Bersit


rumah tangga

suatu pasangan yang menikah sering disebut sebagai membentuk rumah tangga. kalau kata rumah tangga ini mau diurai maka akan kita dapati kata rumah dan kata tangga. sebagaimana setiap kata memiliki sejarah (terbentuknya) sendiri, menarik juga tampaknya untuk mengira2 bagaimana kata rumah tangga ini kemudian dipakai untuk menjelaskan kehidupan pernikahan.

rumah (papan) umumnya berada pada urutan ketiga skala prioritas kebutuhan manusia setelah sandang dan pangan. dengan menempatkan kata rumah (papan) sebagai pasangan tangga -bukannya kata sandang atau pangan- mungkin diharapkan seseorang telah mampu mencukupi kebutuhannya sendiri akan sandang dan pangan sebelum menikah. baru setelah menikah ia dan pasangannya bisa sama2 mengusahakan rumah untuk tempat tinggal bagi mereka berdua dan anak-anaknya kelak.

nah, bagaimana dengan kata tangga? meski saya tidak paham sejarahnya namun keberadaan kata tangga sebagai pasangan kata rumah dalam bahasa indonesia ini unik dan berbeda dengan bahasa lain, misalnya bahasa inggris. bahasa inggris menyebut rumah tangga dengan kata household. house kita tahu artinya rumah, sementara hold berarti mengusahakan, atau memiliki. dengan demikian barangkali household, dalam filosofi bahasa inggris bermakna kepemilikan materi. sementara bahasa indonesia berbeda, ia menempatkan kata tangga bergandengan dengan kata rumah.

tangga, kita tahu adalah alat untuk tumpuan memanjat. ia terdiri dari sepasang tiang panjang serta cukup banyak bilah pendek yang menghubungkan keduanya. tanpa ada tiang panjang tak akan ada benda bernama tangga. tapi sepasang tiang tak bisa berdiri sendiri, ia mesti dihubungkan dengan bilah-bilah pendek yang cukup, yang membuat dua tiang itu terhubung erat dan kukuh. menganalogikan kehidupan pernikahan dengan tangga saya kira amat menarik. pria dan wanita dapat diibaratkan sebagai dua tiang panjang. mereka terhubung oleh bilah2 pendek yang barangkali bisa berupa cinta, dan kasih sayang. di bilah pendek lain terdapat pengertian, kesetiaan, kerja keras dan kesabaran. bilah pendek penunjang yang tak kalah pentingnya bisa berwujud iman dan kepasrahan kepada Sang Khalik. Bilah-bilah pendek ini mutlak diperlukan untuk menciptakan sebuah tangga yang kuat.

banyak pasangan yang rumah tangganya berantakan atau buyar di tengah jalan. banyak hal disebut-sebut menjadi penyebabnya; ketidakcocokan, pasangan berselingkuh, tak didapatnya keturunan dan sebagainya. itu adalah bukti nyata bahwa mewujudkan rumah tangga itu bukan hal sederhana dan mudah. bercermin pada analogi sederhana mengenai rumah dan tangga tadi saya menduga bahwa keretakan/bubarnya bangunan rumah tangga bisa saja terjadi karena lalainya suatu pasangan akan tujuan mereka hidup bersama. mungkin mereka mengejar rumah sementara lupa dengan pentingnya memperkukuh tangga di antara mereka berdua. bisa juga sebaliknya. Memang dilematis dan harus diakui bahwa tujuan mendapatkan rumah itu lebih mudah diukur daripada membangun tangga. tapi yang gawat adalah kalau ada yang punya seseorang sebagai pasangan tangganya tapi masih mencari-cari orang lain untuk memuaskan kesenangan egonya. dalam kasus yang semacam ini dapat dimaklumi kalau pasangan resminya itu lantas ngambek atau menggugatnya untuk berpisah. ketika bilah-bilah pendek tangga sengaja diciderai, niscaya tangga jadi goyah dan rawanlah bangunan rumah tangga seseorang. hanya dengan tangga yang kuat, suatu pasangan bisa menapak langkah demi langkah, satu tahap ke tahap selanjutnya, menuju cita2 dan tujuan hidup bersama mereka berdua. proses tersebut tentu membutuhkan pengorbanan dan komitmen yang penuh dari masing2 pihak agar langkah mereka dapat terjaga meski angin atau badai berhembus hebat menggoyang tangga kehidupan yang mereka jejaki.

semoga kita semua selalu mawas diri dan mendapatkan bimbingan-Nya dalam mewujudkan keseimbangan dalam menempuh tujuan rumah tangga kita.

