Buku


1985a

Saya sering takjub dan tak henti terheran-heran menyaksikan sosok Emha Ainun Nadjib, atau lebih dikenal sebagai Cak Nun. Banyak hal besar dari kiprahnya bisa memancing rasa takjub saya selama ini, namun ternyata ketakjuban yang sama juga muncul dari hal sederhana, yakni setelah  membaca buku lama karya Cak Nun yang cukup tipis dan berukuran kecil dan terbit di tahun 1984 berjudul “Sastra yang Membebaskan: Sikap terhadap Struktur dan Anutan Seni Modern Indonesia”.

Menilik judulnya mungkin akan membikin kita mungsret atau sedikit berkecil hati. Judul yang terkesan susah dipahami. Bahasanya ilmiah dan kaku khas bahasa orang sekolahan. Namun perlu dicatat bahwa pemilihan judul ini bukannya tanpa alasan. Ia mewakili 11 tulisan Cak Nun dalam satu tema besar yang tersebar di media massa nasional, juga makalah diskusi di kampus-kampus besar di awal tahun 80an.

Di tahun 80an, Cak Nun telah dikenal masyarakat sebagai sastrawan ternama. Tulisan esai dan puisinya dimuat di Kompas, Horison, Buana Minggu dan sebagainya. Ia juga menjadi pionir dalam musikalisasi puisi bersama Kelompok Teater Dinasti. Bahkan boleh dibilang ia adalah pernyair terkuat dari Yogyakarta. Latar belakang ini penting diketahui saat kita menyimak tulisan-tulisannya yang terhimpun dalam buku di atas.

Salah satu tema menarik yang diangkat Cak Nun dalam tulisannya adalah polemik antara Sutan Takdir Alisyahbana di satu poros dengan Goenawan Mohamad di poros yang lain. Sutan Takdir berpijak pada sikap kesenian yang menuntut dirinya bertanggung jawab terhadap proses pengendalian kebudayaan manusia, dan karenanya menolak setiap kecenderungan eskapisme dari kebudayaan dan masyarakat seperti yang ditunjukkan oleh gejala keras individualisme seni modern. Sementara itu Goenawan berangkat dari ketidakpercayaan bahwa kesusasteraan bisa mempengaruhi masyarakat. Ia memilih sikap kesenian yang menitikberatkan pada ekspresi itu sendiri, lebih dari konsep atau ide di belakangnya. Kalau Takdir mengharuskan kesenian itu bertanggung jawab, Goenawan membatasi sistem forma kesenian dalam nilai dan disiplin seni itu sendiri, dan tanggung jawab sosial ‘dilimpahkan’ kepada perjuangan yang bukan kesenian, melainkan yang bersifat politik atau sosial.Bagi Cak Nun dua orang itu benar, mulia, dan sah, namun keduanya nampak kurang berusaha memahami kebenaran lain yang ada di luar diri mereka.

Cak Nun melangkah lebih jauh dengan berpandangan bahwa karya sastra yang terpencil dari masyarakatnya memang dikehendaki oleh sistem yang berlaku saat itu (bermula dari sistem dan struktur masyarakat kapitalis dan seterusnya). Menurutnya, seni model Goenawan dkk memang cenderung lebih mengamankan sistem yang ada. Aliran tersebut ‘menyelamatkan diri’ ke dalam disiplin nilai seni yang lebih tersendiri (untuk tidak menyebut eksklusif). Sebagai aliran ia sah dan tak salah, namun ia bermasalah saat ia menghembuskan suatu gelombang nilai yang menafikan lain-lain.

