Musika


Banyak puisi Indonesia yang saya suka, di antaranya punya Goenawan Mohamad berjudul Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi. Puisi ini bisa ditemukan di buku Asmaradana terbitan Gramedia Widiasarana, 1992.

Di bawah ini puisi tersebut dibacakan langsung oleh penciptanya, saya cuplik dari VCD dokumentasi sastrawan Indonesia terbitan Lontar.

Goenawan Mohamad – Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Sedang yang satu ini puisi yang sama dibacakan oleh Sujiwo Tejo, saya ambil dari adegan dalam Film Telegram di mana Tejo berperan sebagai tokoh utama.

Sujiwo Tejo – Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Di beranda ini angin tak kedengaran lagi
Langit terlepas. Ruang menunggu malam hari
Kau berkata: pergilah sebelum malam tiba
Kudengar angin mendesak ke arah kita

Di piano bernyanyi baris dari Rubayyat
Di luar detik dan kereta telah berangkat
Sebelum bait pertama. Sebelum selesai kata
Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba

Aku pun tahu: sepi kita semula
bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela
mengekalkan yang esok mungkin tak ada

1966

Tempo hari aku sama istri jalan ke mal baru di Malang, yup, MX. Mungkin karena masih baru, belum terlalu banyak gerai di mal ini. Lantai satu dipenuhi resto dan kafe-kafe yang terlihat cozy dan enak dibuat kongkow, mengingatkan kafe-kafe serupa di Jakarta. Melongok daftar harganya kayaknya segmen mereka bukan mahasiswa, tentu saja! (kecuali yg udah berkantong agak tebal).  Suasana di mal ini remang2 alias lampunya redup, dan hembusan hawa dingin dari mesin pendingin sangat terasa. Nyess. Tidak seperti mal2 lain di Malang yang seringkali agak ongkep, cukup panas.

Buatku pribadi yang asyik dari MX adalah di sini kita bisa temukan dua toko CD musik dan film, sesuatu yang makin langka di Malang.  Di lantai satu ada Disc Tarra, dan di lantai dua ada Taurus.

Disc Tarra MX adalah  cabang kedua Disc Tarra di Malang setelah mereka cabang Gramedia Basuki Rachmat. Menyiasati tempat yang tak terlalu luas, Disc Tarra MX ini memajang koleksinya berjajar dalam rak2, ada CD dan DVD musik/film.  Toko musik ini dilengkapi dengan kafe kecil tempat pengunjung bisa memesan minuman. Di bagian depan toko tersedia beberapa tempat duduk dan booth audio player. Di sini pengunjung bisa bersantai menikmati waktu sambil mendengar CD musik yang baru mereka beli.

Taurus di lantai 2 MX sedikit lebih luas daripada Disc Tarra. Di iklannya di surat kabar mereka mengaku memiliki koleksi yang lengkap, musisi berbagai gennre musik dari jaman jadul hingga jaman sekarang. Setelah kulihat ternyata klaim itu gak terlalu benar. Koleksi musik lama memang ada tapi tidak lengkap2 amat. Aku yang membayangkan koleksi mereka sebanyak/sevariatif lapak2 CD/plat di jalan Surabaya Jakarta mesti kecewa. Menyamai sedikitpun tidak. Untungnya koleksi CD musik Indonesia Taurus ini lumayan. Album2 lama Dewa, Potret hampir ada semua. Mereka juga menjual VCD berlabel murah yang umumnya berisi lagu2 dangdut koplo dan karaoke.

Pulang dari MX aku menenteng CD grup baru, Komplotan, grup baru bentukan alumnus UI 80an antara lain Jubing Kristanto (yang terkenal dengan album2 solo gitarnya), Reda Gaudiamo (mantan wartawan Hai, pernah membuat proyek musik Dua Ibu yang memusikalisasikan puisi2 Sapardi Djoko Damono), dan beberapa nama lain.

Berikut lagu favoritku dari album Komplotan “Nyanyian Laut”  judulnya Buaian: Di Balik Mata. Selamat menyimak.

