Jon Pakir

Perkenalkan, namanya Jon. Nama lengkapnya Jon Pakir. Umurnya kisaran 30an, masih tergolong muda. Profesinya asyik: bikin kopi. Kalau jaman sekarang orang mungkin memberinya julukan yang keren: Barista. Sungguh, itu bukan julukan yang berlebihan buat Jon. Ia adalah peracik kopi yang handal. Entah belajar dari mana Jon ini, kopi yang ia bikin selalu terasa pas bagi yang menikmatinya.

Kopi yang Jon suguhkan, aslinya rutin dinikmati oleh warga Yogyakarta dan sekitarnya di era 80an. Saat itu Jon yang masih muda adalah redaktur harian Masa Kini. Ia kebagian tugas menyuguhkan secangkir kopi secara rutin buat pembaca surat kabar itu. Kopi yang dimaksud adalah tulisan ringkas, seperti sketsa. Kebanyakan bisa dibaca sekali duduk. Kalau Anda membaca satu tulisan Jon sembari merokok, kiranya akan rampung sebelum habis satu batang rokok.

Meski singkat, tak berarti sketsa Jon tak berbobot. Justru di situlah tampak kelebihan Jon. Ia piawai membikin racikan sehingga meski yang dibahas kebanyakan adalah hal-hal keseharian yang ringan, namun tulisannya tetaplah memiliki bobot. Dan sebaliknya, tatkala ia membawa tema yang tidak ringan, bahkan berat, ia sanggup menyajikannya ke hidangan pembaca sedemikian rupa sehingga mudah dicerna siapa saja. Apa penyebabnya? Tampaknya karena Jon bergelut total dengan tema yang ia olah. Ia menyelami persoalan-persoalan hidup masyarakat di mana ia hidup. Dan lebih dari itu, ia memiliki sikap yang jelas dalam memandang persoalan-persoalan orang banyak.

Dari sekian banyak tulisan yang tersaji, tentu ada satu dua yang nempel di hati. Cerita Jon berikut ini salah satu favorit saya. Syahdan kakaknya Jon sangat ingin menunaikan haji. Berbagai upaya halal sudah ditempuh, namun berkali-kali gagal. Pernah sang kakak ini berhasil mengumpulkan uang, namun seminggu sebelum mendaftar haji, tiba-tiba madrasah yang dibangun oleh ayah mereka ambruk. Walhasil sang kakak langsung menggunakan uangnya tadi untuk merenovasi madrasah. Di kali lain, ketika uang ongkos naik haji siap, rupanya niat haji harus kembali tertunda karena masjid di dekat rumah harus pindah karena terkena pelebaran jalan. Pada kesempatan ketiga, uang telah terkumpul, namun sang kakak mendengar informasi bahwa banyak jejaka di desanya ingin nikah namun terkendala biaya. Akhirnya kakak Jon menggunakan uangnya tadi untuk melaksanakan nikah massal muda-mudi di balai desa. Masih ada satu cerita lagi ketika sang kakak kembali harus mengurungkan niatnya berangkat ke Makkah karena ia gunakan uangnya untuk membantu tetangganya yang memerlukan biaya rumah sakit akibat diseruduk truk gandeng. Ketika Jon menanyakan kebenaran hal itu, kakaknya mengiyakan dan menjawab ringan “Aku bersyukur karena Allah yang Bijak selalu mempertemukan aku dengan kewajiban kifayah seperti ini. Mataku masih awas dan telingaku masih diberi lobang sehingga info-info dari tetangga cepat masuk”.

Sungguh cerita yang luar biasa. Betapa cerita itu mengandung hikmah soal kesabaran, kerelaan, dan pengorbanan. Di antara cerita-cerita (maaf) klise tentang seseorang yang berlomba-lomba ingin berhaji, bahkan sampai berhutang. Juga cerita orang yang berhaji  berkali-kali bahkan untuk memuaskan diri perlu menambahkannya dengan umroh di tengah masyarakat yang timpang kesejahteraannya, cerita kakak Jon di atas adalah butir permata yang berkilauan yang kita peroleh dengan cuma-cuma dan simpan untuk suri tauladan kehidupan.

Kisah-kisah yang dituang Jon dalam buku “Secangkir Kopi Jon Parkir” ini dipungut Jon dari pergaulannya yang intens dengan berbagai lapisan masyarakat. Jon berkisah tentang apa saja: tentang bagaimana beringasnya manusia terhadap sesamanya yang melakukan pencurian kecil (Pencuri Sepatu itu, Ya Allah), tentang keengganan manusia Indonesia belajar sejarah kecuali perihal kekuasaannya semata (Listrik Majapahit), kritik terhadap seruan azan yang kurang memperhatikan soal estetika (Azan dari Jauh), tentang pergaulan segitiga Allah-Muhammad-kita yang amat karib (Christ kepada Muhammad), tentang peran filsafat, ketahanan moral, dan nilai-nilai kejiwaan dalam membentuk orang kecil menjadi tangguh dan sanggup memanusiakan dirinya di tengah derita dan kemelaratan (Tuhan Yang Maha Jowo), dan puluhan tema lain.

Bercangkir-cangkir kopi dari Jon ini amatlah nikmat namun untuk mendapatkan sesuatu darinya akhirnya terpulang dari kita sendiri, seberapa jauh kita bersedia memungut keping-keping hikmah yang berserak. Jon tak kasih khotbah namun pembaca awam pun akan dengan mudah menangkap religiusitas dan penghayatan agama Jon yang mendalam dan tercermin dalam pembelaannya terhadap nilai-nilai mendasar dalam hidup. Jon sepintas tampak ndeso dan urakan namun mata polos tak dapat mengelak bahwa perkataan dan sikap Jon itu unik,  otentik dan konsisten.