Dari tulisan lain yang berjudul “Batas Komitmen Sastra Kita terhadap Nasib Manusianya” kita bisa menyaksikan dengan jelas pandangan Cak Nun terhadap sastra dalam hidupnya, hal mana secara konsisten ia pegang teguh hingga sekarang.  Dalam era yang berkembang saat itu, menurut Cak Nun , sebagian sastrawan mendekati sastra secara intelektual, spesialistis, alias menempat sastra dalam ruang tersendiri, terpisah dari hal-hal lain.Mereka meletakkan diri dalam konstelasi kesusasteraan dunia. Dari situ mereka bertitik tolak dan berorientasi dalam berkarya. Cak Nun mengambil posisi yang berseberangan. Ia meletakkan sastra tidak sebagai titik tolak melainkan lebih sebagai salah satu pilihan ekspresi saja. Bingkai atau perspektif kegiatannya bukan perspektif kesusastraan belaka melainkan perspektif kehidupan yang menyeluruh. Artinya pergulatannya bukan pergulatan kesusasteraan, karena kesusasteraan hanya merupakan ungkapan reflektif darisuatu pergulatan yang lebih kompleks sifatnya. Dari pintu inilah menjadi jelas bagi kita dalam memandang kerangka sepak terjang kegiatan Cak Nun dari ia muda hingga saat ini. Ia sastrawan ternama, namun tidak hanya karena kotak sastra/kesastrawanannya ia bisa seperti tak pernah berhenti berkeliling ke segala penjuru negeri hingga lintas negara. Ia sastrawan besar namun pergulatan hidupnya menembus kotak kesusasteraan, bahkan melintasi batas strata sosial, pendidikan, agama, suku, ras dan sebagainya.

Penguasaan yang mumpuni terhadap sastra telah menjadi salah satu bekal yang sangat berguna bagi Cak Nun dalam pergulatan yang kongkrit terhadap masalah-masalah kehidupan di masyarakat. Ia dengan luwes bisa berbicara dalam forum yang audience-nya heterogen. Ia paham benar bagaimana mengawali komunikasi, bagaimana meningkatkan progresinya, bagaimana mengikat keadaan, bagaimana memeliharanya dan menggiring massa ke substansi yang ia inginkan. Inisiasinya untuk melibatkan Karawitan Dinasti pada 80an, dan kemudian Kiai Kanjeng sejak 1998 ke dalam acara-acara Cak Nun , terbukti sangat tepat dan efektif dalam melayani masyarakat.

Pada tulisan terakhir di buku ini yang berjudul “Menghadirkan Puisi Di Mana-mana pun.. Sampai Sastra yang Membebaskan” kita akan menjumpai pernyataan Cak Nun yang lebih menyerupai sebuah kredo terhadap segala kegiatan yang ia lakukan. Ungkapan ini menakjubkan karena pernyataan yang ia tulis lebih dari 30 tahun yang lalu ini seperti merangkum dan menjadi benang merah atas semua aktivitas yang dilakukan Cak Nun dari muda hingga saat ini. “Aku mengerjakan keyakinanku tentang kewajiban manusia  untuk selalu memperbaiki seluruh segi dirinya. Aku menyatakan simpati dan cinta kasihku kepada mereka yang dimiskinkan jiwa raganya. Aku membuktikan tanggung jawabku terhadap mimpi-mimpi sendiri tentang kehidupan yang lebih hidup.”

 *

Judul: Sastra yang Membebaskan: Sikap terhadap Struktur dan Anutan Seni Modern Indonesia. Penulis: Emha Ainun Nadjib. Penerbit: PLP2M. Tahun terbit: 1984. Jumlah halaman: x, 136 halaman

 

 

mlg--

Foto masyarakat menyambangi lapak2 buku bekas ini sepertinya diambil di pusat kota Malang, selatan alun2, di tahun 80an.

Saat remaja dan bersekolah tak jauh dari daerah ini, sekitar 90an, pemandangan di atas sudah tak bisa saya saksikan lagi. Saat itu, lapak buku bekas di Malang terpusat di dua lokasi, yakni sekitar Jl. Majapahit yg bersebelahan dengan Pasar Burung, dan sekitar Jl. Sriwijaya, persis depan Stasiun Kota Baru. Buku-buku baru dan bekas mudah dijumpai di dua lokasi tesebut dengan harga yg bersahabat.

Sekitar 2003, Pemerintah Kota Malang menggusur lapak2 buku Majapahit dan Sriwijaya itu dengan alasan penataan taman kota. Lapak2 buku di Jl. Majapahit dipindah ke daerah Jl. Wilis, lokasi yang strategis karena cukup dekat dengan Jl. Ijen dan kompleks perguruan tinggi di Malang, sedangkan lapak2 di Jl. Sriwijaya dipindah menjauh dari perkotaan, yakni ke daerah Madyopuro, dan menempati kios2 di luar Velodrome (sarana olahraga sepeda).