Komplotan – Buaian: Di Balik Mata

kami percaya kaupun terbakar juga

Koil adalah satu dari sedikit band indonesia yang memiliki fans loyal dan militan untuk tidak menyebutnya gila. Membandingkan Koil dengan Slank atau Iwan Fals tentu tidak sebanding dari sudut manapun namun menimbang kegilaan fansnya adalah hal yang berbeda. Album tribute to koil ini adalah buktinya. Berbekal kecintaan kepada band pujaannya, beberapa pemuda -antara lain Jaka Kandaga dan Vidi Nurhadi- nekad menggagas album tribute buat Koil.

Singkat kata pemuja Koil ini mengumpulkan dana, menghubungi band-band yang tertarik menyumbangkan diri untuk mengisi album itu (dengan cuma-cuma tentu saja), mengompilasi hasilnya ke dalam CD, lalu membagi-baginya gratis. Proyek ini siapapun tahu perlu banyak energi, waktu dan terutama uang, namun rupanya keterbatasa dalam hal-hal tersebut tak menjadi alasan bagi Jaka dan teman-temannya untuk mundur. Terwujudnya album ini sungguh hadiah yang menyenangkan bagi Koil, lebih2 bagi penggemar Koil di mana-mana. Saya belum pernah mendengar ada fans band Indonesia lain, fans Slank atau Iwan Fals sekalipun membuat tribute album untuk musisi idola mereka. Dengan kemunculan album ini fans Koil boleh sedikit berbangga hati.

‘Kami Percaya Kaupun Terbakar Juga’ berisi sekumpulan lagu-lagu Koil dari beberapa album yang digarap ulang. Melihat list band yang muncul di album ini membuat kening saya berkerut. Nama-nama yang asing, sedikit sekali yang saya kenali. Mungkin karena ke-kuper-an saya saja. Atau karena memang band-band itu adalah band yang baru muncul saya tak tahu. Tapi keberadaan mereka di album itu tentu punya alasan, begitu pikir saya. Dan pertanyaan saya langsung terjawab begitu saya mulai mendengar album ini.

Track ‘Burung Hantu’ menjadi lagu pembuka yang nendang, sangat asyik. Pendengar serasa langsung disergap dan mau gak mau musti ikhlas bergoyang rusuh bersama lagu ini. The Moms Berdarah dengan gaya garage-nya sukses memberi interpretasi baru pada lagu yg aslinya murung ini. Kalo ditampilkan live, saya yakin Otong-pun akan ikut jejingkrakan dan sing along. Haha.

Menyusul kemudian adalah ‘Dosa Ini Tak akan Berhenti’ yang berasal dari album Megaloblast. Midnight Soul yg dipercaya ikut mengisi album ini membayar tuntas kepercayaan itu dengan sangat ciamik: mereka mainkan salah satu lagu kebangsaan Koil ini dengan gaya rockabilly yang cantik! Kalau Anda masih asing dengan istilah rockabilly, ini adalah istilah baru hasil perkawinan rock n roll dan hillbilly (semacam musik country). Midnight Soul tampil begitu prima; vokal yg apik, irama rock n roll yang terjaga, serta sentuhan country dari harmonika yg pas dan manis. Nomor ini seketika jadi favorit saya.

Pada track berikutnya, Screaming Factor merombak ‘Ini Semua adalah Fashion’ menjadi nomor metal yang cepat, gahar dan menderu-deru. Perombakan yang mereka lakukan lumayan ekstrim. Hanya sedikit cita rasa Koil yg tersisa. Anda mungkin menyangsikan lagu ini aslinya milik Koil sampai anda tiba di bagian reffrain. Ohya, mendengarkan lagu ini beberapa kali entah kenapa tiba-tiba terlintas di kepala saya ‘Ah, bagaimana ya rasanya apabila Phil Anselmo nyanyiin lagunya Koil.’ Hehe. Oke, nomor ini saya yakin akan segera mendapat tempat di hati mereka yang menyukai musik cadas.