Dengan keluasan topik yang dibicarakan, pembaca punya kebebasan untuk mulai nyruput kopi Jon ini dari mana. Dari depan asyik, dari tengah juga oke, dari belakang enak juga. Cuma ada satu masalahnya, Secangkir Kopi Jon Pakir ini lama hilang dari peredaran. Bukan apa-apa, ia terakhir dicetak oleh Mizan pada tahun 1990an. Ya mungkin masih bisa ditemukan di loakan kalau beruntung. Atau bisa coba berburu di lapak buku bekas online yang makin menjamur itu. Syukur-syukur kalau Penerbit Mizan, yang akhir-akhir ini kembali menerbitkan buku-buku lama Emha Ainun Nadjib, tergerak untuk menghidangkan kembali sajian Jon Pakir ini kekhalayak pembaca seantero dunia. Semoga.

 

Secangkir Kopi Jon Pakir, Emha Ainun Nadjib. Penerbit Mizan, C1, 1992. 395 halaman.

 

 

546280_237798876334651_469749870_n

Foto ini jadi inspirasi saya untuk mencari buku-buku Pramoedya.

Empat atau lima tahun lalu, buku Pramoedya relatif cukup sering muncul di lapak online. Baik yang agak baru maupun yang lawas. Harganya pun bersahabat. Tercatat dalam ingatan saya, Kardus Buku, yang dulu blognya bernama Station Buku Online sering tiba-tiba, tanpa kenal waktu, mengunggah jualannya, buku2 lawas. Di antara yang diunggah itu sering terselip buku2 Pram.

Kadang siang hari bolong pas saya tengah istirahat buku-buku itu muncul. Bertubi2. Saya yang saat itu belum terlalu tertarik membeli Pram, kadang hanya melongo menyaksikan buku2 itu begitu cepat berubah status: dalam hitungan tak sampai dua menit statusnya berubah, dari tersedia menjadi dipesan/booked. Rupanya banyak sniper dan pemburu buku yang diam2 memantau pergerakan blog Mas Rudi itu.

Sering juga lewat tengah malam hujan buku2 bagus terjadi tanpa kenal ampun. Ketika pagi saya bangun tidur dan buka hape, terbit rasa sedih menyaksikan buku2 yang saya cari ternyata telah muncul malamnya di blog Stalinebooks, dan statusnya pun sudah dipesan orang.

Saya baru tertarik untuk mulai membeli buku Pram setelah pertama kali menyaksikan foto di atas. Foto itu kalau tidak salah diunggah oleh kawan penjual buku online dari Sumut, Jejak Langkah, sekitar tiga atau empat tahun lalu. Saya terpesona. Buku2 Pram dalam jumlah banyak bertumpuk2 bersanding dengan gadis kecil yang lucu. Saya tertegun, indah sekali pemandangan dalam foto itu. Anak kecil dan buku2 Pram. Sebuah kontras yang anggun. Dan setelah memandangi foto itu berkali2 saya seperti tersadar, banyak sekali karya Pram. Banyak sekali karya Pram yang telah terbit. Dan banyak sekali karya Pram yang belum saya miliki.

Selanjutnya adalah cerita berburu buku2 Pram. Satu demi satu karya Pram saya peroleh. Keberuntungan sering menghampiri. Beberapa buku Pram yang cukup langka saya peroleh dengan menebus seharga beberapa puluh ribu saja, misalnya, Hoakiau di Indonesia lawas, dua jilid Panggil Aku Kartini Saja, juga Tetralogi Hasta Mitra. Namun ada juga yang harganya tak lagi murah, umumnya yang saya beli belakangan ini, saat harga buku2 Pram seperti liar dan terkesan dihargai sesuka hati penjualnya.

Akhir-akhir ini perburuan saya akan buku Pram agak surut. Selain karena buku2 Pram yang saya cari makin sulit ditemukan, saat muncul pun harganya tak ramah buat dompet. Tak mau menyalahkan siapa-siapa. Di mana2 berlaku prinsip ekonomi, ketika sebuah barang jumlahnya sedikit sementara yang memerlukan banyak, harga jadi melambung.

Untunglah ada barter. Ini tata cara pertukaran barang yang usianya tua, mungkin telah ada dari manusia jaman kuno. Dengan berbarter, uang tak diperlukan lagi. Yang dominan adalah kerelaan, bisa diartikan senang hati, dari masing2 pihak untuk menukarkan barang yang ia miliki. Saya beberapa hari yang lalu berhasil memperoleh buku Pram yang saya cari, Tempo Doeloe, dengan cara barter buku ini. Rasanya senang sekali. Saya melepas dua buku Emha Ainun Nadjib yang saya miliki sebagai barter.

Saya perlu berterima kasih pada grup Ajang Barter Buku di FB. Dengan adanya ajang itu, saya tak perlu mengeluarkan banyak uang untuk buku yang saya idamkan. Sekarang saya menunggu, antara sabar dan tak sabar, kira2 buku bagus apa lagi yang akan saya peroleh dari grup ini lain hari?

 

Siang itu aku berada di pusat lapak buku bekas di kota M. Berkeliling sebentar, aku berhenti di sebuah toko yg sedang sepi. Mataku terantuk pada satu buku yang terselip di tumpukan buku2 pelajaran. Itu buku yang lama kucari, buku tentang sejarah kota tempat tinggalku. Dulu buku itu sempat beredar dalam jumlah banyak di toko buku tapi setelah beberapa bulan buku itu tiba2 lenyap dan susah ditemukan.