Sama2 berpindah lokasi, nasib dua tempat lapak ini amat berbeda. Lapak Wilis, karena kemudahan akses dan jangkauan, tidak kekurangan pengunjung, bahkan amat ramai di waktu2 tertentu sesuai jadwal sekolah/kuliah. Tak jarang orang2 dari luar kota sekitar Jawa Timur datang berombongan ke Wilis dan memborong buku. Sedang lapak di sekitar Velodrome, agak mengenaskan nasibnya. Di hari2 biasa, pengunjungnya amat minim, bahkan bisa dihitung dengan jari. Mereka hanya sedikit ramai pengunjung di akhir pekan, itupun tertolong oleh keberadaan Pasar Minggu tepat di sekitar Velodrome yang rutin diadakan tiap Minggu pagi.

Menyaksikan kondisi perbukuan di Malang hingga saat ini, terlebih dengan fakta bahwa di bekas lahan lapak buku Jl. Sriwijaya kemudian malah dibangun pujasera, pemerintah memang tampaknya tidak cukup peduli akan kecerdasan warganya.

Viva Cuba! ini adalah kumpulan sajak oleh para penyair kiri yang tergabung di Lekra seperti Agam Wispi, Sitor Situmorang, Budiman Sudarsono, S. Anantaguna, A.R. Hadi, Hr. Bandaharo, Lelonokaryani, T. Iskandar, A.S., M.A. Simandjuntak, Amarzan Hamid, dll. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Bag. Kebudayaan Kedutaan Besar Kuba pada 1963.

Keseluruhan isinya adalah puisi2 mengenai Kuba dlm sudut pandang para penyair tsb: ada rasa kekaguman, puji2, ungkapan solidaritas dan persahabatan. Salah satu yang saya suka adalah puisi Agam Wispi berjudul “Tidak akan Pernah Kuba Menjerah”. Puisi sepanjang 7 halaman (!) ini begitu menggigit, garang, sekaligus indah.

Yang ingin mengunduh buku ini dalam bentuk pdf langsung saja klik ke tautan berikut ini. Salam..

Viva Cuba!

Jon Pakir

Perkenalkan, namanya Jon. Nama lengkapnya Jon Pakir. Umurnya kisaran 30an, masih tergolong muda. Profesinya asyik: bikin kopi. Kalau jaman sekarang orang mungkin memberinya julukan yang keren: Barista. Sungguh, itu bukan julukan yang berlebihan buat Jon. Ia adalah peracik kopi yang handal. Entah belajar dari mana Jon ini, kopi yang ia bikin selalu terasa pas bagi yang menikmatinya.

Kopi yang Jon suguhkan, aslinya rutin dinikmati oleh warga Yogyakarta dan sekitarnya di era 80an. Saat itu Jon yang masih muda adalah redaktur harian Masa Kini. Ia kebagian tugas menyuguhkan secangkir kopi secara rutin buat pembaca surat kabar itu. Kopi yang dimaksud adalah tulisan ringkas, seperti sketsa. Kebanyakan bisa dibaca sekali duduk. Kalau Anda membaca satu tulisan Jon sembari merokok, kiranya akan rampung sebelum habis satu batang rokok.

Meski singkat, tak berarti sketsa Jon tak berbobot. Justru di situlah tampak kelebihan Jon. Ia piawai membikin racikan sehingga meski yang dibahas kebanyakan adalah hal-hal keseharian yang ringan, namun tulisannya tetaplah memiliki bobot. Dan sebaliknya, tatkala ia membawa tema yang tidak ringan, bahkan berat, ia sanggup menyajikannya ke hidangan pembaca sedemikian rupa sehingga mudah dicerna siapa saja. Apa penyebabnya? Tampaknya karena Jon bergelut total dengan tema yang ia olah. Ia menyelami persoalan-persoalan hidup masyarakat di mana ia hidup. Dan lebih dari itu, ia memiliki sikap yang jelas dalam memandang persoalan-persoalan orang banyak.

