Syair


Viva Cuba! ini adalah kumpulan sajak oleh para penyair kiri yang tergabung di Lekra seperti Agam Wispi, Sitor Situmorang, Budiman Sudarsono, S. Anantaguna, A.R. Hadi, Hr. Bandaharo, Lelonokaryani, T. Iskandar, A.S., M.A. Simandjuntak, Amarzan Hamid, dll. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Bag. Kebudayaan Kedutaan Besar Kuba pada 1963.

Keseluruhan isinya adalah puisi2 mengenai Kuba dlm sudut pandang para penyair tsb: ada rasa┬ákekaguman, puji2, ungkapan solidaritas dan persahabatan. Salah satu yang saya suka adalah puisi Agam Wispi berjudul “Tidak akan Pernah Kuba Menjerah”. Puisi sepanjang 7 halaman (!) ini begitu menggigit, garang, sekaligus indah.

Yang ingin mengunduh buku ini dalam bentuk pdf langsung saja klik ke tautan berikut ini. Salam..

Viva Cuba!

Advertisements

Banyak puisi Indonesia yang saya suka, di antaranya punya Goenawan Mohamad berjudul Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi. Puisi ini bisa ditemukan di buku Asmaradana terbitan Gramedia Widiasarana, 1992.

Di bawah ini puisi tersebut dibacakan langsung oleh penciptanya, saya cuplik dari VCD dokumentasi sastrawan Indonesia terbitan Lontar.

Goenawan Mohamad – Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Sedang yang satu ini puisi yang sama dibacakan oleh Sujiwo Tejo, saya ambil dari adegan dalam Film Telegram di mana Tejo berperan sebagai tokoh utama.

Sujiwo Tejo – Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Di beranda ini angin tak kedengaran lagi
Langit terlepas. Ruang menunggu malam hari
Kau berkata: pergilah sebelum malam tiba
Kudengar angin mendesak ke arah kita

Di piano bernyanyi baris dari Rubayyat
Di luar detik dan kereta telah berangkat
Sebelum bait pertama. Sebelum selesai kata
Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba

Aku pun tahu: sepi kita semula
bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela
mengekalkan yang esok mungkin tak ada

1966

bismillah31

Bismillah
aku melangkah

bismillah
benihlah
bismillah
tumbuhlah
bismillah
buahlah

bismillah
rata segala gunung
bismillah
timbun segala jurang
bismillah
tenang segala laut
bismillah
reda segala badai

bismillah
lunak segala baja
bismillah
jinak segala singa
bismillah
henti segala benci
bismillah
ke hulu segala rindu
bismillah
ke muara segala cinta

(diambil dari kumpulan puisi husni djamaluddin, “indonesia, masihkah engkau tanah airku?” terbitan pustaka jaya, 2004.)

sajak di atas mengingatkanku bahwa sedari kecil kita sering diajarkan untuk membaca kalimat suci itu (bismillah) sebelum melakukan sesuatu: ketika mau makan, waktu mau naik kendaraan, saat hendak bepergian dsb. barangkali dengan menyebut nama tuhan kita lantas ingat bahwa selalu ada ‘campur tangan’ Allah dalam setiap langkah kita. atau bisa juga dengan membaca bismillah, kita lalu membawa Sang Khalik dekat2 kita, mengiringi setiap jengkal langkah sehingga kegiatan kita senantiasa terbimbing dan selamat dari godaan setan.

bismillah kumelangkah, bismillah kita melangkah…
bismillahirrahmanirrahim…

Surat kepada Bunda:
Tentang Calon Mantunya

Mamma yang tercinta,
akhirnya kutemukan juga jodohku
seseorang yang bagai kau:
sederhana dalam tingkah dan bicara
serta sangat menyayangiku.

Terpupuslah sudah masa-masa sepiku.
Hendaknya berhenti gemetar rusuh
hatimu yang baik itu
yang selalu mencintaiku.
Karena kapal yang berlayar
telah berlabuh dan ditambatkan.
Dan sepatu yang berat serta nakal
yang dulu biasa menempuh
jalan-jalan yang mengkhawatirkan
dalam hidup lelaki yang kasar dan sengsara,
kini telah aku lepaskan
dan berganti dengan sandal rumah
yang tenteram, jinak dan sederhana.

Mamma,
Burung dara jantan yang nakal
yang sejak dulu kaupiara
kini terbang dan telah menempuh jodohnya.
Ia telah meninggalkan kandang yang kaubuatkan
dan tiada akan pulang
buat selama-lamanya.

Ibuku,
Aku telah menemukan jodohku.
Janganlah kau cemburu.
Hendaknya hatimu yang baik itu mengerti:
pada waktunya, aku mesti kaulepaskan pergi.