Selanjutnya adalah nomor klasik milik Koil ‘Lagu Hujan’ yang jatuh ke tangan Amazing in Bed. Secara musikal tak terlalu jauh dari versi asli, sayang, jadinya kurang menarik. Versi asli juga sangat menyentuh, hal mana tak saya dapatkan dalam versi baru di album ini.

Penampil selanjutnya adalah pembawa pencerahan. Adalah Lullaby for Michelle yang mengusung ‘Pudar’ dengan alunan a la post-rock yang memikat. Jiwa lagu ’Pudar’ yang ngelangut muncul utuh sepanjang lagu. Ditimpali gitar yang menerawang, vokalis grup ini bernyanyi penuh penjiwaan depresif. Penjiwaan vokalis grup ini menyamai Otong dalam lagu-lagu sedih Koil. Ini nomor favorit kedua saya di album ini.

Berturut-turut kemudian adalah Black Stone Boredom dengan ‘Nyanyikan Lagu Perang,’ Marianna de Bastard dengan ‘Karat’ dan Monsternaut dengan ‘Tidak Berarti’. Black Stone saya kira berjudi dengan memilih lagu itu mengingat itu adalah lagu Koil yg relatif masih baru. Orang akan langsung membandingkan versi baru ini dengan versi Koil. Dan begitu yang mereka dengar tidak sebaik versi asli, nilainya langsung jatuh. Dan sedikit catatan buat vokalisnya, menyesuaikan diri dengan tempo yg cukup cepat, ia bernyanyi seperti tercekik. Apakah stylenya memang demikian atau karena apa, namun secara umum cara bernyanyinya cukup mengganggu di telinga.

Marianne de Bastard bermain di wilayah aman dan membawakan ‘Karat’dengan cukup ‘sopan’. Hampir tak ada tafsir baru terhadap lagu lama Koil ini. Mungkin grup ini bisa lebih pol dengan lagu Koil lain.

Di track nomor sepuluh kita akan mendapati nomor yang mengasyikkan dari Monsternaut. Di tangan band stoner ini ‘Tidak Berarti’ seolah mendapat ruh baru sehingga ia menjadi lebih hidup dan lebih bisa dinikmati.

Sebuah album yang baik biasanya solid dari awal hingga akhir. Agak berat hati, saya kira beberapa lagu terakhir dalam ‘Kami Percaya..’ ini menjadi titik lemah album ini. Pertama, saya tak habis pikir bagaimana bisa lagu yang sama (Mendekati Surga) muncul dua kali, sama-sama versi remix pula. Mestinya produser bisa mengorganisir agar Psickot maupun M1D1D4Ta menggarap lagu yang berbeda. Stok lagu Koil cukup banyak untuk dikulik dan dinyanyikan kembali. Kalaupun sudah terlanjur rekaman alangkah baiknya kalau yang dimunculkan di album ini cukup satu saja.

Kedua, dua grup lainnya, yakni A Slow in Dance dan Aneka Digital Safari merekonstruksi lagu Koil dengan begitu ekstrim hingga hampir-hampir tak menyisakan elemen Koil di lagunya. A Slow in Dance memainkan ‘Aku Lupa Aku Luka’ dalam bentuk post-rock berdurasi delapan setengah menit, dengan vokal minimalis. Meski harus diakui bahwa instrumentasi mereka cukup bisa dinikmati namun lagu ini alpa menunjukkan unsur Koil.

Sementara itu ‘Semoga Kau Sembuh’ yang dahsyat itu sukses dihancurkan oleh Aneka Digital Safari menjadi (sekadar?) olahan suara-suara noise yang memekakkan telinga. Barangkali telinga saya saja yang lemah, atau selera musik saya saja yang payah, namun berulang-ulang saya memutarnya, impresi saya tidak berubah. Hanya ada kebisingan di sana.

