mlg--

Foto masyarakat menyambangi lapak2 buku bekas ini sepertinya diambil di pusat kota Malang, selatan alun2, di tahun 80an.

Saat remaja dan bersekolah tak jauh dari daerah ini, sekitar 90an, pemandangan di atas sudah tak bisa saya saksikan lagi. Saat itu, lapak buku bekas di Malang terpusat di dua lokasi, yakni sekitar Jl. Majapahit yg bersebelahan dengan Pasar Burung, dan sekitar Jl. Sriwijaya, persis depan Stasiun Kota Baru. Buku-buku baru dan bekas mudah dijumpai di dua lokasi tesebut dengan harga yg bersahabat.

Sekitar 2003, Pemerintah Kota Malang menggusur lapak2 buku Majapahit dan Sriwijaya itu dengan alasan penataan taman kota. Lapak2 buku di Jl. Majapahit dipindah ke daerah Jl. Wilis, lokasi yang strategis karena cukup dekat dengan Jl. Ijen dan kompleks perguruan tinggi di Malang, sedangkan lapak2 di Jl. Sriwijaya dipindah menjauh dari perkotaan, yakni ke daerah Madyopuro, dan menempati kios2 di luar Velodrome (sarana olahraga sepeda).

Sama2 berpindah lokasi, nasib dua tempat lapak ini amat berbeda. Lapak Wilis, karena kemudahan akses dan jangkauan, tidak kekurangan pengunjung, bahkan amat ramai di waktu2 tertentu sesuai jadwal sekolah/kuliah. Tak jarang orang2 dari luar kota sekitar Jawa Timur datang berombongan ke Wilis dan memborong buku. Sedang lapak di sekitar Velodrome, agak mengenaskan nasibnya. Di hari2 biasa, pengunjungnya amat minim, bahkan bisa dihitung dengan jari. Mereka hanya sedikit ramai pengunjung di akhir pekan, itupun tertolong oleh keberadaan Pasar Minggu tepat di sekitar Velodrome yang rutin diadakan tiap Minggu pagi.

Menyaksikan kondisi perbukuan di Malang hingga saat ini, terlebih dengan fakta bahwa di bekas lahan lapak buku Jl. Sriwijaya kemudian malah dibangun pujasera, pemerintah memang tampaknya tidak cukup peduli akan kecerdasan warganya.

Advertisements