Siang itu aku berada di pusat lapak buku bekas di kota M. Berkeliling sebentar, aku berhenti di sebuah toko yg sedang sepi. Mataku terantuk pada satu buku yang terselip di tumpukan buku2 pelajaran. Itu buku yang lama kucari, buku tentang sejarah kota tempat tinggalku. Dulu buku itu sempat beredar dalam jumlah banyak di toko buku tapi setelah beberapa bulan buku itu tiba2 lenyap dan susah ditemukan.

Pelan dan hati-hati kuambil buku itu dari tumpukan. Kulihat isinya halaman demi halaman. Masih cukup baik meski sampulnya sudah agak lusuh. Setelah kutimang2 sebentar lalu kutanyakan harganya kepada penjualnya, seorang ibu. Si ibu itu tak segera menjawab pertanyaanku, ia tampak bimbang. Kuulang sekali lagi pertanyaanku, mungkin ia tidak mendengarnya, pikirku. Setelah menghela napasĀ  ia menjawab perlahan ‘maaf mas, putri saya ini suka melihat2 gambar di buku ini. Dia sepertinya keberatan buku ini ikut dijual.” Mataku tertuju pada seorang gadis kecil yang berdiri di samping ibu itu. Ia tertunduk malu2.

Si ibu mencoba lagi bertanya pada anaknya ‘Dik, buku ini mau dibeli sama masnya boleh apa ndak?’

Gadis kecil itu termangu dan tak mengeluarkan sepatah kata pun.

Aku tiba2 merasa canggung. Si ibu pasti memajang buku itu dengan niat menjualnya, sedang si anak tak ingin buku itu dijual karena suka dengan isi buku itu.

Kami bertiga berada dalam suasana kikuk: satu sama lain punya keinginan sendiri2 atas buku berwarna biru itu.

Setelah menimbang singkat akhirnya aku memutuskan untuk membiarkan buku itu jadi milik si gadis. Aku berujar pada si ibu: ‘Kalo adiknya masih mau baca jangan deh bu, saya gak papa kok, kapan2 saja.’

Tangan Si ibu terulur mengambil buku itu tetapi rupanya gadis kecil berubah pikiran, ia sentuh lengan ibunya dan mendorongnya untuk mengembalikan buku itu pada saya. Ia merelakan buku itu dijual.

“Benar gak apa2 ya, dik?’ Gadis kecil mengangguk-angguk. Akhirnya ibu penjual itu memberikan buku itu kembali kepadaku.

Duh, antara senang dan sedih aku bayar buku itu. Aku senang karena buku yang lama kucari itu akhirnya ada di tangan, tapi hati juga teriris pedih melihat gadis kecil itu merelakan buku kesayangannya dijual agar ibunya mendapatkan uang.

Semoga buku itu membawa berkah kepada kami semua: aku, ibu penjual buku, dan gadis kecilnya.