Pada akhirnya saya berkesimpulan  bahwa album tribute ini cukup menyenangkan. Angkat topi untuk penggagas dan para pengisi yang mewujudkan album ini. Kita jadi tahu bahwa Koil (beserta musik dan aspek-aspek lain yang melekat di band ini) ternyata membawa pengaruh yang tak bisa diremehkan. Ia menembus sekat-sekat usia, genre musik dan wilayah geografis. Dan menyimak band-band di album ini saya jadi yakin bahwa banyak band bagus di negeri ini apapun genrenya. Kalau mau konsisten dan kerja keras seperti Koil saya tak akan terlalu terkejut kalo kelak salah satu band di album ini mengemuka dalam percaturan musik Indonesia. Waktu yang akan menjawabnya.

 

Kami Percaya – Koil Tribute

 

Bikin CD Kompilasi

 

Bikin CD kompilasi sepintas kelihatannya mudah, tinggal comot lagu sana-sini terus dibakar, jadi deh. Namun sebetulnya untuk membuat CD kompilasi yang apik, yang kira-kira bisa bikin pendengarnya bersenang hati atau merasa nyaman, ada beberapa hal yang patut diperhatikan.

1. Pertimbangkan calon pendengar. CD itu niatnya dibuat untuk siapa? Apakah diri sendiri, teman, pacar, ataukah seseorang yang lain? Pastikan bahwa pendengar CD itu akan memberi apresiasi terhadap jenis musik yang kita pilihkan. Kita tak mungkin menghadiahi paman kita dengan kompilasi musik death metal terbaik sepuluh tahun terakhir, misalnya, percuma saja karena ia tak akan enjoy. Namun ia mungkin akan bungah menikmati sepilihan lagu jazz easy listening langka yang pernah ia gemari sewaktu ia muda.

2. Pertimbangkan juga apakah kompilasi ini ingin dijadikan semacam media penyampai emosi atau pesan. Apabila iya, maka kita perlu lebih selektif memilih lagu supaya nantinya pesan kita sampai atau dapat dimengerti. Sebuah CD yang diberikan sebagai (tambahan) kado pernikahan mungkin berisi lagu-lagu yang mendukung kesan bahwa kita ikut senang atas peristiwa pernikahan tersebut. Sedang CD simpati untuk teman yang patah hati mungkin berisi sekumpulan lagu-lagu sedih milik The Cure, Sigur Ros, Pink Floyd, dll.

3. Fokus ke genre dan tema. Suatu kompilasi yang memuat beberapa genre sekaligus bisa menciptakan distraksi/mood yang tak enak bagi pendengarnya. Kesan asal comot akan mengemuka. Kompilasi cukup memiliki satu tema. Dengan dukungan lagu-lagu yang pas dengan tema tersebut, CD kompilasi akan berkesan solid.

4. Membuat playlist alternatif. Lagu-lagu yang ingin dimasukkan ke CD kita kumpulkan dalam satu folder tersendiri. Kita bisa leluasa memasukkan ke dalam folder itu lagu-lagu yang kita sukai, yang kedengarannya enak, yang mungkin disukai pendengar, atau yang kira-kira sesuai tema. Lalu kita mulai menentukan mana yang sebaiknya diambil untuk CD dan mana yang tidak. Dari sekian banyak lagu yang tersisa dan tak masuk playlist utama, bisa kita buatkan playlist alternatif. Kita tak pernah tahu, kadang playlist alternatif juga bisa menjadi kompilasi yang hebat.

5. Bermain-mainlah dengan urutan lagu. Membuat CD kompilasi juga adalah upaya menciptakan pengalaman mendengar yang mengasyikkan, bukannya membuat bosan dan rasa kesal. Upayakan agar beberapa lagu awal langsung mencuri hati pendengar. Setelahnya, kita
upayakan agar mood terus terjaga hingga akhir. Prinsipnya adalah membuat susunan lagu sedemikian rupa sehingga CD itu bagian awalnya bagus, bagian tengahnya prima, dan bagian akhir/penutupnya sempurna. Dan kita mesti ekstra telaten, karena yang demikian itu bukan
hal yang mudah.

