May 2016


putri-lingkungan-hidup-elfin-pertiwi-rappa

ada yang baca radar malang jawa pos edisi sabtu dan minggu kemarin gak? aku baru sadar kalo ada topik yg lagi hangat di harian itu beberapa hari terakhir: pemilihan putri lingkungan hijau!

pemilihan putri2an seperti ini lumayan sering diadakan dari yg skalanya besar seperti miss universe, miss indonesia, sampai yg skalanya lokal seperti kakang-mbakyu, cak&ning, atau guk&yuk dan jaka&rara. meski jelas2 tak lepas dari kepentingan (baca: eksploitasi) industri (pariwisata, televisi&media, perusahaan dll) tapi nyatanya sambutan dari para perempuan itu sangat dahsyat. mereka pasti cermat berhitung bahwa keikutsertaan mereka dalam ajang2 itu bisa menjadi semacam jalan pintas menuju kesuksesan (kalo menang).

kembali ke putri hijau tadi, alih2 menampilkan profil nominasi secara lengkap, penyelenggara hanya menampilkan wajah2 peserta di koran disertai umur dan pekerjaan saja. dari situ pembaca seperti saya akan gampang saja menentukan pilihan peserta terbaik. parameternya sederhana saja: wajah dan penampilan. kalo wajahnya cukup ayu, dan gaya dalam berfoto gak aneh2, misalnya meletakkan tangan dalam posisi silang di dada (sic!) atau merapatkan kedua tangan di bawah rahang (mungkin ia kedinginan waktu foto itu diambil) mungkin ia akan segera meraih hati saya. tapi penilaian saya itu juga bisa sangat menipu. apalagi kalo dikaitkan dengan embel2 putri lingkungan itu.

saya jadi berpikir, kira2 dewan juri menentukan pemenangnya dengan cara apa, ya? kalo dg melihat performance dan cara jalan ini kan bukan ajang modelling. kalo dari ipk atau prestasi akademik, ini kan bukan ajang pemilihan mhs/pelajar berprestasi. aha, mungkin peserta terbaik adalah peserta yg selama penilaian terbukti paling ramah thd lingkungan. tidak suka buang tissue, bungkus permen atau botol aqua dari mobil. selalu jalan kaki ke mana2 karena berpikir jalan kaki itu sehat, tdk bikin polusi, dan bbm harus dihemat. atau yg tidak terlalu lama di kamar mandi dan menghabis2kan banyak air.

wah, diam2 saya sudah punya pemenang putri hijau sendiri. 🙂

 

malang, 2005

kds

 

Wah, kapan iku entuk kabar nek Radio KDS 8, radio legendaris ndik Malang pindah panggonan. Iki salah siji radio lawas sing sik bertahan sampek sak iki. Omong2 soal KDS 8 aku malih iling cerito jaman SMA. Biyen pas kelas 2 SMA aku pernah melok kuis ndik radio iki. Kuis tebak2 judul lagu nek gak salah, dino Minggu sore. Iseng2 ae melok kuis, mergo nganggur ndik omah ganok gawean. Hehe. Lha kok menang. Wuih rasane seneng ra karuan.

Menene pas sekolah aku niat njupuk hadiahe. Pas jam istirahat karepku langsung budhal, nggone yo gak sepiro adoh teko sekolah. Nek numpak angkot mek sekali wis iso tekan nggone. Lhadalah beberapa konco mergoki aku pas arep budhal. Akhire salah siji konco sing duwe montor nawani ngeterno. Tak iyani ae, aku malah seneng, entuk tumpakan gratisan. Haha. Akhire aku karo kanca2 sak montor berangkat.

Begitu teko ndik KDS 8 ndik daerah Jl. Langsep, Malang, aku langsung mlebu kantore. Aku njujuk nang resepsionise, mbak2 ngono. Awak wis deg2an ae mergo mbayangno bakal entuk hadiah duit. Wis tak niati pokoke nek hadiahe duit, arep tak gawe nraktir arek2 marung Mie Ayam Muji ndik cidek Splendid. Mari nyebutno keperluan karo nunjukno tanda pengenal, paketan hadiah dibungkus kertas kado langsung dikekno aku karo mbak-e. Begitu paket tak tompo langsung aku mlayu mbalik nang konco2 ndik montor. Gak kesuwen, bungkuse langsung tak suwek, kreeekk..