Advertisements

bismillah31

Bismillah
aku melangkah

bismillah
benihlah
bismillah
tumbuhlah
bismillah
buahlah

bismillah
rata segala gunung
bismillah
timbun segala jurang
bismillah
tenang segala laut
bismillah
reda segala badai

bismillah
lunak segala baja
bismillah
jinak segala singa
bismillah
henti segala benci
bismillah
ke hulu segala rindu
bismillah
ke muara segala cinta

(diambil dari kumpulan puisi husni djamaluddin, “indonesia, masihkah engkau tanah airku?” terbitan pustaka jaya, 2004.)

sajak di atas mengingatkanku bahwa sedari kecil kita sering diajarkan untuk membaca kalimat suci itu (bismillah) sebelum melakukan sesuatu: ketika mau makan, waktu mau naik kendaraan, saat hendak bepergian dsb. barangkali dengan menyebut nama tuhan kita lantas ingat bahwa selalu ada ‘campur tangan’ Allah dalam setiap langkah kita. atau bisa juga dengan membaca bismillah, kita lalu membawa Sang Khalik dekat2 kita, mengiringi setiap jengkal langkah sehingga kegiatan kita senantiasa terbimbing dan selamat dari godaan setan.

bismillah kumelangkah, bismillah kita melangkah…
bismillahirrahmanirrahim…

yang tak henti kusyukuri adalah perjumpaan denganmu
yang tak habis kunikmati adalah saat-saat bersamamu

ingin jadi manusia yang lebih baik.

ingin merasa cukup dengan pemberian Tuhan.

ingin bersyukur.

dan berbahagia.

mungkin boleh diibaratin kalo pernikahan adalah seperti sembahyang. kalo begitu maka tahapan yang dijalani pasangan sebelum menikah adalah antara lain menata niat hati, menyucikan diri, dan memenuhi syarat2nya. diupayakan dengan baik seraya selalu ingat bahwa hal pokok bagi mereka berdua adalah sembahyangnya.

aku dulu biasa ngelakuin apa-apa sendiri karena belum nemuin partner yang kurasa tepat untuk berbagi. tapi dalam hati aku selalu menyediakan tempat utk seseorang yang, aku yakin, akan dikirimkanNya padaku. sekarang aku yakin dialah orangnya, dan berdoa, semoga demikian adanya.

SAJAK BUAT ISTRI YANG BUTA
DARI SUAMINYA YANG TULI

Maksud sajak ini sungguh sederhana.

Hanya ingin memberitahumu bahwa baju
yang kita kenakan saat duduk di pelaminan
warnanya hijau daun pisang muda, tetapi
yang membungkus kue-kue pengantin
adalah daun pisang tua. Memang keduanya
hijau, tetapi hijau yang berbeda, Sayang.

Di kepalamu ada bando berhias bunga,
kau merasakannya tetapi mungkin tidak
tahu bunga-bunga itu adalah melati putih.
Sementara di kepalaku bertengger sepasang
burung merpati, juga berwarna putih.

Aku selalu membayangkan, hari itu, kita
seperti sepasang pohon di musim semi.
Kau pohon penuh kembang. Aku pohon
yang ditempati burung merpati bersarang.

Aku lihat, orang-orang datang dan tersenyum.
Mereka berbincang sambil menyantap makanan.
Tapi aku tak dengar apa yang mereka bincangkan.
Maukah kau mengatakannya padaku, Sayang?

(Aan Mansyur, 2007)

puisi favorit saya beberapa waktu terakhir. sederhana namun memikat. dalam sajak-sajaknya yang kerapkali tampak bersahaja, aan berhasil mengungkapkan sisi2 yang tak biasa dari rasa cinta. siapa sempat terpikir untuk menulis sebuah ungkapan cinta seorang tuli, kepada pasangannya, yang kebetulan buta. saya tahu ketidaksempurnaan sepasang suami istri (yang satu tuli yang satu buta) barangkali tak perlu diartikan harafiah, namun pun bila kita mengartikannya dengan cara demikian , efek yang timbul dari pembacaan akan sama kuatnya. dari puisi yang cukup pendek ini saya pribadi sadar betapa penginderaan manusia (merasa, melihat, dan mendengar) adalah perkara keseharian, begitu sepelenya sehingga kerap terlupakan untuk dijumput dan dijadikan bahan sajak. tapi aan memikirkannya. ia peduli. ia menyadarkan kita bahwa cinta, meski habis2an dijarah, takkan habis digali. selama masih ada manusia, cinta tak akan mati.


Next Page »