6. Berikan kejutan di beberapa bagian. Anda bisa menyertakan rekaman suara (misalnya potongan kutipan suara dari film) pada jeda antar lagu. Ini akan membuat CD anda lebih memorable.

7. Periksa hasil akhir playlist beberapa kali. Apabila anda menemukan satu dua lagu memiliki titik lemah maka anda bisa langsung membuang lagu itu dan menggantinya dengan lagu lain. Dengarkan lagi apakah sudah seperti yang anda inginkan atau belum. Oh ya, bagian akhir
dalam kompilasi selalu amat penting. Lagu pamungkas ini bisa dibuat jadi godam yang menimbulkan hentakan yang keras pada pendengar, bisa juga menjadi bisik lirih pengantar hasrat kerinduan yang mendalam.

8. Bakar kompilasi itu, dan apabila anda cukup senang dengan hasilnya, anda bisa membuat satu kopi untuk diri anda sendiri. Apabila lain hari anda memerlukannya untuk keperluan yang sama dan anda terlalu malas untuk membuat CD kompilasi lagi maka anda cukup menggandakan CD tersebut.

9. Sebelum memberikan CD itu kepada orang yang anda kehendaki, jangan lupa membuat cover art yang bagus. Anda bisa memanfaatkan software seperti Microsoft Publisher, atau Nero Cover Designer yang telah menyediakan beberapa contoh desain cover. Tapi untuk memberikan sentuhan personal barangkali akan lebih baik lagi kalau cover itu desain karya anda sendiri.

10. Berikan judul yang cantik atau mengena untuk kompilasi itu. Sebagai inspirasi, ingat-ingat nama album musik dan buku-buku indah kesukaan anda. Juga jangan merasa malu untuk memberi judul sendiri semisal ‘Melodi Cinta dari Seorang Pemuda Bau buat Seorang Gadis Cantik yang Baik Hati.’

Catatan:
1. Untuk membuat CD yang baik, sebisanya anda menghindari satu artis muncul lebih dari sekali, meski dalam lagu yang berbeda. Masih begitu banyak lagu bagus milik penyanyi/kelompok lain yang bisa anda ambil. Keluasan wawasan musik anda juga akan terlihat dari lagu-lagu yang anda pilih.

2. Jaga mood anda selama proses pembuatan CD kompilasi ini. Apabila sewaktu anda tengah melakukan proses kreatif ini tiba-tiba bad mood muncul, tinggalkan dulu kegiatan ini. Anda bisa melanjutkannya saat mood itu tiba.

3. Anda tak perlu kuatir perkara hak cipta. Membuat CD kompilasi sendiri untuk dihadiahkan kepada orang lain bukanlah pelanggaran hak cipta. Kecuali kalau anda memperbanyak CD itu, menjualnya dan mengambil keuntungan darinya.

Okay, selamat mencoba.

album baru sigur ros

sigur ros meluncurkan album musik barunya, ‘hvarf-heim’ menyusul peluncuran film pertama mereka ‘heima’.

dibuat dengan semangat film dokumenter, ‘heima’ adalah kisah perjalanan band ini selama dua minggu melakukan pertunjukan gratis seantero islandia. banyak lokasi unik menjadi setting film itu; kota-kota tua, taman nasional, aula kecil, hingga tempat-tempat tak terjamah di ketinggian islandia yang terkenal buas. film ini juga merekam pertunjukan terbesar dalam karir sigur ros -juga dalam sejarah musik islandia- yakni saat mereka bermain di daerah asal mereka yaitu reykjavik.

