dauur

 

 

Hari ini genap 100 hari sudah Cak Nun menyapa anak-cucunya dan JM melalui Daur. 100 ini gak main-main, Rek. Coba cari di mana kau bisa menemukan seseorang secara istiqomah menyuguhkan tulisan, setiap hari berturut-turut tanpa putus hingga hari ke-100 dan belum ada tanda-tanda untuk berhenti.

Yang lebih menarik adalah jangan mengira ini cuma perkara kuantitas. Sama sekali bukan. Menurutku, tulisan sebanyak itu menunjukkan beberapa hal, antara lain kesungguhan, stamina dan daya tahan, dan terutama keotentikan sosok Cak Nun. Kita bisa coba baca Daur itu secara acak dari nomor mana saja, niscaya kita temukan gagasan-gagasan yang bernas dan aktual. Dalam Daur kita dapatkan renungan-renungan yang dalam tentang bangsa, umat Islam, (Jamaah) Maiyah dan banyak perihal kemanusiaan lain yang universal. Dalam Daur pula kita temui kisah-kisah penuh makna. Kadang cerita itu kocak dan mengundang senyum, amat mencerahkan. Seringpula kita berjumpa cerita yang penuh metafora, menantang kita untuk berfikir dan berharap menemukan pemahaman. (Kadang otak saya yang kemampuannya terbatas ini buntu dan tak mampu menemukan pemahaman atas berbagai metafora serta nama-nama di situ, akhirnya saya simpan ketidakpahaman itu dalam hati sembari diam-diam berharap suatu hari saya temukan jawabannya). Daur adalah kesegaran gagasan, kebaruan cara pandang (sangat khas Cak Nun) dan keliaran ide yang menggelitik dan inspiratif.

Daur adalah Cak Nun yang kembali hadir. Selama lebih dari satu dawarsa kita tak menjumpai tulisan beliau di koran, majalah, sosoknya bagai lenyap dari televisi nasional menyusul keputusan beliau untuk berpuasa dari media selama lebih dari satu dasawarsa terakhir. Tapi juga kurang tepat untuk menyebut Cak Nun telah kembali. Sejatinya ia selalu hadir, dan terus menerus hadir ke tengah kita, sendiri maupun bersama KiaiKanjeng. Daur adalah salah satu cara Cak Nun menyapa kita dalam perjalanannya “berkeliling semesta, menaburkan cinta di hutan, di sungai, dan di kota-kota.”

Dari pertama kali penayangannya di web caknun.com, Daur agak khusus sifatnya karena disebut jelas bahwa ia: diperuntukkan untuk anak cucu dan Jamaah Maiyah. Jamaah Maiyah mendapat keistimewaan dari Cak Nun, sampai beliau rela memberi mereka porsi perhatian agak banyak bahkan khusus. Tulisan-tulisan di Daur sangat pantas untuk masuk kolom-kolom dan halaman terbaik dari media massa terkemuka di negeri ini. Namun alih-alih mengirimkannya untuk masuk media massa, Cak Nun memilih untuk mensedekahkannya untuk Jamaah Maiyah.

Jamaah Maiyah patut tersanjung, dan wajib bersyukur mendapat keistimewaan begitu rupa. Namun pertanyaan berikutnya adalah sudahkah kita membaca Daur? Sudahkah kita mencoba, dengan segala keterbatasan kita masing-masing, mentadabburi berbagai hal yang Cak Nun ungkapkan, sibak, tanam dalam Daur?

 

Malang, 12 Mei 2016

Advertisements