546280_237798876334651_469749870_n

Foto ini jadi inspirasi saya untuk mencari buku-buku Pramoedya.

Empat atau lima tahun lalu, buku Pramoedya relatif cukup sering muncul di lapak online. Baik yang agak baru maupun yang lawas. Harganya pun bersahabat. Tercatat dalam ingatan saya, Kardus Buku, yang dulu blognya bernama Station Buku Online sering tiba-tiba, tanpa kenal waktu, mengunggah jualannya, buku2 lawas. Di antara yang diunggah itu sering terselip buku2 Pram.

Kadang siang hari bolong pas saya tengah istirahat buku-buku itu muncul. Bertubi2. Saya yang saat itu belum terlalu tertarik membeli Pram, kadang hanya melongo menyaksikan buku2 itu begitu cepat berubah status: dalam hitungan tak sampai dua menit statusnya berubah, dari tersedia menjadi dipesan/booked. Rupanya banyak sniper dan pemburu buku yang diam2 memantau pergerakan blog Mas Rudi itu.

Sering juga lewat tengah malam hujan buku2 bagus terjadi tanpa kenal ampun. Ketika pagi saya bangun tidur dan buka hape, terbit rasa sedih menyaksikan buku2 yang saya cari ternyata telah muncul malamnya di blog Stalinebooks, dan statusnya pun sudah dipesan orang.

Saya baru tertarik untuk mulai membeli buku Pram setelah pertama kali menyaksikan foto di atas. Foto itu kalau tidak salah diunggah oleh kawan penjual buku online dari Sumut, Jejak Langkah, sekitar tiga atau empat tahun lalu. Saya terpesona. Buku2 Pram dalam jumlah banyak bertumpuk2 bersanding dengan gadis kecil yang lucu. Saya tertegun, indah sekali pemandangan dalam foto itu. Anak kecil dan buku2 Pram. Sebuah kontras yang anggun. Dan setelah memandangi foto itu berkali2 saya seperti tersadar, banyak sekali karya Pram. Banyak sekali karya Pram yang telah terbit. Dan banyak sekali karya Pram yang belum saya miliki.

Selanjutnya adalah cerita berburu buku2 Pram. Satu demi satu karya Pram saya peroleh. Keberuntungan sering menghampiri. Beberapa buku Pram yang cukup langka saya peroleh dengan menebus seharga beberapa puluh ribu saja, misalnya, Hoakiau di Indonesia lawas, dua jilid Panggil Aku Kartini Saja, juga Tetralogi Hasta Mitra. Namun ada juga yang harganya tak lagi murah, umumnya yang saya beli belakangan ini, saat harga buku2 Pram seperti liar dan terkesan dihargai sesuka hati penjualnya.

Akhir-akhir ini perburuan saya akan buku Pram agak surut. Selain karena buku2 Pram yang saya cari makin sulit ditemukan, saat muncul pun harganya tak ramah buat dompet. Tak mau menyalahkan siapa-siapa. Di mana2 berlaku prinsip ekonomi, ketika sebuah barang jumlahnya sedikit sementara yang memerlukan banyak, harga jadi melambung.

Untunglah ada barter. Ini tata cara pertukaran barang yang usianya tua, mungkin telah ada dari manusia jaman kuno. Dengan berbarter, uang tak diperlukan lagi. Yang dominan adalah kerelaan, bisa diartikan senang hati, dari masing2 pihak untuk menukarkan barang yang ia miliki. Saya beberapa hari yang lalu berhasil memperoleh buku Pram yang saya cari, Tempo Doeloe, dengan cara barter buku ini. Rasanya senang sekali. Saya melepas dua buku Emha Ainun Nadjib yang saya miliki sebagai barter.

Saya perlu berterima kasih pada grup Ajang Barter Buku di FB. Dengan adanya ajang itu, saya tak perlu mengeluarkan banyak uang untuk buku yang saya idamkan. Sekarang saya menunggu, antara sabar dan tak sabar, kira2 buku bagus apa lagi yang akan saya peroleh dari grup ini lain hari?

Advertisements