‘heima’ adalah sebuah potret intim yang tak hanya merekam sigur ros dari jarak yang amat dekat namun juga memperlihatkan islandia sebagai suatu tempat yang terisolasi, ajaib, dan seperti tak tersentuh manusia.

sementara itu, album musikal ‘hvarf-heim’ adalah kumpulan lagu-lagu rarities dan beberapa lagu sigur ros dari album terdahulu dalam versi akustik.

cukup satu kata untuk menggambarkan album ini: fantastis. semenjak pertama mendapatkannya dari internet, saya tak berhenti mendengarkan album dua sisi ini. sisi pertama, ‘hvarf’ (yang kalau diindonesiakan kira-kira berarti ‘tempat berteduh’) menampilkan 5 lagu indah yang nyaman di telinga. ambil lagu-lagu terbaik dari album agaetis byrjun, ( ), dan takk, maka seindah itulah lagu-lagu rarities ini. meski tak paham dengan kata-kata yang diucapkan/digumamkan jonsi, vokalis sigur ros yang gay itu, nuansa magis dari lagu-lagu itu akan tetap sampai pada pendengar. (bukankah musik adalah bahasa universal?).

sedang dalam sisi ‘heim’ (berarti ‘rumah’ dalam bahasa indonesia), memperlihatkan bahwa kadang sebuah lagu bisa lebih bernyawa saat dibawakan secara live. keenam lagu di sini menunjukkan hal itu. simak ‘staralfur’ dan ‘von’ dan anda akan tergetar oleh nuansa galau dan suram yang menggayut sepanjang lagu. dan harus diakui, betapa mengagumkan penghayatan jonsi pada lagu-lagu itu.

afterall, ini adalah salah satu album terbaik sigur ros. bagi anda penyuka sigur ros namun sering pusing dengan beberapa lagu eksperimental mereka, album ini akan segera merebut telinga, dan hati anda.


efek rumah kaca

selalu ada yang bernyanyi dan berelegi/ di balik awan hitam.

potongan lirik lagu ‘desember’ di atas kiranya cukup mampu menggambarkan kehadiran efek rumah kaca di panggung musik indonesia saat ini.
di tengah gelombang band-band baru dengan musik serba mendayu dan lirik cinta-cintaan yang klise, efek rumah kaca menyeruak membawa kesegaran.

adalah cholil, adrian dan akbar, 3 orang penghembus udara segar itu. mengusung musik indie-rock yang guitar-oriented, efek rumah kaca adalah gabungan antara musik yang sederhana dan lirik yang cerdas.
menyimak album mereka membuat saya serasa terbang ke suatu masa saat awal-awal mendengar album debut coldplay. saya seperti tersadar bahwa banyak wilayah yang belum terjelajahi dalam musik indonesia, dan kita beruntung: efek rumah kaca berhasil menguak sebuah sudut dalam wilayah itu.

dalam musik efek rumah kaca kita mungkin akan mendapati jejak-jejak musisi inggris seperti travis dan radiohead, juga jeff buckley, namun alih-alih meniru para pengilham besar itu, efek rumah kaca agaknya mampu menciptakan kekhasannya sendiri. tak ada lagu yang terlalu keras di album ini, hanya ‘cinta melulu’ dan ‘insomnia’ yang up-tempo. selebihnya adalah lagu-lagu pelan, seperti ‘debu-debu berterbangan’, ‘melancholia’, dan ‘desember’, yang semuanya terdengar nglangut dan menghantui. dalam lagu-lagu tersebut, vokal cholil yang merdu seperti menghipnotis.

eksplorasi tema dalam album debut ini harus diakui agak luar biasa, dan itu juga menjadi keistimewaan album ini. dimulai dengan ‘jalang’, tentang para pengklaim kesucian yang suka melemparkan stigma negatif kepada pihak yang berbeda dengan mereka, lalu ‘belanja terus sampai mati’ yang mengkritik konsumerisme manusia urban, ‘di udara’ yang menunjukkan perlawanan terhadap setiap upaya pembungkaman perjuangan kemanusiaan, hingga, yang menjadi favorit saya, ‘desember’. penulis lagu ini, seperti saya juga, (hehehe), menyukai saat-saat sehabis hujan. sebab ia berharap hujan itu akan meretas dan memulihkan luka.

sebuah debut yang menjanjikan. banyak lagu dalam album ini berpotensi menjadi hit, dan anda barangkali akan mempunyai favorit anda sendiri-sendiri. seumpama saya mati esok hari, saya tak akan lebih berbahagia selain terlebih dahulu memperdengarkan album ini pada anda dan orang-orang terdekat saya.