Dari sekian banyak tulisan yang tersaji, tentu ada satu dua yang nempel di hati. Cerita Jon berikut ini salah satu favorit saya. Syahdan kakaknya Jon sangat ingin menunaikan haji. Berbagai upaya halal sudah ditempuh, namun berkali-kali gagal. Pernah sang kakak ini berhasil mengumpulkan uang, namun seminggu sebelum mendaftar haji, tiba-tiba madrasah yang dibangun oleh ayah mereka ambruk. Walhasil sang kakak langsung menggunakan uangnya tadi untuk merenovasi madrasah. Di kali lain, ketika uang ongkos naik haji siap, rupanya niat haji harus kembali tertunda karena masjid di dekat rumah harus pindah karena terkena pelebaran jalan. Pada kesempatan ketiga, uang telah terkumpul, namun sang kakak mendengar informasi bahwa banyak jejaka di desanya ingin nikah namun terkendala biaya. Akhirnya kakak Jon menggunakan uangnya tadi untuk melaksanakan nikah massal muda-mudi di balai desa. Masih ada satu cerita lagi ketika sang kakak kembali harus mengurungkan niatnya berangkat ke Makkah karena ia gunakan uangnya untuk membantu tetangganya yang memerlukan biaya rumah sakit akibat diseruduk truk gandeng. Ketika Jon menanyakan kebenaran hal itu, kakaknya mengiyakan dan menjawab ringan “Aku bersyukur karena Allah yang Bijak selalu mempertemukan aku dengan kewajiban kifayah seperti ini. Mataku masih awas dan telingaku masih diberi lobang sehingga info-info dari tetangga cepat masuk”.

Sungguh cerita yang luar biasa. Betapa cerita itu mengandung hikmah soal kesabaran, kerelaan, dan pengorbanan. Di antara cerita-cerita (maaf) klise tentang seseorang yang berlomba-lomba ingin berhaji, bahkan sampai berhutang. Juga cerita orang yang berhaji  berkali-kali bahkan untuk memuaskan diri perlu menambahkannya dengan umroh di tengah masyarakat yang timpang kesejahteraannya, cerita kakak Jon di atas adalah butir permata yang berkilauan yang kita peroleh dengan cuma-cuma dan simpan untuk suri tauladan kehidupan.

Kisah-kisah yang dituang Jon dalam buku “Secangkir Kopi Jon Parkir” ini dipungut Jon dari pergaulannya yang intens dengan berbagai lapisan masyarakat. Jon berkisah tentang apa saja: tentang bagaimana beringasnya manusia terhadap sesamanya yang melakukan pencurian kecil (Pencuri Sepatu itu, Ya Allah), tentang keengganan manusia Indonesia belajar sejarah kecuali perihal kekuasaannya semata (Listrik Majapahit), kritik terhadap seruan azan yang kurang memperhatikan soal estetika (Azan dari Jauh), tentang pergaulan segitiga Allah-Muhammad-kita yang amat karib (Christ kepada Muhammad), tentang peran filsafat, ketahanan moral, dan nilai-nilai kejiwaan dalam membentuk orang kecil menjadi tangguh dan sanggup memanusiakan dirinya di tengah derita dan kemelaratan (Tuhan Yang Maha Jowo), dan puluhan tema lain.

Bercangkir-cangkir kopi dari Jon ini amatlah nikmat namun untuk mendapatkan sesuatu darinya akhirnya terpulang dari kita sendiri, seberapa jauh kita bersedia memungut keping-keping hikmah yang berserak. Jon tak kasih khotbah namun pembaca awam pun akan dengan mudah menangkap religiusitas dan penghayatan agama Jon yang mendalam dan tercermin dalam pembelaannya terhadap nilai-nilai mendasar dalam hidup. Jon sepintas tampak ndeso dan urakan namun mata polos tak dapat mengelak bahwa perkataan dan sikap Jon itu unik,  otentik dan konsisten.

Dengan keluasan topik yang dibicarakan, pembaca punya kebebasan untuk mulai nyruput kopi Jon ini dari mana. Dari depan asyik, dari tengah juga oke, dari belakang enak juga. Cuma ada satu masalahnya, Secangkir Kopi Jon Pakir ini lama hilang dari peredaran. Bukan apa-apa, ia terakhir dicetak oleh Mizan pada tahun 1990an. Ya mungkin masih bisa ditemukan di loakan kalau beruntung. Atau bisa coba berburu di lapak buku bekas online yang makin menjamur itu. Syukur-syukur kalau Penerbit Mizan, yang akhir-akhir ini kembali menerbitkan buku-buku lama Emha Ainun Nadjib, tergerak untuk menghidangkan kembali sajian Jon Pakir ini kekhalayak pembaca seantero dunia. Semoga.

