tingkat di fakultas. Ia menyatakan dengan suara keras kepada dekan fakultas tersebut, “Kamu pilih kasih, anak sepintar dia sampai tidak naik tingkat. Kamu sentimen kepada olah raga bola.” Sang dekan menjawab, “Dia tolol sekali. Bagaimana mungkin ada mahasiswa menjawab tiga kali tiga ada sepuluh?” Sang pelatih memuncak marahnya, dengan suara semakin lantang ia berteriak, “Babi kamu, kelebihan dua angka saja sudah dijatuhkan!” Rupanya, ia mengira tiga kali tiga sama dengan delapan!

Kata pengantar ini ditutup dengan jaminan bahwa para pembaca pasti puas dengan lelucon-lelucon dari dan tentang Rusia yang ada dalam buku ini. Memang tidak sama standarnya, dan ada yang menjengkelkan tetapi kekurangan yang ada akan tertutup oleh mutiara-mutiara begitu banyak yang terserak dalam buku ini. Kalau tidak puas, tentu tidak mungkin buku ini dikembalikan kepada penerbit, dengan ganti rugi. Itu tidak lucu sama sekali. Masih lebih lucu kalau para pembaca meloakkan saja buku ini, agar tidak tertawa seorang diri karena orang lain tidak mampu membacanya, karena tidak mampu membelinya dengan harga asli. Diloakkan boleh, tetapi jangan dipinjamkan. Mengapa? Karena banyak peminjam sudah tahu peribahasa ampuh berikut: orang yang meminjamkan buku adalah orang bodoh, tetapi mengembalikan buku pinjaman adalah perbuatan orang gila.

 

Awal 1986

Advertisements

kami percaya kaupun terbakar juga

Koil adalah satu dari sedikit band indonesia yang memiliki fans loyal dan militan untuk tidak menyebutnya gila. Membandingkan Koil dengan Slank atau Iwan Fals tentu tidak sebanding dari sudut manapun namun menimbang kegilaan fansnya adalah hal yang berbeda. Album tribute to koil ini adalah buktinya. Berbekal kecintaan kepada band pujaannya, beberapa pemuda -antara lain Jaka Kandaga dan Vidi Nurhadi- nekad menggagas album tribute buat Koil.

Singkat kata pemuja Koil ini mengumpulkan dana, menghubungi band-band yang tertarik menyumbangkan diri untuk mengisi album itu (dengan cuma-cuma tentu saja), mengompilasi hasilnya ke dalam CD, lalu membagi-baginya gratis. Proyek ini siapapun tahu perlu banyak energi, waktu dan terutama uang, namun rupanya keterbatasa dalam hal-hal tersebut tak menjadi alasan bagi Jaka dan teman-temannya untuk mundur. Terwujudnya album ini sungguh hadiah yang menyenangkan bagi Koil, lebih2 bagi penggemar Koil di mana-mana. Saya belum pernah mendengar ada fans band Indonesia lain, fans Slank atau Iwan Fals sekalipun membuat tribute album untuk musisi idola mereka. Dengan kemunculan album ini fans Koil boleh sedikit berbangga hati.

‘Kami Percaya Kaupun Terbakar Juga’ berisi sekumpulan lagu-lagu Koil dari beberapa album yang digarap ulang. Melihat list band yang muncul di album ini membuat kening saya berkerut. Nama-nama yang asing, sedikit sekali yang saya kenali. Mungkin karena ke-kuper-an saya saja. Atau karena memang band-band itu adalah band yang baru muncul saya tak tahu. Tapi keberadaan mereka di album itu tentu punya alasan, begitu pikir saya. Dan pertanyaan saya langsung terjawab begitu saya mulai mendengar album ini.

Track ‘Burung Hantu’ menjadi lagu pembuka yang nendang, sangat asyik. Pendengar serasa langsung disergap dan mau gak mau musti ikhlas bergoyang rusuh bersama lagu ini. The Moms Berdarah dengan gaya garage-nya sukses memberi interpretasi baru pada lagu yg aslinya murung ini. Kalo ditampilkan live, saya yakin Otong-pun akan ikut jejingkrakan dan sing along. Haha.

Menyusul kemudian adalah ‘Dosa Ini Tak akan Berhenti’ yang berasal dari album Megaloblast. Midnight Soul yg dipercaya ikut mengisi album ini membayar tuntas kepercayaan itu dengan sangat ciamik: mereka mainkan salah satu lagu kebangsaan Koil ini dengan gaya rockabilly yang cantik! Kalau Anda masih asing dengan istilah rockabilly, ini adalah istilah baru hasil perkawinan rock n roll dan hillbilly (semacam musik country). Midnight Soul tampil begitu prima; vokal yg apik, irama rock n roll yang terjaga, serta sentuhan country dari harmonika yg pas dan manis. Nomor ini seketika jadi favorit saya.