Pelan dan hati-hati kuambil buku itu dari tumpukan. Kulihat isinya halaman demi halaman. Masih cukup baik meski sampulnya sudah agak lusuh. Setelah kutimang2 sebentar lalu kutanyakan harganya kepada penjualnya, seorang ibu. Si ibu itu tak segera menjawab pertanyaanku, ia tampak bimbang. Kuulang sekali lagi pertanyaanku, mungkin ia tidak mendengarnya, pikirku. Setelah menghela napas  ia menjawab perlahan ‘maaf mas, putri saya ini suka melihat2 gambar di buku ini. Dia sepertinya keberatan buku ini ikut dijual.” Mataku tertuju pada seorang gadis kecil yang berdiri di samping ibu itu. Ia tertunduk malu2.

Si ibu mencoba lagi bertanya pada anaknya ‘Dik, buku ini mau dibeli sama masnya boleh apa ndak?’

Gadis kecil itu termangu dan tak mengeluarkan sepatah kata pun.

Aku tiba2 merasa canggung. Si ibu pasti memajang buku itu dengan niat menjualnya, sedang si anak tak ingin buku itu dijual karena suka dengan isi buku itu.

Kami bertiga berada dalam suasana kikuk: satu sama lain punya keinginan sendiri2 atas buku berwarna biru itu.

Setelah menimbang singkat akhirnya aku memutuskan untuk membiarkan buku itu jadi milik si gadis. Aku berujar pada si ibu: ‘Kalo adiknya masih mau baca jangan deh bu, saya gak papa kok, kapan2 saja.’

Tangan Si ibu terulur mengambil buku itu tetapi rupanya gadis kecil berubah pikiran, ia sentuh lengan ibunya dan mendorongnya untuk mengembalikan buku itu pada saya. Ia merelakan buku itu dijual.

“Benar gak apa2 ya, dik?’ Gadis kecil mengangguk-angguk. Akhirnya ibu penjual itu memberikan buku itu kembali kepadaku.

Duh, antara senang dan sedih aku bayar buku itu. Aku senang karena buku yang lama kucari itu akhirnya ada di tangan, tapi hati juga teriris pedih melihat gadis kecil itu merelakan buku kesayangannya dijual agar ibunya mendapatkan uang.

Semoga buku itu membawa berkah kepada kami semua: aku, ibu penjual buku, dan gadis kecilnya.

Banyak puisi Indonesia yang saya suka, di antaranya punya Goenawan Mohamad berjudul Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi. Puisi ini bisa ditemukan di buku Asmaradana terbitan Gramedia Widiasarana, 1992.

Di bawah ini puisi tersebut dibacakan langsung oleh penciptanya, saya cuplik dari VCD dokumentasi sastrawan Indonesia terbitan Lontar.

Goenawan Mohamad – Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Sedang yang satu ini puisi yang sama dibacakan oleh Sujiwo Tejo, saya ambil dari adegan dalam Film Telegram di mana Tejo berperan sebagai tokoh utama.

Sujiwo Tejo – Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Di beranda ini angin tak kedengaran lagi
Langit terlepas. Ruang menunggu malam hari
Kau berkata: pergilah sebelum malam tiba
Kudengar angin mendesak ke arah kita

Di piano bernyanyi baris dari Rubayyat
Di luar detik dan kereta telah berangkat
Sebelum bait pertama. Sebelum selesai kata
Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba

Aku pun tahu: sepi kita semula
bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela
mengekalkan yang esok mungkin tak ada

1966

Tempo hari aku sama istri jalan ke mal baru di Malang, yup, MX. Mungkin karena masih baru, belum terlalu banyak gerai di mal ini. Lantai satu dipenuhi resto dan kafe-kafe yang terlihat cozy dan enak dibuat kongkow, mengingatkan kafe-kafe serupa di Jakarta. Melongok daftar harganya kayaknya segmen mereka bukan mahasiswa, tentu saja! (kecuali yg udah berkantong agak tebal).  Suasana di mal ini remang2 alias lampunya redup, dan hembusan hawa dingin dari mesin pendingin sangat terasa. Nyess. Tidak seperti mal2 lain di Malang yang seringkali agak ongkep, cukup panas.

Buatku pribadi yang asyik dari MX adalah di sini kita bisa temukan dua toko CD musik dan film, sesuatu yang makin langka di Malang.  Di lantai satu ada Disc Tarra, dan di lantai dua ada Taurus.

Disc Tarra MX adalah  cabang kedua Disc Tarra di Malang setelah mereka cabang Gramedia Basuki Rachmat. Menyiasati tempat yang tak terlalu luas, Disc Tarra MX ini memajang koleksinya berjajar dalam rak2, ada CD dan DVD musik/film.  Toko musik ini dilengkapi dengan kafe kecil tempat pengunjung bisa memesan minuman. Di bagian depan toko tersedia beberapa tempat duduk dan booth audio player. Di sini pengunjung bisa bersantai menikmati waktu sambil mendengar CD musik yang baru mereka beli.

