sujiwo tejo.Jumat lalu saya menyaksikan pentas Mas Tejo di Festival Seni Surabaya dalam pentas bertajuk Indonesia, Jo!. Meleset dari perkiraan saya sebelumnya ternyata Tejo tidak menampilkan lagu2 dari album terdahulu (kecuali lagu Pada Suatu Ketika) justru membeber lagu-lagu terbaru yang akan muncul di album keempatnya nanti.

Dalam lagu2 barunya saya menangkap kritik yang lebih eksplisit dan refleksi Tejo terhadap keadaan bangsa yang dalam. Di lagu Fabel, Tejo bercerita tentang negeri yang menteri-menterinya terdiri atas sekumpulan binatang. Ada gajah sebagai menteri dalam negeri, ular sebagai jaksa agung, dan tikus sebagai Menteri Perindustrian. Meski bukan hal baru karena tema yang sama sudah pernah muncul antara lain di beberapa karya prosa, tapi tema itu saya kira sangat relevan dengan situasi bangsa saat ini dan Tejo menemukan momen yang tepat. Penyampaiannya juga jenaka menambah kelebihan lagu ini. Lagu lain berjudul Presiden Iya Iyo, serta Masih Ada Harapan.

Saya dua kali menonton pentas musik Tejo, pertama kali di Balai Unmer Malang sekitar tahun 1998 waktu dia promo album perdana, dan kedua di FSS ini. Ada perbedaan signifikan antara pentas Tejo dulu dan sekarang. Dahulu dia membawa serombongan acapella, bernyanyi dengan iringan gamelan dipadu instrumen modern. Nuansa musik daerahnya kental sekali. Tapi di FSS kemarin musik Tejo lebih condong ke jazz dengan instrumen tiup (saxophone) agak dominan. Penyebabnya barangkali karena akhir2 ini Tejo menggamit Bintang Indrianto yang populer sebagai bassis/musisi Jazz untuk menggarap musiknya.

Perkembangan musik Tejo tetap menarik saya kira, meski beberapa penggemar album Tejo lama bisa jadi akan mengernyitkan dahi mendengar lagu2 barunya. Dulu lagu2 Tejo tergolong easy listening, meski tak paham bahasa yg dipergunakan namun kebanyakan penyimak musik Tejo akan mudah ikut menyenandungkan lagu2 itu dalam keseharian. Sedang lagu2 dari album terakhir (dan album barunya nanti kira2) akan lebih sukar dicerna. Kita perlu mendengar album itu berulang2 untuk sampai pada maksud yang ingin ia sampaikan. Ditambah lagi pilihannya untuk mengusung musik jazz, genre yang lumayan tak populer untuk kebanyakan orang Indonesia.

Dalam dialog usai pentas Tejo mengaku bahwa aktivitas bermusik yang ia (dan grup musik pengiringnya) lakukan sama sekali bukan proyek cari uang. “Untuk membiayai pementasan aku seringkali melukis figur seseorang, seperti Ishadi S.K. misalnya, lantas setelah lukisan itu jadi aku sodorkan lukisan itu kepadanya, aku bilang ‘aku mau pentas ini lukisan terserah kau mau hargai berapa’ ,” katanya. Sebuah potret menarik di tengah arus industri musik modern yang berlimpah modal. Ternyata modal bukan halangan bagi Tejo untuk terus berproses, terus berkarya, dan tanpa henti menumbuhkan harapan.