 

Secangkir Kopi Jon Pakir, Emha Ainun Nadjib. Penerbit Mizan, C1, 1992. 395 halaman.

 

 

546280_237798876334651_469749870_n

Foto ini jadi inspirasi saya untuk mencari buku-buku Pramoedya.

Empat atau lima tahun lalu, buku Pramoedya relatif cukup sering muncul di lapak online. Baik yang agak baru maupun yang lawas. Harganya pun bersahabat. Tercatat dalam ingatan saya, Kardus Buku, yang dulu blognya bernama Station Buku Online sering tiba-tiba, tanpa kenal waktu, mengunggah jualannya, buku2 lawas. Di antara yang diunggah itu sering terselip buku2 Pram.

Kadang siang hari bolong pas saya tengah istirahat buku-buku itu muncul. Bertubi2. Saya yang saat itu belum terlalu tertarik membeli Pram, kadang hanya melongo menyaksikan buku2 itu begitu cepat berubah status: dalam hitungan tak sampai dua menit statusnya berubah, dari tersedia menjadi dipesan/booked. Rupanya banyak sniper dan pemburu buku yang diam2 memantau pergerakan blog Mas Rudi itu.

Sering juga lewat tengah malam hujan buku2 bagus terjadi tanpa kenal ampun. Ketika pagi saya bangun tidur dan buka hape, terbit rasa sedih menyaksikan buku2 yang saya cari ternyata telah muncul malamnya di blog Stalinebooks, dan statusnya pun sudah dipesan orang.

Saya baru tertarik untuk mulai membeli buku Pram setelah pertama kali menyaksikan foto di atas. Foto itu kalau tidak salah diunggah oleh kawan penjual buku online dari Sumut, Jejak Langkah, sekitar tiga atau empat tahun lalu. Saya terpesona. Buku2 Pram dalam jumlah banyak bertumpuk2 bersanding dengan gadis kecil yang lucu. Saya tertegun, indah sekali pemandangan dalam foto itu. Anak kecil dan buku2 Pram. Sebuah kontras yang anggun. Dan setelah memandangi foto itu berkali2 saya seperti tersadar, banyak sekali karya Pram. Banyak sekali karya Pram yang telah terbit. Dan banyak sekali karya Pram yang belum saya miliki.

Selanjutnya adalah cerita berburu buku2 Pram. Satu demi satu karya Pram saya peroleh. Keberuntungan sering menghampiri. Beberapa buku Pram yang cukup langka saya peroleh dengan menebus seharga beberapa puluh ribu saja, misalnya, Hoakiau di Indonesia lawas, dua jilid Panggil Aku Kartini Saja, juga Tetralogi Hasta Mitra. Namun ada juga yang harganya tak lagi murah, umumnya yang saya beli belakangan ini, saat harga buku2 Pram seperti liar dan terkesan dihargai sesuka hati penjualnya.

Akhir-akhir ini perburuan saya akan buku Pram agak surut. Selain karena buku2 Pram yang saya cari makin sulit ditemukan, saat muncul pun harganya tak ramah buat dompet. Tak mau menyalahkan siapa-siapa. Di mana2 berlaku prinsip ekonomi, ketika sebuah barang jumlahnya sedikit sementara yang memerlukan banyak, harga jadi melambung.

Untunglah ada barter. Ini tata cara pertukaran barang yang usianya tua, mungkin telah ada dari manusia jaman kuno. Dengan berbarter, uang tak diperlukan lagi. Yang dominan adalah kerelaan, bisa diartikan senang hati, dari masing2 pihak untuk menukarkan barang yang ia miliki. Saya beberapa hari yang lalu berhasil memperoleh buku Pram yang saya cari, Tempo Doeloe, dengan cara barter buku ini. Rasanya senang sekali. Saya melepas dua buku Emha Ainun Nadjib yang saya miliki sebagai barter.