Pada track berikutnya, Screaming Factor merombak ‘Ini Semua adalah Fashion’ menjadi nomor metal yang cepat, gahar dan menderu-deru. Perombakan yang mereka lakukan lumayan ekstrim. Hanya sedikit cita rasa Koil yg tersisa. Anda mungkin menyangsikan lagu ini aslinya milik Koil sampai anda tiba di bagian reffrain. Ohya, mendengarkan lagu ini beberapa kali entah kenapa tiba-tiba terlintas di kepala saya ‘Ah, bagaimana ya rasanya apabila Phil Anselmo nyanyiin lagunya Koil.’ Hehe. Oke, nomor ini saya yakin akan segera mendapat tempat di hati mereka yang menyukai musik cadas.

Selanjutnya adalah nomor klasik milik Koil ‘Lagu Hujan’ yang jatuh ke tangan Amazing in Bed. Secara musikal tak terlalu jauh dari versi asli, sayang, jadinya kurang menarik. Versi asli juga sangat menyentuh, hal mana tak saya dapatkan dalam versi baru di album ini.

Penampil selanjutnya adalah pembawa pencerahan. Adalah Lullaby for Michelle yang mengusung ‘Pudar’ dengan alunan a la post-rock yang memikat. Jiwa lagu ’Pudar’ yang ngelangut muncul utuh sepanjang lagu. Ditimpali gitar yang menerawang, vokalis grup ini bernyanyi penuh penjiwaan depresif. Penjiwaan vokalis grup ini menyamai Otong dalam lagu-lagu sedih Koil. Ini nomor favorit kedua saya di album ini.

Berturut-turut kemudian adalah Black Stone Boredom dengan ‘Nyanyikan Lagu Perang,’ Marianna de Bastard dengan ‘Karat’ dan Monsternaut dengan ‘Tidak Berarti’. Black Stone saya kira berjudi dengan memilih lagu itu mengingat itu adalah lagu Koil yg relatif masih baru. Orang akan langsung membandingkan versi baru ini dengan versi Koil. Dan begitu yang mereka dengar tidak sebaik versi asli, nilainya langsung jatuh. Dan sedikit catatan buat vokalisnya, menyesuaikan diri dengan tempo yg cukup cepat, ia bernyanyi seperti tercekik. Apakah stylenya memang demikian atau karena apa, namun secara umum cara bernyanyinya cukup mengganggu di telinga.

Marianne de Bastard bermain di wilayah aman dan membawakan ‘Karat’dengan cukup ‘sopan’. Hampir tak ada tafsir baru terhadap lagu lama Koil ini. Mungkin grup ini bisa lebih pol dengan lagu Koil lain.

Di track nomor sepuluh kita akan mendapati nomor yang mengasyikkan dari Monsternaut. Di tangan band stoner ini ‘Tidak Berarti’ seolah mendapat ruh baru sehingga ia menjadi lebih hidup dan lebih bisa dinikmati.

Sebuah album yang baik biasanya solid dari awal hingga akhir. Agak berat hati, saya kira beberapa lagu terakhir dalam ‘Kami Percaya..’ ini menjadi titik lemah album ini. Pertama, saya tak habis pikir bagaimana bisa lagu yang sama (Mendekati Surga) muncul dua kali, sama-sama versi remix pula. Mestinya produser bisa mengorganisir agar Psickot maupun M1D1D4Ta menggarap lagu yang berbeda. Stok lagu Koil cukup banyak untuk dikulik dan dinyanyikan kembali. Kalaupun sudah terlanjur rekaman alangkah baiknya kalau yang dimunculkan di album ini cukup satu saja.

Kedua, dua grup lainnya, yakni A Slow in Dance dan Aneka Digital Safari merekonstruksi lagu Koil dengan begitu ekstrim hingga hampir-hampir tak menyisakan elemen Koil di lagunya. A Slow in Dance memainkan ‘Aku Lupa Aku Luka’ dalam bentuk post-rock berdurasi delapan setengah menit, dengan vokal minimalis. Meski harus diakui bahwa instrumentasi mereka cukup bisa dinikmati namun lagu ini alpa menunjukkan unsur Koil.

Sementara itu ‘Semoga Kau Sembuh’ yang dahsyat itu sukses dihancurkan oleh Aneka Digital Safari menjadi (sekadar?) olahan suara-suara noise yang memekakkan telinga. Barangkali telinga saya saja yang lemah, atau selera musik saya saja yang payah, namun berulang-ulang saya memutarnya, impresi saya tidak berubah. Hanya ada kebisingan di sana.

Pada akhirnya saya berkesimpulan  bahwa album tribute ini cukup menyenangkan. Angkat topi untuk penggagas dan para pengisi yang mewujudkan album ini. Kita jadi tahu bahwa Koil (beserta musik dan aspek-aspek lain yang melekat di band ini) ternyata membawa pengaruh yang tak bisa diremehkan. Ia menembus sekat-sekat usia, genre musik dan wilayah geografis. Dan menyimak band-band di album ini saya jadi yakin bahwa banyak band bagus di negeri ini apapun genrenya. Kalau mau konsisten dan kerja keras seperti Koil saya tak akan terlalu terkejut kalo kelak salah satu band di album ini mengemuka dalam percaturan musik Indonesia. Waktu yang akan menjawabnya.