Begitu plastik kebukak, tibak’e perkiraanku keliru, hadiahe duduk duit. Hadiahe kaos siji, kaine tipis, tur ndik bagian dadane ono merk’e obat.Kanca2 langsung ngguyu ngakak kabeh ngerti wujud kaose. Wah, rasido traktiran malihan. Akhire golek warung, mangan bayar dewe2. 😀

dauur

 

 

Hari ini genap 100 hari sudah Cak Nun menyapa anak-cucunya dan JM melalui Daur. 100 ini gak main-main, Rek. Coba cari di mana kau bisa menemukan seseorang secara istiqomah menyuguhkan tulisan, setiap hari berturut-turut tanpa putus hingga hari ke-100 dan belum ada tanda-tanda untuk berhenti.

Yang lebih menarik adalah jangan mengira ini cuma perkara kuantitas. Sama sekali bukan. Menurutku, tulisan sebanyak itu menunjukkan beberapa hal, antara lain kesungguhan, stamina dan daya tahan, dan terutama keotentikan sosok Cak Nun. Kita bisa coba baca Daur itu secara acak dari nomor mana saja, niscaya kita temukan gagasan-gagasan yang bernas dan aktual. Dalam Daur kita dapatkan renungan-renungan yang dalam tentang bangsa, umat Islam, (Jamaah) Maiyah dan banyak perihal kemanusiaan lain yang universal. Dalam Daur pula kita temui kisah-kisah penuh makna. Kadang cerita itu kocak dan mengundang senyum, amat mencerahkan. Seringpula kita berjumpa cerita yang penuh metafora, menantang kita untuk berfikir dan berharap menemukan pemahaman. (Kadang otak saya yang kemampuannya terbatas ini buntu dan tak mampu menemukan pemahaman atas berbagai metafora serta nama-nama di situ, akhirnya saya simpan ketidakpahaman itu dalam hati sembari diam-diam berharap suatu hari saya temukan jawabannya). Daur adalah kesegaran gagasan, kebaruan cara pandang (sangat khas Cak Nun) dan keliaran ide yang menggelitik dan inspiratif.

Daur adalah Cak Nun yang kembali hadir. Selama lebih dari satu dawarsa kita tak menjumpai tulisan beliau di koran, majalah, sosoknya bagai lenyap dari televisi nasional menyusul keputusan beliau untuk berpuasa dari media selama lebih dari satu dasawarsa terakhir. Tapi juga kurang tepat untuk menyebut Cak Nun telah kembali. Sejatinya ia selalu hadir, dan terus menerus hadir ke tengah kita, sendiri maupun bersama KiaiKanjeng. Daur adalah salah satu cara Cak Nun menyapa kita dalam perjalanannya “berkeliling semesta, menaburkan cinta di hutan, di sungai, dan di kota-kota.”

Dari pertama kali penayangannya di web caknun.com, Daur agak khusus sifatnya karena disebut jelas bahwa ia: diperuntukkan untuk anak cucu dan Jamaah Maiyah. Jamaah Maiyah mendapat keistimewaan dari Cak Nun, sampai beliau rela memberi mereka porsi perhatian agak banyak bahkan khusus. Tulisan-tulisan di Daur sangat pantas untuk masuk kolom-kolom dan halaman terbaik dari media massa terkemuka di negeri ini. Namun alih-alih mengirimkannya untuk masuk media massa, Cak Nun memilih untuk mensedekahkannya untuk Jamaah Maiyah.

Jamaah Maiyah patut tersanjung, dan wajib bersyukur mendapat keistimewaan begitu rupa. Namun pertanyaan berikutnya adalah sudahkah kita membaca Daur? Sudahkah kita mencoba, dengan segala keterbatasan kita masing-masing, mentadabburi berbagai hal yang Cak Nun ungkapkan, sibak, tanam dalam Daur?

 

Malang, 12 Mei 2016