Taurus di lantai 2 MX sedikit lebih luas daripada Disc Tarra. Di iklannya di surat kabar mereka mengaku memiliki koleksi yang lengkap, musisi berbagai gennre musik dari jaman jadul hingga jaman sekarang. Setelah kulihat ternyata klaim itu gak terlalu benar. Koleksi musik lama memang ada tapi tidak lengkap2 amat. Aku yang membayangkan koleksi mereka sebanyak/sevariatif lapak2 CD/plat di jalan Surabaya Jakarta mesti kecewa. Menyamai sedikitpun tidak. Untungnya koleksi CD musik Indonesia Taurus ini lumayan. Album2 lama Dewa, Potret hampir ada semua. Mereka juga menjual VCD berlabel murah yang umumnya berisi lagu2 dangdut koplo dan karaoke.

Pulang dari MX aku menenteng CD grup baru, Komplotan, grup baru bentukan alumnus UI 80an antara lain Jubing Kristanto (yang terkenal dengan album2 solo gitarnya), Reda Gaudiamo (mantan wartawan Hai, pernah membuat proyek musik Dua Ibu yang memusikalisasikan puisi2 Sapardi Djoko Damono), dan beberapa nama lain.

Berikut lagu favoritku dari album Komplotan “Nyanyian Laut”  judulnya Buaian: Di Balik Mata. Selamat menyimak.

Komplotan – Buaian: Di Balik Mata

Presiden Gonzales dari sebuah “republik pisang” di Amerika Latin sangat tidak populer. Pada suatu hari ia bertamasya keliling ibu kota, dengan berkendaraan kuda. Ketika akan menyeberang sebuah jembatan, kuda yang dinaikinya terkejut melihat derasnya arus sungai di bawah jembatan itu. Presiden Gonzales terjatuh dari kudanya ke dalam sungai itu, dan dihanyutkan arus deras tanpa dapat ditolong oleh para pengawalnya. Namun, setelah hanyut sangat jauh, ia ditolong oleh seorang pengail ikan yang pekerjannya setiap hari mengail di tempat itu. Dengan rasa terima kasih sangat besar, ia menyatakan kepada pengail miskin itu siapa dirinya, dan betapa besarnya jasa pengail itu kepada negara, dengan menolong dirinya. Ditanyakannya kepada pengail tersebut, apa hadiah yang diinginkannya sebagal imbalan atas jasa sedemikian besar itu. Dengan kelugasan orang kecil, pengail itu menjawab: “Satu saja, Paduka. Tolong jangan ceritakan kepada siapa pun bahwa sayalah yang menolong Paduka.”

Lelucon di atas memiliki unsur-unsur ‘humor yang mengena’. Unsur surprise terdapat pada akhir cerita, karena jawaban pengail itu benar-benar di luar dugaan. Juga ada unsur sindiran halus, yang mengajukan kritik atas hal-hal yang salah dalam kehidupan, tetapi tanpa rasa kemarahan atau kepahitan hati. Keduanya merupakan kondisi psikologis terlalu intens dan emosional, sehingga kehilangan obyektivitas sikap terhadap hal yang dikritik itu sendiri. Tidak lupa tertangkap dalam cerita di atas, rasionalitas yang merupakan tali pengikat seluruh cerita. Terakhir, situasi yang ditampilkan, yaitu akal orang kecil untuk menggunakan kearifan mereka sendiri, tertangkap dengan jelas.

Buku kumpulan lelucon tentang Rusia ini menampilkan cukup banyak lelucon yang memiliki kelengkapan unsur-unsur seperti lelucon di atas. Memang tidak seluruh lelucon yang ada di dalam buku kumpulan ini baik, tetapi jumlah yang benar-benar baik sudah lebih dari cukup untuk menikmatinya sebagai kumpulan lelucon. Kenyataan ini timbul dari kenyataan tingginya rasa humor orang Rusia. Rasa humor itu juga terlihat dalam cerita berikut. Lenin meninggal tahun 1924, dan Stalin menggantikannya sebagai penguasa Rusia. Mayat Lenin, yang disemayamkan di mausoleum di Kremlin, pada suatu hari dicoba untuk dihidupkan lagi oleh para dokter. Mereka berhasil dengan percobaan itu, dan mayat Lenin dengan sempoyongan meninggalkan mausoleum, menuju ke kantor Politbiro Partai Komunis. Dimintanya semua koran yang terbit sejak kematiannya, dikuncinya dirinya di kamar kerjanya, untuk menyimak ulang perkembangan Rusia sejak ditinggalkannya selama tiga tahun itu. Ia tidak mau diganggu, hanya meminta makanan diletakkan di muka pintu ruang itu. Selama tiga hari makanan masih diambilnya, dan piring bekas makanan masih dikeluarkannya dari dalam ruang. Setelah itu tidak ada piring kotor dikeluarkan, dan makanan yang disediakan tidak diambil. Setelah beberapa hari hal itu berlangsung, diputuskan untuk mendobrak pintu ruang itu, dan melihat apa yang terjadi, karena dikhawatirkan terjadi sesuatu atas dirinya. Ternyata, Lenin tidak berada di sana. Harian-harian lama yang dimintanya berceceran memenuhi lantai, dan di meja ditinggalkannya secarik kertas, berisikan pesan tertulis berikut: REVOLUSI TELAH GAGAL. SAYA AKAN KEMBALI KE JENEWA UNTUK MEMPERSIAPKAN REVOLUSI LAGI.

Rasa humor dari sebuah masyarakat mencerminkan daya tahannya yang tinggi di hadapan semua kepahitan dan kesengsaraan. Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain. Kepahitan akibat kesengsaraan, diimbangi oleh pengetahuan nyata akan keharusan menerima kesengsaraan
tanpa patahnya semangat untuk hidup. Dengan demikian humor adalah sublimasi dari kearifan sebuah masyarakat.