 

Kami Percaya – Koil Tribute

rumah tangga

suatu pasangan yang menikah sering disebut sebagai membentuk rumah tangga. kalau kata rumah tangga ini mau diurai maka akan kita dapati kata rumah dan kata tangga. sebagaimana setiap kata memiliki sejarah (terbentuknya) sendiri, menarik juga tampaknya untuk mengira2 bagaimana kata rumah tangga ini kemudian dipakai untuk menjelaskan kehidupan pernikahan.

rumah (papan) umumnya berada pada urutan ketiga skala prioritas kebutuhan manusia setelah sandang dan pangan. dengan menempatkan kata rumah (papan) sebagai pasangan tangga -bukannya kata sandang atau pangan- mungkin diharapkan seseorang telah mampu mencukupi kebutuhannya sendiri akan sandang dan pangan sebelum menikah. baru setelah menikah ia dan pasangannya bisa sama2 mengusahakan rumah untuk tempat tinggal bagi mereka berdua dan anak-anaknya kelak.

nah, bagaimana dengan kata tangga? meski saya tidak paham sejarahnya namun keberadaan kata tangga sebagai pasangan kata rumah dalam bahasa indonesia ini unik dan berbeda dengan bahasa lain, misalnya bahasa inggris. bahasa inggris menyebut rumah tangga dengan kata household. house kita tahu artinya rumah, sementara hold berarti mengusahakan, atau memiliki. dengan demikian barangkali household, dalam filosofi bahasa inggris bermakna kepemilikan materi. sementara bahasa indonesia berbeda, ia menempatkan kata tangga bergandengan dengan kata rumah.

tangga, kita tahu adalah alat untuk tumpuan memanjat. ia terdiri dari sepasang tiang panjang serta cukup banyak bilah pendek yang menghubungkan keduanya. tanpa ada tiang panjang tak akan ada benda bernama tangga. tapi sepasang tiang tak bisa berdiri sendiri, ia mesti dihubungkan dengan bilah-bilah pendek yang cukup, yang membuat dua tiang itu terhubung erat dan kukuh. menganalogikan kehidupan pernikahan dengan tangga saya kira amat menarik. pria dan wanita dapat diibaratkan sebagai dua tiang panjang. mereka terhubung oleh bilah2 pendek yang barangkali bisa berupa cinta, dan kasih sayang. di bilah pendek lain terdapat pengertian, kesetiaan, kerja keras dan kesabaran. bilah pendek penunjang yang tak kalah pentingnya bisa berwujud iman dan kepasrahan kepada Sang Khalik. Bilah-bilah pendek ini mutlak diperlukan untuk menciptakan sebuah tangga yang kuat.

banyak pasangan yang rumah tangganya berantakan atau buyar di tengah jalan. banyak hal disebut-sebut menjadi penyebabnya; ketidakcocokan, pasangan berselingkuh, tak didapatnya keturunan dan sebagainya. itu adalah bukti nyata bahwa mewujudkan rumah tangga itu bukan hal sederhana dan mudah. bercermin pada analogi sederhana mengenai rumah dan tangga tadi saya menduga bahwa keretakan/bubarnya bangunan rumah tangga bisa saja terjadi karena lalainya suatu pasangan akan tujuan mereka hidup bersama. mungkin mereka mengejar rumah sementara lupa dengan pentingnya memperkukuh tangga di antara mereka berdua. bisa juga sebaliknya. Memang dilematis dan harus diakui bahwa tujuan mendapatkan rumah itu lebih mudah diukur daripada membangun tangga. tapi yang gawat adalah kalau ada yang punya seseorang sebagai pasangan tangganya tapi masih mencari-cari orang lain untuk memuaskan kesenangan egonya. dalam kasus yang semacam ini dapat dimaklumi kalau pasangan resminya itu lantas ngambek atau menggugatnya untuk berpisah. ketika bilah-bilah pendek tangga sengaja diciderai, niscaya tangga jadi goyah dan rawanlah bangunan rumah tangga seseorang. hanya dengan tangga yang kuat, suatu pasangan bisa menapak langkah demi langkah, satu tahap ke tahap selanjutnya, menuju cita2 dan tujuan hidup bersama mereka berdua. proses tersebut tentu membutuhkan pengorbanan dan komitmen yang penuh dari masing2 pihak agar langkah mereka dapat terjaga meski angin atau badai berhembus hebat menggoyang tangga kehidupan yang mereka jejaki.

semoga kita semua selalu mawas diri dan mendapatkan bimbingan-Nya dalam mewujudkan keseimbangan dalam menempuh tujuan rumah tangga kita.