vol5

 

“Kaset kompilasi Slow Rock V, kelas 3 SMP tahun 1993. Belinya di toko kaset Kawan di kota Malang. Toko ini dulu ada tiga, tapi sekarang tinggal satu. Kalau nggak salah harganya Rp 6.000 untuk kaset Barat, kalau Indonesia Rp 4.000. Rumahku di kabupaten Malang, untuk ke kota Malang perlu naik kendaraan sejauh 10 km, bisa ditempuh naik angkudes, oper angkot, atau 30 menit jika kendaraan bermotor sendiri. Ibuku pedagang, seminggu tiga kali diantar Bapak ke kota Malang untuk kulakan, aku ikut mereka. Di Pasar Besar ibu kulakan, sementara aku jalan kaki ke toko kaset Kawan. Sebagai anak SMP dengan uang jajan pas-pasan, aku nabung dulu untuk beli kaset pertama itu. Dalam pikiran polosku waktu itu, beli satu album dari satu band kok sayang, gimana kalau ternyata lagu bagusnya sedikit. Karena itu kuputuskan beli album kompilasi saja biar dapat banyak lagu hits. Aku makin mantap beli album Slow Rock V karena di situ ada lagu “Love Is On The Way” Saigon Kick dan “Under The Bridge” RHCP yang sudah pernah aku dengar dari kaset milik kakak sepupu. Dari situ pula aku kenal Skid Row dan Dream Theater. Di toko kaset sempat mikir lama banget, bimbang antara beli album itu atau album perdana Slank Suit… Suit… He… He… (Gadis Sexy). Aku pernah minjem album Slank itu dari kakak sepupu. Semua lagunya asyik, liriknya berani, malah cenderung vulgar, setidaknya menurut ukuranku waktu itu. Tiap di rumah lagi ada ortu dan adikku, kaset Slank pinjeman itu selalu aku kecilin volume suaranya, atau bawa tape player-nya masuk ke kamar. Bukan apa-apa, bapakku guru agama dan mengajar di madrasah, aku nggak sampai hati jika beliau harus ikut mendengar lagu Slank yang seperti itu. Karena perasaan sungkan itu, aku nggak jadi beli kaset Slank dan memilih kompilasi Slow Rock V yang cenderung lebih aman itu. Tapi manusia berubah, kelak aku rutin beli kaset Slank sejak album Generasi Biru pas aku kelas 1 SMA.”

IR, 35 tahun, Malang
[pemilik Toko Buku Kafka]

Nb:

Pada 2013, seorang sahabat tiba-tiba menodong saya untuk wawancara. Temanya album musik yang pertama kali saya beli. Wah saya langsung sanggupi dengan antusias. Proyek wawancara itu menghimpun sekian banyak orang dari berbagai latar belakang dengan satu pertanyaan yang sama: album apa yang mereka pertama kali beli. Sangat menarik. Jawaban saya ia urai dalam bentuk prosa seperti di atas.

Versi lengkapnya ada di sini: album pertama dibeli