Mengapakah kemampuan menertawakan diri sendiri menjadi demikian menentukan? Karena orang harus mengenal diri sendiri, sebelum mampu melihat yang aneh-aneh dalam perilaku diri sendiri itu. Lelucon berikut menunjukkan hal itu dengan nyata. Dua orang Irlandia berbincang tentang tanda apa yang ingin mereka pasang di kubur masing-rnasing setelah mati kelak. Kata Mulligan, ia ingin kuburnya nanti disiram wiski, pertanda kegemarannya yang memuncak kepada minuman keras. Dimintanya agar sang teman mau melakukan hal itu, kalau Mulligan mati lebih dahulu. Jawab temannya, “Aku bersedia, tetapi kau tidak keberatan bukan kalau wiskinya kulewatkan ginjalku dahulu?”

Watak kegemaran akan minuman keras memang sudah menjadi “ merk dagang” beberapa bangsa, termasuk bangsa Irlandia. Watak bangsa Yahudi adalah kekikiran. Citra ini memang tidak fair bagi orang Irlandia atau orang Yahudi, tetapi memang demikianlah yang sudah menjadi anggapan umum di seluruh dunia. Kisah berikut menunjukkan kekikiran orang Yahudi. Seorang Yahudi membuat minuman keras untuk dinikmati sendiri. Ketika temannya melihat hasil karya itu, dimintanya contoh sedikit, untuk dianalisa di laboratorium. Temyata, minuman itu mengandung bahaya, dapat membuat mata buta dan hanya dapat diatasi dengan operasi. Ketika disampaikan hal itu kepada si Yahudi itu, ditanyakannya berapa biaya pengobatan mata itu nantinya. Sewaktu diberi tahu biayanya dua puluh lima ribu rupiah, dijawabnya, “Biarlah kunikmati minuman itu, karena biaya membuatnya tiga puluh lima ribu rupiah. Kalau operasi juga, sudah menghemat sepuluh ribu rupiah.”

Bangsa lain yang terkenal kikir adalah orang Skot dan kepulauan Inggris. Suatu hari, seorang ibu mencari-cari orang yang menolong anaknya yang hampir tenggelam di danau sehari sebelumnya. Ketika sampai ke si penolong, orang itu menjawab agar tidak usah terlalu dipikirkan, karena sudah kewajiban manusia untuk menolong sesamanya. Jawab ibu tersebut, “Ya, tetapi topinya hilang sewaktu Anda menolong anak saya kemarin. Siapa yang harus bertanggung jawab atas kehilangan itu?”

Dari kemampuan mengenal kekurangan diri sendiri itu, lalu muncul pengertian juga akan keadaan orang lain. Seorang Skot pergi ke Laut Galilea di Israel. Oleh pemandu wisata ditawarkan untuk membawanya menyeberang dengan perahu, mengikuti garis lintas Yesus dahulu berjalan kaki di atas air. Ketika ditanyakannya biaya penyeberangan dengan perahu itu, sang pemandu wisata itu menjawab sepuluh dolar Amerika Serikat.
Gerutu orang Skot itu dalam hatinya, “Pantas Yesus memilih berjalan di atas air, biaya penyeberangannya dengan perahu semahal itu!”

Dalam episode itu tergambar rasa pengertian akan nasib sesama orang yang sering ditipu oleh para pemandu wisata. Apalagi kalau sama-sama liciknya, tentu akan lebih dalam rasa saling pengertian itu. Rasa itu dapat juga timbul bagi masyarakat sendiri, yang sering kalah di hadapan bangsa-bangsa lain. Kejadian berikut menggambarkan rasa ketidakberdayaan itu dengan tepat. Seorang sopir pada tahun enam puluhan membawa seorang turis Amerika berkeliling Jakarta. Di depan Toserba Sarinah, sang turis bertanya, berapa lama diperlukan waktu untuk mendirikan bangunan itu. Sopir itu menjawab empat tahun. Sang turis menyatakan hal itu terlalu lama dan memakan waktu, karena di Amerika Serikat hanya dua tahun. Sesampai di jalan lingkar di depan Hotel Indonesia, turis itu menanyakan berapa lama waktu mendirikan hotel tersebut. Sopir itu memendekkan waktunya dan menjawab dua tahun. Sang turis menyatakan di Amerika hanya diperlukan setahun. Ketika sampai di dekat kompleks stadion Senayan, turis itu menanyakan hal yang sama. Sopir taksi itu menjawab, tanpa memperlihatkan rasa bersalah sedikit pun, “Entahlah, Tuan, kemarin stadion itu belum ada di sini!”

Rasa pengertian itu juga muncul dari ketidakberdayaan menghadapi kenyataan. Seorang turis Amerika menyombongkan luasnya daratan negerinya, dengan menyatakan bahwa dari pantai barat di San Francisco ke New York di pantai timur, orang harus naik kereta api tiga hari lamanya. Seorang Malaysia yang mendengar itu rupanya salah mengerti dan menjawab, “Di negeri saya kereta api juga suka rusak berhari-hari seperti di negeri Anda.” Ketidakberdayaan orang Malaysia menghadapi sistem perkeretaapian di negerinya itu, rupanya, diproyeksikan kepada kenyataan lain di negeri orang. Seperti halnya anak kecil kita yang bertemu anak orang kulit putih di salah satu pasar. Anak Melayu itu berkata kepada ayahnya, “Pak, itu anak kecil-kecil kok sudah bisa berbahasa Inggris?” Bahwa hanya orang Melayu dewasa saja yang mampu berbahasa Inggris, diproyeksikan kepada anak orang asing itu oleh si anak Melayu.