efek rumah kaca, s/t, pavilliun records, 2007

 

blacklight shines on

koil adalah sebuah paradoks dalam dunia musik indonesia. muncul di pertengahan 90an, melempar sedikit album dan single. melakukan sedikit sekali pertunjukan, namun pelan tapi pasti, mereka telah menempatkan diri dalam posisi yang terhormat di antara band-band lain di tanah air.

sempat terabaikan di awal karirnya, koil membuat publik terperangah saat meluncurkan megaloblast di tahun 2001. itu adalah sebuah album yang didominasi tema gelap dengan lagu-lagu bercita rasa industrial yang memikat. sebuah karya nyaris tanpa cela. segera saja album yang dicetak terbatas itu menjadi buruan banyak orang sampai-sampai kemudian muncul versi repackage-nya. sebuah hal yang tak lazim dalam dunia musik non-mainstream.

rentang waktu tahunan sesudah kemunculan megaloblast adalah masa-masa penuh ketidakpastian, setidaknya bagi bagi penggemar. berita-berita pembuatan album baru koil tersebar simpang siur di milis dan media-media. gosip-gosip bergulir dari mulut ke mulut tak jelas benar mana yang nyata mana yang hampa. otong, sang juru suara, satu-satunya personel yang daripadanya orang bisa berharap mendapatkan sedikit berita, malah memperburuk keadaan dengan kegemarannya melontarkan pernyataan-pernyataan yang terkesan main-main dan kontroversial. ah, koil, ke mana dirimu. jangan kau mati dulu lah, fren. kami masih perlu diselamatkan. mungkin begitu doa banyak orang. diam-diam.

dan ternyata siapa sangka, diam-diam juga, koil tengah menyiapkan semacam pemberontakan. awal bulan november ini mereka secara resmi meluncurkan album baru bertajuk blacklight shines on.
jangan bandingkan blacklight dengan megaloblast. itu hal yang sia-sia. mereka telah sangat berubah. dan proses, saudara-saudara, saya duga telah membuat koil berkembang dari band independen biasa menjadi band anarkis.

kalo anda mengidentikkan kata ini dengan tindak kekerasan saya maklum, tapi mari kita belajar bahwa anarkisme juga berarti ketidakpercayaan bahwa institusi besar apapun bentuknya dapat mengurus apalagi menyejahterakan orang per orang. anarkisme menentang segala bentuk hirarki dalam perkara ekonomi, sosial, juga politik. ia lebih percaya bahwa kehidupan yang lebih baik dapat diupayakan apabila kita mau mengorganisir diri dan bekerja sama.

anarkisme yang pertama, koil tidak sudi menyerahkan blacklight kepada label manapun! mereka seperti menolak tunduk terhadap kelaziman industri musik indonesia. di kala band-band lain mati-matian berjuang menembus label rekaman untuk dipasarkan, koil memilih menyenangkan banyak orang dengan membagi-bagi lagu-lagu baru mereka gratis melalui internet. (versi utuh rekaman blacklight kemudian menjadi bonus majalah rolling stone bulan november). bagi kita yang mengaku diri normal ini, langkah mereka agak di luar akal sehat. proses rekaman dan sebagainya kita tahu membutuhkan biaya yang tak sedikit. apakah mereka benar-benar tak membutuhkan uang lagi? tapi saya kira bukan ‘uang’ kata kuncinya, namun ‘bersenang-senang’. dan koil mungkin paham bahwa ‘kesenangan’ atau ‘kepuasan’ tak selalu dapat diukur dengan ‘uang’. sampai tahap ini saya kira band ini sudah mencapai tahap hakikat dan telah tercerahkan.