Begitu kata alam. Begitu kau mengerti:
Bagai dulu bundamu melepas kau
kawin dengan ayahku. Dan bagai
bunda ayahku melepaskannya
untuk mengawinimu.
Tentu sangatlah berat.
Tetapi itu harus, Mamma!
Dan akhirnya tak akan begitu berat
apabila telah dimengerti
apabila telah disadari.

Hari Sabtu yang akan datang
aku akan membawanya kepadamu.
Ciumlah kedua pipinya
berilah tanda salib di dahinya
dan panggillah ia dengan kata: Anakku!

Bila malam telah datang
Kisahkan padanya
riwayat para leluhur kita
yang ternama dan perkasa.
Dan biarkan ia nanti
tidur di sampingmu.

Ia pun anakmu.
Sekali waktu nanti
ia akan melahirkan cucu-cucumu.
Mereka akan sehat-sehat dan lucu-lucu.
Dan kepada mereka
ibunya akan bercerita
riwayat yang baik tentang nenek mereka:
bunda-bapak mereka.

Ciuman abadi
dari anak lelakimu yang jauh.

Willy.

(WS Rendra dalam Empat Kumpulan Sajak, Pustaka Jaya, Cetakan Keenam, 1990)

Lagu

polos bola matanya
bergerai rambut panjangnya
diakah kekasih sang dewa
yang terjaga dari noda

pasti harum jiwanya
seperti bunga-bunga
pasti sahaja hatinya
suci dan mulia

di timur matahari bangkit
mendaki bukit demi bukit
dalam sukma ia pun terbit
menyembuhkanku dari sakit

Tuhan, bisakah kiranya
kelak kukecup keningnya
dan di telaga bening matanya
aku membasuh luka

(ean, surabaya 76)

SAJAK BUAT ISTRI YANG BUTA
DARI SUAMINYA YANG TULI

Maksud sajak ini sungguh sederhana.

Hanya ingin memberitahumu bahwa baju
yang kita kenakan saat duduk di pelaminan
warnanya hijau daun pisang muda, tetapi
yang membungkus kue-kue pengantin
adalah daun pisang tua. Memang keduanya
hijau, tetapi hijau yang berbeda, Sayang.

Di kepalamu ada bando berhias bunga,
kau merasakannya tetapi mungkin tidak
tahu bunga-bunga itu adalah melati putih.
Sementara di kepalaku bertengger sepasang
burung merpati, juga berwarna putih.

Aku selalu membayangkan, hari itu, kita
seperti sepasang pohon di musim semi.
Kau pohon penuh kembang. Aku pohon
yang ditempati burung merpati bersarang.

Aku lihat, orang-orang datang dan tersenyum.
Mereka berbincang sambil menyantap makanan.
Tapi aku tak dengar apa yang mereka bincangkan.
Maukah kau mengatakannya padaku, Sayang?

(Aan Mansyur, 2007)

puisi favorit saya beberapa waktu terakhir. sederhana namun memikat. dalam sajak-sajaknya yang kerapkali tampak bersahaja, aan berhasil mengungkapkan sisi2 yang tak biasa dari rasa cinta. siapa sempat terpikir untuk menulis sebuah ungkapan cinta seorang tuli, kepada pasangannya, yang kebetulan buta. saya tahu ketidaksempurnaan sepasang suami istri (yang satu tuli yang satu buta) barangkali tak perlu diartikan harafiah, namun pun bila kita mengartikannya dengan cara demikian , efek yang timbul dari pembacaan akan sama kuatnya. dari puisi yang cukup pendek ini saya pribadi sadar betapa penginderaan manusia (merasa, melihat, dan mendengar) adalah perkara keseharian, begitu sepelenya sehingga kerap terlupakan untuk dijumput dan dijadikan bahan sajak. tapi aan memikirkannya. ia peduli. ia menyadarkan kita bahwa cinta, meski habis2an dijarah, takkan habis digali. selama masih ada manusia, cinta tak akan mati.


menjadi tua bersamamu*

aku ingin membuatmu tersenyum saat dirimu bersedih
memapahmu saat sendimu terasa sakit
aku sangat ingin menjalani tua bersamamamu

aku akan memberimu obat saat perutmu nyeri
menyalakan api saat tungku perapian padam
ah, akan terasa menyenangkan sekali untuk menempuh masa tua denganmu

aku akan merindukanmu
mengecupmu
memberimu jaketku saat dirimu merasa kedinginan

membutuhkanmu
menyuapimu
bahkan membiarkanmu memegang remote control
sementara merelakanku membereskan cucian piring di dapur
merebahkanmu di ranjang saat kau terlalu banyak minum

aku bisa jadi lelaki yang menempuh hari tua denganmu
aku ingin menjalani hari tua bersamamu

* terjemahan bebas dari lagu grow old with you dari film the wedding singer

: terubozu