Namun, humor juga mencatat hal-hal lucu ketika manusia berusaha menjadi makhluk komunikatif kepada orang lain. Seorang turis Arab mendapat tempat di meja makan yang sama sewaktu sarapan di sebuah hotel di Paris. Orang Prancis yang merasa harus menggalakkan pariwisata di negerinya itu menganggukkan kepala dan mengucapkan selamat pagi kepada turis asing itu, dengan mengatakan, “Bonjour, Monsieur.” Turis Arab itu mengira ditanya namanya, dan menjawab “Ana Abbas Hasan.” Dan mereka pun lalu bersarapan tanpa berucap apa pun. Pada siang harinya, hal yang sama terjadi ketika mereka akan makan siang. Namun, setelah menjawab dengan jawaban yang sama, turis Arab itu merasa ada sesuatu yang tidak beres. Masakan ada orang bertanya nama dua kali? Setelah makan siang, ia lalu pergi ke toko buku dan melihat pada kamus Prancis-Arab. Ternyata, ucapan “Bonjour” adalah salam bahagia untuk orang lain. Sewaktu mencari padanan jawabannya dalam bahasa Prancis, ia tidak menemukan kamus Arab-Prancis. Ia memutuskan untuk mendahului mengucapkan “Bonjour, Monsieur” ketika makan malamnya. Sewaktu hal itu dilakukannya malam harinya, ia terkejut setengah mati. Mengapa? Karena si orang Prancis meniawab dalam bahasa Arab, “Ana Abbas Hasan.” Sama-sama ingin komunikatif, tetapi tetap saja tidak komunikatif.

Humor juga merekam akibat perbuatan manusia dalam hidupnya, termasuk akibat atas dirinya sendiri. Seorang wartawan melihat seorang tua di pegunungan kuat sekali meneguk minuman keras. Ditanyakan apakah itu kegemarannya yang utama, orang tua itu menjawab, “Ya, saya minum paling sedikit dua botol vodka tiap hari, dan main cewek di mana-mana.” Sang wartawan kagum, bahwa orang tua renta dengan muka begitu keriput dan rambut begitu putih masih kuat melakukan hal itu. ”Berapa umur Bapak sekarang?” tanyanya dengan hormat. Orang itu menjawab, “Tiga puluh dua tahun.”

Humor merupakan senjata ampuh untuk memelihara kewarasan orientasi hidup sebuah masyarakat, dengan itu warga masyarakat dapat menjaga jarak dari keadaan yang dinilai tidak benar. Salah satu di antaranya adalah sikap penuh pretensi, yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan. Kecenderungan manusia untuk memperlihatkan kebodohan jika bersikap pretensius dapat dilihat pada lelucon Rusia yang tidak ada dalam buku ini. Ketika radio transistor dipakai umum di negeri-negeri Barat, seorang turis tampak membawa sebuah di suatu tempat di Moskow. Seorang Rusia mendekatinya bertanya, “Di sini juga banyak barang seperti Anda bawa ini. Apa namanya?” Pretensi selalu menampakkan wajah ketololan, apalagi kalau dilakukan dengan cara tolol pula.

Terkadang humor tentang sikap pretensius mengambil bentuk lelucon yang mengajukan kritik tajam. Bagi orang Malaysia yang jengkel dengan perusahaan penerbangan nasionalnya MAS bukan kependekan Malaysian Air System melainkan ‘Mana Ada System?’ Untuk orang Filipina, PAL bukanlah Philippine Air Lines, melainkan Plane Always Late. Dan GARUDA apakah kepanjangannya? Bagi sementara orang, ia adalah Good And Reliable, Under Dutch Administration (Bagus dan tepat, kalau diurus orang Belanda). Yang paling fatal adalah singkatan Penerbangan Mesir di zaman Nasser dahulu, UAA. Bagi kebanyakan orang, ia tidak berarti United Arab Airways, melainkan Use Another Airways (Gunakan Penerbangan Lain). Kritik lucu diarahkan kepada pretensi perusahaan- perusahaan penerbangan yang menampangkan ketepatan waktu dan baiknya pelayanan dalam iklan-iklan mereka, padahal dalam kenyataan tidakiah demikian. Seperti juga orang jengkel melihat perilaku pihak kepolisian, yang menggambarkan pasukan Sabhara sebagai elite yang penuh tanggung jawab, melayani masyarakat tanpa pandang bulu dan dengan cara yang adil. Karena kenyataannya banyak berbeda, ada orang yang memperpanjang istilah tersebut, hingga menjadi ‘Sabbharaha?’ Artinya dalam bahasa daerah Sunda: berapa? Rupanya, sudah diketahui orang ‘modus operandi’nya

Pretensi yang paling banyak terdapat adalah justru di bidang politik, karenanya tidak heran kalau kehidupan politik yang paling banyak dijadikan sasaran humor, seperti terlihat dalam buku ini. Kata seorang humoris terkenal di Amerika “Saya berhati-hati sekarang, tidak banyak menyatakan lelucon. Yang sudah-sudah kalau saya kemukakan sejumlah lelucon polilik kepada Presiden Reagan, ia akan mengangkat mereka pada jabatan penting dalam pemerintahan.”