anarkisme selanjutnya terbaca jelas dalam lirik lagu.
dalam track pembuka, ‘kenyataan dalam dunia fantasi’ otong dengan lantang berkata “aku bukan bagian dari kebanggaan yang membuat kita tak berpenghasilan.” sebuah pernyataan politis yang menyindir institusi negara yang gemar mendoktrinkan kecintaan kepada tanah air namun abai pada rakyatnya dan membiarkan mereka miskin dan susah mendapatkan uang. dalam bait terakhir lagu ini otong menggempur total mitos bernama nasionalisme itu. ia mencerca, “nasionalisme menuntun bangsa kami menuju kehancuran”. sebuah pernyataan sikap yang lugas tak kenal takut. entah setan mana yang berhasil menyabetnya sehingga menjadi sedemikian inspiratif dan berani.

tema anarkisme kembali muncul dalam track ‘nyanyikan lagu perang.’ di lagu yang potensial menjadi anthem ini, otong mentertawakan orang-orang malas, yang terus “menunggu, sampai beruban’ sembari ‘menyanyikan keluhan.’ baginya, sebagai rakyat jelata dan bukan penguasa, kita sebenarnya ‘pintar, dengan otak bersinar’ dan ‘hanya perlu semangat untuk hidupi rakyat.’ sungguh, lagu ini adalah soundtrack penyemangat bagi hari-hari yang sering membosankan. saya tak pernah menemui lirik seoptimis ini dari band indonesia lain manapun.

dari segi musikal, blacklight adalah album yang solid. lagu satu dengan yang lain seperti memiliki perekat yang menyatukan mereka sehingga 9 nomor lagu (dan satu hidden track) itu padu dan saling menguatkan. agak susah bagi saya untuk menyebutkan nomor terbaik karena hampir semuanya memiliki keistimewaan sendiri-sendiri. namun kalau diminta menyebutkan nomor favorit, saya tak ragu untuk menyebut tiga lagu: nyanyikan lagu perang, semoga kau sembuh pt.2 dan aku lupa aku luka.

‘nyanyikan lagu perang’ sudah saya bahas sedikit di atas. instant-classic.

‘semoga kau sembuh pt.2’ adalah nomor paling kuat dan paling indah. tekstur lagunya sederhana, up-beat, bahkan cukup enak untuk goyang. seperti interstate love song-nya stone temple pilots dg tempo yang lebih cepat dan bertenaga namun dengan balutan nuansa sedih dan haru. vokal otong terdengar seperti orang yang berdoa dengan tulus. koil dengan sangat baik membuktikan bahwa lagu yang menyentuh dan indah tidaklah harus mendayu-dayu dan cengeng. ini akan jadi salah satu lagu dengan durasi 7 menit lebih paling adiktif yang pernah anda dengar.

‘aku lupa aku luka’
lagu paling keras dalam album blacklight, mungkin juga dalam sejarah musik koil. sebuah anthem yang akan menjadi katarsis pelepas duka dan amarah.

satu lagu yang juga cukup istimewa adalah ‘hidden track’ di penghujung album. sebuah nomor berbahasa inggris dengan tempo pelan yang membawa nuansa murung nan menghantui. di tengah dentang-dentang organ dan bunyi lonceng gereja, otong bernyanyi seperti meratap. bonus tambahan yang membius.
secara keseluruhan saya dapat menyimpulkan, blacklight adalah karya terbaik koil hingga saat ini, melampaui megaloblast yang terkenal itu. koil telah kembali, dengan album yang melebihi ekspektasi siapapun. otong, sang pencemooh, harus diakui adalah penulis lirik yang bagus, dan donny, sang gitaris, juga adalah penulis lagu yang hebat. kredit juga buat personel lain (ibrahim, legoh, adam) yang telah bekerja keras melahirkan karya yang akan bersinar lama ini.

album ini seharusnya bisa melepaskan cap industrial yang sekian lama terlanjur melekat dalam band ini. karena sesungguhnya koil adalah band rock. sebuah band rock yang memikat, bukan karena kesempurnaan mereka, tapi karena dengan mereka kita tak malu berlaku sebagai rakyat biasa, bekerja, mencari uang, dan sedikit bersenang-senang.

Next Page »