Saya perlu berterima kasih pada grup Ajang Barter Buku di FB. Dengan adanya ajang itu, saya tak perlu mengeluarkan banyak uang untuk buku yang saya idamkan. Sekarang saya menunggu, antara sabar dan tak sabar, kira2 buku bagus apa lagi yang akan saya peroleh dari grup ini lain hari?

 

Siang itu aku berada di pusat lapak buku bekas di kota M. Berkeliling sebentar, aku berhenti di sebuah toko yg sedang sepi. Mataku terantuk pada satu buku yang terselip di tumpukan buku2 pelajaran. Itu buku yang lama kucari, buku tentang sejarah kota tempat tinggalku. Dulu buku itu sempat beredar dalam jumlah banyak di toko buku tapi setelah beberapa bulan buku itu tiba2 lenyap dan susah ditemukan.

Pelan dan hati-hati kuambil buku itu dari tumpukan. Kulihat isinya halaman demi halaman. Masih cukup baik meski sampulnya sudah agak lusuh. Setelah kutimang2 sebentar lalu kutanyakan harganya kepada penjualnya, seorang ibu. Si ibu itu tak segera menjawab pertanyaanku, ia tampak bimbang. Kuulang sekali lagi pertanyaanku, mungkin ia tidak mendengarnya, pikirku. Setelah menghela napas  ia menjawab perlahan ‘maaf mas, putri saya ini suka melihat2 gambar di buku ini. Dia sepertinya keberatan buku ini ikut dijual.” Mataku tertuju pada seorang gadis kecil yang berdiri di samping ibu itu. Ia tertunduk malu2.

Si ibu mencoba lagi bertanya pada anaknya ‘Dik, buku ini mau dibeli sama masnya boleh apa ndak?’

Gadis kecil itu termangu dan tak mengeluarkan sepatah kata pun.

Aku tiba2 merasa canggung. Si ibu pasti memajang buku itu dengan niat menjualnya, sedang si anak tak ingin buku itu dijual karena suka dengan isi buku itu.

Kami bertiga berada dalam suasana kikuk: satu sama lain punya keinginan sendiri2 atas buku berwarna biru itu.

Setelah menimbang singkat akhirnya aku memutuskan untuk membiarkan buku itu jadi milik si gadis. Aku berujar pada si ibu: ‘Kalo adiknya masih mau baca jangan deh bu, saya gak papa kok, kapan2 saja.’

Tangan Si ibu terulur mengambil buku itu tetapi rupanya gadis kecil berubah pikiran, ia sentuh lengan ibunya dan mendorongnya untuk mengembalikan buku itu pada saya. Ia merelakan buku itu dijual.

“Benar gak apa2 ya, dik?’ Gadis kecil mengangguk-angguk. Akhirnya ibu penjual itu memberikan buku itu kembali kepadaku.

Duh, antara senang dan sedih aku bayar buku itu. Aku senang karena buku yang lama kucari itu akhirnya ada di tangan, tapi hati juga teriris pedih melihat gadis kecil itu merelakan buku kesayangannya dijual agar ibunya mendapatkan uang.

Semoga buku itu membawa berkah kepada kami semua: aku, ibu penjual buku, dan gadis kecilnya.

Banyak puisi Indonesia yang saya suka, di antaranya punya Goenawan Mohamad berjudul Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi. Puisi ini bisa ditemukan di buku Asmaradana terbitan Gramedia Widiasarana, 1992.

Di bawah ini puisi tersebut dibacakan langsung oleh penciptanya, saya cuplik dari VCD dokumentasi sastrawan Indonesia terbitan Lontar.

Goenawan Mohamad – Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Sedang yang satu ini puisi yang sama dibacakan oleh Sujiwo Tejo, saya ambil dari adegan dalam Film Telegram di mana Tejo berperan sebagai tokoh utama.

Sujiwo Tejo – Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Di beranda ini angin tak kedengaran lagi
Langit terlepas. Ruang menunggu malam hari
Kau berkata: pergilah sebelum malam tiba
Kudengar angin mendesak ke arah kita

Di piano bernyanyi baris dari Rubayyat
Di luar detik dan kereta telah berangkat
Sebelum bait pertama. Sebelum selesai kata
Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba

Aku pun tahu: sepi kita semula
bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela
mengekalkan yang esok mungkin tak ada

1966

Next Page »