Salah satu sasaran empuk adalah sifat egoistis para politisi. Lelucon berikut menggambarkan hal itu. Dalam perebutan calon presiden Amerika Serikat dan pihak Partai Demokrat, dalam tahun 1960, ada tiga orang calon kuat, yaitu Adlai Stevenson, Hubert Humphrey, dan Lyndon Johnson. Menurut kisah ini, ketiga mereka bertemu dalam sebuah pesta. Stevenson berkata kepada yang dua itu, “Saya tadi malam mimpi diberkati Tuhan. Rupanya, sayalah yang akan memenangkan pencalonan partai kita.” Humphrey menjawab, “Aneh, saya juga bermimpi yang sama, sehingga kans kita tampaknya sama.” Yang terhebat adalah Lyndon Johnson, yang mengatakan, “Lho, bagaimana mungkin? Saya kok tidak merasa memberkati kalian?” Lelucon yang menunjukkan besamya ego Lyndon Johnson sudah tentu diceritakan saingan terberat mereka, yang kemudian memenangkan jabatan kepresidenan, yaitu Mendiang John Fitzgerald Kennedy.

Tetapi untuk tidak terlalu menjatuhkan martabat kaum politisi, ada baiknya dikemukakan lelucon tentang kegoblokan orang dan profesi lain. Seorang pelatih bola marah karena anak asuhannya tidak naik tingkat di fakultas. Ia menyatakan dengan suara keras kepada dekan fakultas tersebut, “Kamu pilih kasih, anak sepintar dia sampai tidak naik tingkat. Kamu sentimen kepada olah raga bola.” Sang dekan menjawab, “Dia tolol sekali. Bagaimana mungkin ada mahasiswa menjawab tiga kali tiga ada sepuluh?” Sang pelatih memuncak marahnya, dengan suara semakin lantang ia berteriak, “Babi kamu, kelebihan dua angka saja sudah dijatuhkan!” Rupanya, ia mengira tiga kali tiga sama dengan delapan!

Kata pengantar ini ditutup dengan jaminan bahwa para pembaca pasti puas dengan lelucon-lelucon dari dan tentang Rusia yang ada dalam buku ini. Memang tidak sama standarnya, dan ada yang menjengkelkan tetapi kekurangan yang ada akan tertutup oleh mutiara-mutiara begitu banyak yang terserak dalam buku ini. Kalau tidak puas, tentu tidak mungkin buku ini dikembalikan kepada penerbit, dengan ganti rugi. Itu tidak lucu sama sekali. Masih lebih lucu kalau para pembaca meloakkan saja buku ini, agar tidak tertawa seorang diri karena orang lain tidak mampu membacanya, karena tidak mampu membelinya dengan harga asli. Diloakkan boleh, tetapi jangan dipinjamkan. Mengapa? Karena banyak peminjam sudah tahu peribahasa ampuh berikut: orang yang meminjamkan buku adalah orang bodoh, tetapi mengembalikan buku pinjaman adalah perbuatan orang gila.

 

Awal 1986

kami percaya kaupun terbakar juga

Koil adalah satu dari sedikit band indonesia yang memiliki fans loyal dan militan untuk tidak menyebutnya gila. Membandingkan Koil dengan Slank atau Iwan Fals tentu tidak sebanding dari sudut manapun namun menimbang kegilaan fansnya adalah hal yang berbeda. Album tribute to koil ini adalah buktinya. Berbekal kecintaan kepada band pujaannya, beberapa pemuda -antara lain Jaka Kandaga dan Vidi Nurhadi- nekad menggagas album tribute buat Koil.

Singkat kata pemuja Koil ini mengumpulkan dana, menghubungi band-band yang tertarik menyumbangkan diri untuk mengisi album itu (dengan cuma-cuma tentu saja), mengompilasi hasilnya ke dalam CD, lalu membagi-baginya gratis. Proyek ini siapapun tahu perlu banyak energi, waktu dan terutama uang, namun rupanya keterbatasa dalam hal-hal tersebut tak menjadi alasan bagi Jaka dan teman-temannya untuk mundur. Terwujudnya album ini sungguh hadiah yang menyenangkan bagi Koil, lebih2 bagi penggemar Koil di mana-mana. Saya belum pernah mendengar ada fans band Indonesia lain, fans Slank atau Iwan Fals sekalipun membuat tribute album untuk musisi idola mereka. Dengan kemunculan album ini fans Koil boleh sedikit berbangga hati.

‘Kami Percaya Kaupun Terbakar Juga’ berisi sekumpulan lagu-lagu Koil dari beberapa album yang digarap ulang. Melihat list band yang muncul di album ini membuat kening saya berkerut. Nama-nama yang asing, sedikit sekali yang saya kenali. Mungkin karena ke-kuper-an saya saja. Atau karena memang band-band itu adalah band yang baru muncul saya tak tahu. Tapi keberadaan mereka di album itu tentu punya alasan, begitu pikir saya. Dan pertanyaan saya langsung terjawab begitu saya mulai mendengar album ini.

Track ‘Burung Hantu’ menjadi lagu pembuka yang nendang, sangat asyik. Pendengar serasa langsung disergap dan mau gak mau musti ikhlas bergoyang rusuh bersama lagu ini. The Moms Berdarah dengan gaya garage-nya sukses memberi interpretasi baru pada lagu yg aslinya murung ini. Kalo ditampilkan live, saya yakin Otong-pun akan ikut jejingkrakan dan sing along. Haha.

Menyusul kemudian adalah ‘Dosa Ini Tak akan Berhenti’ yang berasal dari album Megaloblast. Midnight Soul yg dipercaya ikut mengisi album ini membayar tuntas kepercayaan itu dengan sangat ciamik: mereka mainkan salah satu lagu kebangsaan Koil ini dengan gaya rockabilly yang cantik! Kalau Anda masih asing dengan istilah rockabilly, ini adalah istilah baru hasil perkawinan rock n roll dan hillbilly (semacam musik country). Midnight Soul tampil begitu prima; vokal yg apik, irama rock n roll yang terjaga, serta sentuhan country dari harmonika yg pas dan manis. Nomor ini seketika jadi favorit saya.

