January 2011


Banyak puisi Indonesia yang saya suka, di antaranya punya Goenawan Mohamad berjudul Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi. Puisi ini bisa ditemukan di buku Asmaradana terbitan Gramedia Widiasarana, 1992.

Di bawah ini puisi tersebut dibacakan langsung oleh penciptanya, saya cuplik dari VCD dokumentasi sastrawan Indonesia terbitan Lontar.

Goenawan Mohamad – Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Sedang yang satu ini puisi yang sama dibacakan oleh Sujiwo Tejo, saya ambil dari adegan dalam Film Telegram di mana Tejo berperan sebagai tokoh utama.

Sujiwo Tejo – Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Di beranda ini angin tak kedengaran lagi
Langit terlepas. Ruang menunggu malam hari
Kau berkata: pergilah sebelum malam tiba
Kudengar angin mendesak ke arah kita

Di piano bernyanyi baris dari Rubayyat
Di luar detik dan kereta telah berangkat
Sebelum bait pertama. Sebelum selesai kata
Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba

Aku pun tahu: sepi kita semula
bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela
mengekalkan yang esok mungkin tak ada

1966

Advertisements

Tempo hari aku sama istri jalan ke mal baru di Malang, yup, MX. Mungkin karena masih baru, belum terlalu banyak gerai di mal ini. Lantai satu dipenuhi resto dan kafe-kafe yang terlihat cozy dan enak dibuat kongkow, mengingatkan kafe-kafe serupa di Jakarta. Melongok daftar harganya kayaknya segmen mereka bukan mahasiswa, tentu saja! (kecuali yg udah berkantong agak tebal).  Suasana di mal ini remang2 alias lampunya redup, dan hembusan hawa dingin dari mesin pendingin sangat terasa. Nyess. Tidak seperti mal2 lain di Malang yang seringkali agak ongkep, cukup panas.

Buatku pribadi yang asyik dari MX adalah di sini kita bisa temukan dua toko CD musik dan film, sesuatu yang makin langka di Malang.  Di lantai satu ada Disc Tarra, dan di lantai dua ada Taurus.

Disc Tarra MX adalah  cabang kedua Disc Tarra di Malang setelah mereka cabang Gramedia Basuki Rachmat. Menyiasati tempat yang tak terlalu luas, Disc Tarra MX ini memajang koleksinya berjajar dalam rak2, ada CD dan DVD musik/film.  Toko musik ini dilengkapi dengan kafe kecil tempat pengunjung bisa memesan minuman. Di bagian depan toko tersedia beberapa tempat duduk dan booth audio player. Di sini pengunjung bisa bersantai menikmati waktu sambil mendengar CD musik yang baru mereka beli.

Taurus di lantai 2 MX sedikit lebih luas daripada Disc Tarra. Di iklannya di surat kabar mereka mengaku memiliki koleksi yang lengkap, musisi berbagai gennre musik dari jaman jadul hingga jaman sekarang. Setelah kulihat ternyata klaim itu gak terlalu benar. Koleksi musik lama memang ada tapi tidak lengkap2 amat. Aku yang membayangkan koleksi mereka sebanyak/sevariatif lapak2 CD/plat di jalan Surabaya Jakarta mesti kecewa. Menyamai sedikitpun tidak. Untungnya koleksi CD musik Indonesia Taurus ini lumayan. Album2 lama Dewa, Potret hampir ada semua. Mereka juga menjual VCD berlabel murah yang umumnya berisi lagu2 dangdut koplo dan karaoke.

Pulang dari MX aku menenteng CD grup baru, Komplotan, grup baru bentukan alumnus UI 80an antara lain Jubing Kristanto (yang terkenal dengan album2 solo gitarnya), Reda Gaudiamo (mantan wartawan Hai, pernah membuat proyek musik Dua Ibu yang memusikalisasikan puisi2 Sapardi Djoko Damono), dan beberapa nama lain.

Berikut lagu favoritku dari album Komplotan “Nyanyian Laut”  judulnya Buaian: Di Balik Mata. Selamat menyimak.

Komplotan – Buaian: Di Balik Mata