Pada track berikutnya, Screaming Factor merombak ‘Ini Semua adalah Fashion’ menjadi nomor metal yang cepat, gahar dan menderu-deru. Perombakan yang mereka lakukan lumayan ekstrim. Hanya sedikit cita rasa Koil yg tersisa. Anda mungkin menyangsikan lagu ini aslinya milik Koil sampai anda tiba di bagian reffrain. Ohya, mendengarkan lagu ini beberapa kali entah kenapa tiba-tiba terlintas di kepala saya ‘Ah, bagaimana ya rasanya apabila Phil Anselmo nyanyiin lagunya Koil.’ Hehe. Oke, nomor ini saya yakin akan segera mendapat tempat di hati mereka yang menyukai musik cadas.

Selanjutnya adalah nomor klasik milik Koil ‘Lagu Hujan’ yang jatuh ke tangan Amazing in Bed. Secara musikal tak terlalu jauh dari versi asli, sayang, jadinya kurang menarik. Versi asli juga sangat menyentuh, hal mana tak saya dapatkan dalam versi baru di album ini.

Penampil selanjutnya adalah pembawa pencerahan. Adalah Lullaby for Michelle yang mengusung ‘Pudar’ dengan alunan a la post-rock yang memikat. Jiwa lagu ’Pudar’ yang ngelangut muncul utuh sepanjang lagu. Ditimpali gitar yang menerawang, vokalis grup ini bernyanyi penuh penjiwaan depresif. Penjiwaan vokalis grup ini menyamai Otong dalam lagu-lagu sedih Koil. Ini nomor favorit kedua saya di album ini.

Berturut-turut kemudian adalah Black Stone Boredom dengan ‘Nyanyikan Lagu Perang,’ Marianna de Bastard dengan ‘Karat’ dan Monsternaut dengan ‘Tidak Berarti’. Black Stone saya kira berjudi dengan memilih lagu itu mengingat itu adalah lagu Koil yg relatif masih baru. Orang akan langsung membandingkan versi baru ini dengan versi Koil. Dan begitu yang mereka dengar tidak sebaik versi asli, nilainya langsung jatuh. Dan sedikit catatan buat vokalisnya, menyesuaikan diri dengan tempo yg cukup cepat, ia bernyanyi seperti tercekik. Apakah stylenya memang demikian atau karena apa, namun secara umum cara bernyanyinya cukup mengganggu di telinga.

Marianne de Bastard bermain di wilayah aman dan membawakan ‘Karat’dengan cukup ‘sopan’. Hampir tak ada tafsir baru terhadap lagu lama Koil ini. Mungkin grup ini bisa lebih pol dengan lagu Koil lain.

Di track nomor sepuluh kita akan mendapati nomor yang mengasyikkan dari Monsternaut. Di tangan band stoner ini ‘Tidak Berarti’ seolah mendapat ruh baru sehingga ia menjadi lebih hidup dan lebih bisa dinikmati.

Sebuah album yang baik biasanya solid dari awal hingga akhir. Agak berat hati, saya kira beberapa lagu terakhir dalam ‘Kami Percaya..’ ini menjadi titik lemah album ini. Pertama, saya tak habis pikir bagaimana bisa lagu yang sama (Mendekati Surga) muncul dua kali, sama-sama versi remix pula. Mestinya produser bisa mengorganisir agar Psickot maupun M1D1D4Ta menggarap lagu yang berbeda. Stok lagu Koil cukup banyak untuk dikulik dan dinyanyikan kembali. Kalaupun sudah terlanjur rekaman alangkah baiknya kalau yang dimunculkan di album ini cukup satu saja.

Kedua, dua grup lainnya, yakni A Slow in Dance dan Aneka Digital Safari merekonstruksi lagu Koil dengan begitu ekstrim hingga hampir-hampir tak menyisakan elemen Koil di lagunya. A Slow in Dance memainkan ‘Aku Lupa Aku Luka’ dalam bentuk post-rock berdurasi delapan setengah menit, dengan vokal minimalis. Meski harus diakui bahwa instrumentasi mereka cukup bisa dinikmati namun lagu ini alpa menunjukkan unsur Koil.

Sementara itu ‘Semoga Kau Sembuh’ yang dahsyat itu sukses dihancurkan oleh Aneka Digital Safari menjadi (sekadar?) olahan suara-suara noise yang memekakkan telinga. Barangkali telinga saya saja yang lemah, atau selera musik saya saja yang payah, namun berulang-ulang saya memutarnya, impresi saya tidak berubah. Hanya ada kebisingan di sana.

Pada akhirnya saya berkesimpulan  bahwa album tribute ini cukup menyenangkan. Angkat topi untuk penggagas dan para pengisi yang mewujudkan album ini. Kita jadi tahu bahwa Koil (beserta musik dan aspek-aspek lain yang melekat di band ini) ternyata membawa pengaruh yang tak bisa diremehkan. Ia menembus sekat-sekat usia, genre musik dan wilayah geografis. Dan menyimak band-band di album ini saya jadi yakin bahwa banyak band bagus di negeri ini apapun genrenya. Kalau mau konsisten dan kerja keras seperti Koil saya tak akan terlalu terkejut kalo kelak salah satu band di album ini mengemuka dalam percaturan musik Indonesia. Waktu yang akan menjawabnya.

 

Kami Percaya – Koil Tribute